Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Mo (bagian 4)

"Aku pengin naik bianglala."

Itulah yang dikatakan Mo pagi ini, ketika kami berjalan menuju halte bus, dia untuk berangkat ke tempat pemotretan untuk iklan perhiasan, aku untuk mengantar portfolio ke kantor seorang calon klien.

"Bianglala?"

"Muter-muter, taman bermain, bulet," jawabnya sekenanya.

"Iya, tahu."

"Pergi, ya?"

Aku menatapnya. Gadis ini punya seribu satu keinginan-keinginan aneh yang tak terduga pada saat-saat ganjil. Baru minggu lalu dia tiba-tiba datang ke tempat kosku untuk makan sepiring martabak Ovomaltine yang harganya delapan puluh ribu sekotak. Sebelumnya dia datang ingin meminjam kaset rock metal yang tak kupunyai, atau tiba-tiba ingin menonton film Titanic untuk kesekian kalinya.

Seperti orang mengidam.

"Kamu lagi hamil, ya?"

Dia melotot. "Hus! Atau mungkin iya, ya. Hamil banyak impian..."

Maka, jadilah kami naik bianglala sore itu.

**

"Naik bianglala sebelum matahari terbenam itu paling bagus," katanya. Hidungnya menempel pada kaca jendela, tak lepas selagi kotak kecil yang mengangkut kami berputar seratus delapan puluh derajat, lambat tetapi mampu membuat hatiku melonjak tak karuan. Aku tak pernah suka ketinggian.

"Bentar lagi kan, taman bermain tutup."

"Justru itu bagusnya. Kita bisa liat keluarga yang berbondong-bondong keluar, setelah puas main seharian. Bikin aku kangen sama masa kecil. Kebahagiaan sederhana itu yang paling indah, ya kan?"

Telapak tangannya menekan kaca, membuatku gugup karena dia terus-menerus bergerak gelisah.

"Kamu nggak menikmati ini semua, ya?" Dia berpaling dan tersenyum lebar kepadaku. "Kurasa kamu bukan orang yang terlalu romantis."

Aku tidak suka berada beberapa kaki di atas tanah, dibawa bergerak naik turun tanpa kepastian kapan semua ini akan berakhir. Tetapi melihat gerak-geriknya yang lucu membuatku sedikit lebih baik.

"Yah, aku orang yang praktis."

"Kalau nggak suka ketinggian, kenapa  kamu setuju?"

Kenapa aku setuju memboncengnya beli martabak malam-malam, kenapa aku setuju mengantri satu jam demi semangkuk soto yang rasanya biasa saja, kenapa aku setuju menggedor kamar tetangga untuk meminjam kaset band metal. Semuanya demi Mo.

"Kurasa, aku rela melakukan banyak hal demi kamu. Kita teman, kan?"

Senyumnya luar biasa cerah waktu itu. Rasanya semua ini sedikit banyak terbayarkan.

**

Ketukan pintu kian keras. Aku membenamkan kepala yang sedari tadi terasa layaknya habis dihantam gada dalam-dalam di bawah bantal.

"Ini aku!" Dia berteriak, membuatku menyingkirkan bantal barang sejenak.

Mo?

"Kamu tahu alamatku dari mana?"

Dia nyengir, melihat kondisiku yang masih berbalutkan kaus tidur dua hari yang lalu, rambut tornado, dan muka merah yang bergantian dengan pucat. Tanpa banyak omong, ditempelkannya punggung lengan pada dahiku, lalu dahinya sendiri, dan kembali ke dahiku.

"Toko buku. Kamu demam."

"Empat puluh derajat Celcius, sudah dua hari."

"Sudah ke dokter?"

Aku menggeleng. Lalu dia menggelengkan kepala juga, saat menemukan strip-strip obat yang setengah termakan di atas meja. Aspirin dan obat flu bercampur menjadi satu.

"Tidur," perintahnya.

Aku tak perlu disuruh dua kali, dan langsung merayap ke balik selimut. "Buku dan komik ada di sebelah sana. Kau bebas mengacak-acak selama mengembalikannya ke tempat semula."

Dia menggumam tak jelas, dan sebelum aku berpikir lebih jauh tentang kehadiran perempuan pertama dalam kamar kosku selama tiga tahun terakhir ini, aku sudah jatuh tertidur.

**

Aroma harum. Bawang, dan sesuatu yang agak pedas.

Aku membuka mata, dan menangkap siluet seseorang dalam rok midi merah tua, sweter cokelat dan bertelanjang kaki.

Dia belum pergi.

"Mo?"

Mo menoleh, tersenyum riang sembari membawakan dua mangkuk berisi sesuatu yang kental dan harum itu.

"Makanlah."

Di luar sudah gelap. "Kamu nggak pulang?"

Dia menggeleng. "Kamu sakit," jawabnya, seolah itu adalah alasan. Padahal bukan.

"Pulanglah. Sudah malam. Aku baik-baik saja."

Lagi, dia menempelkan tangan di keningku. "Panasnya belum turun, obatmu mungkin nggak cocok. Makanlah yang ini setelah perut terisi."

Di atas meja telah tersaji segelas air hangat dan strip baru berisi obat yang tak kukenal namanya, serta sebotol obat cair yang tampak seperti obat batuk. Entah kapan dia keluar untuk membelinya. Kamar kosku pun tampaknya lebih rapi, berbau lemon ketimbang kaus kotor yang belum sempat dicuci dan menumpuk di balik pintu.

"Bubur?" Aku mengendus dari tempat tidurku. Ketika kulihat isinya, potongan wortel dan kentang tenggelam di dalam kuah kecokelatan yang kental. Aroma yang tadi kucium datang dari bawang bombay yang ditumis nyaris gosong, bercampur dengan potongan daging.

"Orang sakit butuh energi dan makanan enak," katanya, "bukan beras cair nggak bertekstur yang nggak menimbulkan nafsu makan. Beef stew buatanku lumayan, lho. Resepnya sudah ada dalam keluargaku turun-temurun."

Aku mencoba sesendok dengan tentatif. Rasa gurih kaldu sapi yang direbus lama bersama sayuran lumer di lidah. Setelah bermangkuk-mangkuk mi instan dan tidur dengan perut kembung, masakan Mo ini membuatku tak ingin berhenti makan.

"Terima kasih."

Dia hanya tersenyum kecil.

Mengantri soto dan martabak malam-malam. Naik bianglala di sore hari. Dan hari ini, dia telah membayarnya dengan kehadirannya, serta semangkuk beef stew yang membuatku hangat luar dalam.

**


Senin, 02 Juni 2014

Mo (bagian 3)

Setiap pagi, Mo merebus sebutir telur. Hard boiled, selama kurang lebih sepuluh menit, hingga rangka telur mengeras, diikuti dengan putih telur yang lembut, lalu pusat kuning kemerahan yang lengket itu.

"Aku melakukannya setiap hari, tanpa absen. Kemudian, aku membiarkannya mendingin di panci. Sebelum berangkat, aku mengupas kulitnya pelan-pelan, dan memakannya bulat-bulat."

"Itu aneh, Mo."

Aku berdiri di tengah-tengah dapurnya, menyaksikan gadis alien itu merebus telur kesekiannya. Tiba-tiba rasa penasaran menerpa.

"Itu telur keberapa?"

"Dua ratus tujuh puluh satu," jawabnya mantap, sambil nyengir ke arahku. "Kecuali beberapa yang pecah dan tak termakan pada awalnya. Merebus telur, seperti hidup, butuh pengalaman."

Aku sudah terlalu terbiasa dengan filosofi-filosofi janggalnya, sehingga tak lagi menanggapi.

Apartemen mungilnya terletak di pinggir kota, di sebuah bangunan tua yang tampaknya akan runtuh, tapi ternyata cukup kokoh, dilihat dari plafonnya yang masih padat dan tak bocor di sana-sini, lantainya yang tak berderak seiring dengan pijakan, dan dindingnya yang tebal. Rumah Mo, di sisi lain, adalah sesuatu yang tak terduga.

Sejujurnya, aku tak tahu apa yang kuharapkan. Apakah ruangan studio kecil dengan barang-barang unik dari pasar loak yang melengkapi koleksinya. Entah rumah super bersih yang menunjukkan sisi higienis yang tak terlihat. Aku tak tahu. Sungguh, aku tak dapat menebak Mo.

Tapi, yang kudapati pada pandangan pertama adalah ruangan yang hampir kosong. Telanjang, tanpa karpet rajut warna-warni di atas lantai, tanpa buku-buku yang berserakan, tanpa bantal empuk yang beradu warna di atas sofa kulit usang. Tidak ada aroma makanan maupun wewangian ruangan. Tidak ada bingkai-bingkai foto atau lukisan antik. Tidak ada apa pun di sana.

"Kamu hendak pindah?" Itulah respons pertamaku, yang disambutnya dengan gelengan.

"Aku suka segala sesuatunya sederhana," hanya itu jawabannya.

"Kurasa, kamu cuma takut terlalu terikat pada sesuatu." Atau orang. Atau benda mati. Atau hubungan. Apakah pertemanan kami - jika bisa disebut demikian - juga termasuk dalam ikatan yang dihindarinya?

Dia menatapku, sejurus kemudian tertawa. Mengambil panci, mengisinya dengan air, dan memasukkan sebutir telur berkulit mulus begitu airnya mendidih. "Berhentilah menilai segala sesuatu dari pandangan pertama."

"Tapi biasanya aku benar."

"Mungkin," jawabnya, cryptic.

Dan selanjutnya, kami duduk di tengah-tengah dapur mininya, di atas kursi plastik merah jambu yang tak sesuai dengan meja kuningnya, menikmati sebutir telur rebus yang terlalu matang. Lebih tepatnya, dia yang makan. Aku duduk melingkarkan jemari di sekeliling gelas usang bercap ayam di permukaannya, yang penuh-penuh diisi kopi panas.

"Aku melakukan ini sejak dia meninggalkanku," ujar Mo, mulutnya penuh oleh telur yang belum dikunyah. Ini. Aku menunggu penjelasannya, dan hal itu datang lebih cepat dari perkiraanku. "Dia seorang fotografer. Majalah-majalah internasional. Fauna, flora. Tapi, akhir-akhir ini dia tertarik pada peperangan."

Ah. Fotografer perang, rupanya.

"Akhir tahun lalu, dia sempat menghilang beberapa bulan lamanya. Kukira dia mati, jadi korban perang tak disengaja, apalah. Aku mencoba mencarinya ke sana kemari. Beberapa lama kemudian, fotonya masuk majalah Amerika. Dia memenangkan penghargaan." Mo bangkit, meraih segulung majalah dari dalam sebuah lemari berpintu dua, dan mengempaskannya di atas meja. Majalah itu sudah tergulung-gulung di ujung, seperti sudah lama diteliti dan dilihat. Salah satu fiturnya adalah tentang foto seorang gadis kecil - usianya mungkin tak lebih dari sebelas tahun, dengan baju compang-camping, telanjang kaki, dan tulang belulang yang tampak mencolok dari balik kain yang menyelimuti dirinya. Tatapan matanya hampa. Rambutnya awut-awutan. Mukanya cemong. Dia terlihat seperti anak kucing kelaparan.

Tanpa perlu bertanya, aku menyimpulkan dua hal. Satu, mantan pacar Mo sungguh berbakat. Dia dapat mengambil sudut yang tepat untuk menangkap keputusasaan dalam ekspresi objek fotonya. Kedua, Mo belum mampu melupakannya.

"Malam itu, dia pulang untuk mengambil barang-barangnya. Beberapa buku seni, pakaian lama, hal-hal yang tidak lagi dia butuhkan," sambung Mo, telurnya hampir habis. "Kurasa, dia datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukan untuk barang-barang itu. Itu hanya alasan." Dia tertawa getir, sesuatu yang tak pernah kudengar keluar dari mulutnya - suara yang aneh, dan kosong.

Kami terdiam. Yang terdengar hanya denting sendokku di bibir cangkir.

"Kau tahu hal bodoh yang masih kulakukan? Merebus telur ini, hari demi hari, hanya karena dia tidak bisa berfungsi tanpa sebutir telur rebus matang setiap paginya. Aku dulu membencinya - harus bangun pagi untuk memasak telur, bergegas ke mini market terdekat kalau stoknya habis, dan mengupas kulitnya satu demi satu, seperti orang tolol saja. Sungguh buang-buang waktu."

Tapi?

"Tapi aku melakukannya setiap hari, bahkan setelah dia pergi. Ini rutinitas, dan lama-lama justru aku yang tak bisa berfungsi tanpa telur rebus sialan ini. Padahal aku membencinya. MEMBENCINYA. Telur berbau tengik yang terlalu keras, terlalu memuakkan. Setiap orang seharusnya memakan telur mereka setengah matang - di situlah letak tantangannya." Dia berceloteh tentang jumlah menit untuk mencapai hasil sempurna - tiga setengah menit - dan taburan garam serta lada, juga tekstur telur yang disukainya. Apa pun kecuali telur matang yang dicintai fotografer itu.

"Mo...."

"Tapi cukup sudah." Dia membanting sendoknya di atas meja, yang terpelanting jatuh ke lantai, tepat di samping kakiku. Bulir-bulir kuning telur berserakan di lantai. Mo bergerak menuju tong sampah, dan dengan satu gerakan cepat, membuang sisa sarapannya ke dalam plastik sampah. Punggungnya berguncang selagi dia membelakangiku, kepalanya naik dan turun dalam gerakan samar seolah sedang menangis. Aku kebingungan di tempat dudukku, tak lagi berniat menyeruput kopi yang juga sudah dingin.

Kemudian, dia berbalik. Di wajahnya terdapat sebuah ekspresi yang sangat bertolak belakang. Damai. Dia tersenyum kepadaku, senyum yang kukenal selama beberapa bulan belakangan.

"Mulai besok, aku akan memasak telur setengah matang."

Belum sempat aku menyadari maksud perkataannya, dia tertawa. "Kau mau melakukannya bersamaku?"

Aku sudah tahu jawabannya selagi aku membalas senyumnya.

"Ya."

**


Senin, 19 Mei 2014

Mo (bagian 2)

Hari itu, kami pergi ke tempat selain kedai buku tua di pinggir jalan.

Hari itu, kami kehujanan.

Mo menyambar tanganku yang terbungkus jaket hitam – jaket lusuh almamaterku, lalu menarikku mengikuti langkahnya yang tergesa. “Cepat!” desisnya, dan sambil menangkupi kepala dengan kedua tangan, kami berdua berlari mencari tempat berteduh.

Padahal, kami bisa saja memasuki kedai buku tua, yang hanya beberapa langkah menuju arah yang berlawanan. Padahal, kami bisa saja berdiri menunggu hujan reda dari balik genting warung yang separuh kosong di tikungan jalan.

Tetapi, Mo membawaku menuju halte bus, dan ketika menemukan satu bus yang kebetulan lewat, tanpa banyak omong ia mengajakku masuk. Kami berdua berdesakan menuju dua kursi kosong di belakang, dan sambil mengibaskan pakaian serta tas yang basah, dia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.

“Kita mau ke mana?”

Dia mengangkat bahu. Ternyata, dia juga tak sempat melihat jurusan yang tertulis di punggung bus. “Bukankah ada sesuatu yang menyenangkan dari bepergian tanpa tahu harus ke mana?”

Antusiasmenya mau tak mau menular padaku, membuat pundakku rileks. Aku menyandarkan badan pada kursi. “Yaah... aku hanya nggak suka perasaan tersesat.” Tersesat di jalan saat sedang mengantar dokumen penting untuk klien, nyasar saat mencari alamat teman lama yang mendadak ingin mengembalikan barang, perasaan kacau yang timbul kala kebingungan. Tersesat dalam hidup adalah pengalaman yang serupa.

“Setiap petualangan hebat dimulai dari tersesat, lho,” sambungnya riang. Dia menawarkan selembar tisu yang sudah hampir seluruhnya basah, namun aku menerimanya tanpa banyak komentar. “Aku menemukan toko buku kita pun karena tersesat.”

Toko buku kita. Aneh, untuk dua orang yang hampir tak saling mengenal, tak berbagi apa pun kecuali sebuah tempat kecil di tepi jalan. Tapi aku menyukai penggunaan kata kita dalam kalimatnya. Rasanya seperti mempunyai rahasia.

“Oh, ya?”

Dia mengangguk. “Aku salah menaiki bus. Dibawa keliling Jakarta. Uang kecilku habis untuk pengamen yang tak henti-hentinya menyanyikan lagu kesukaanku.” Dia terkekeh. “Dan aku berhenti di pinggir jalan itu, nggak sengaja tertarik dengan buku-buku yang dipajang di depan toko. Buku pertama yang kubeli di sana adalah The Wind-Up Bird Chronicle. Judulnya aneh, untuk buku yang aneh juga.”

Semua ini aneh, aku ingin menambahkan.

“Mo?”

“Ya?” Dia menjawab tanpa menoleh, asyik menatap guliran gerimis di permukaan kaca jendela yang kotor.

“Kamu pernah merasa sedih?” Sedih yang benar-benar sedih, seperti ditonjok dan kaurasakan pukulan itu sampai ke ulu hati. Rasa yang tak kunjung punah, berlama-lama sampai kau terbiasa hidup dengan pahit itu.

Dia malah tertawa, mengkontradiksi jawabannya sendiri. “Tentu saja pernah.”

“Benar?”

Seseorang pernah berkata padaku, ia membenci orang-orang yang selalu tampak bahagia. Orang-orang yang selalu berkata, semuanya akan baik-baik saja! Jangan khawatir! Teruslah berharap! Menurutnya, orang-orang itu hipokrit. Mengapa harus tertawa saat merasakan sakit? Mengapa tidak melengos, membuang muka, memasang tampang kesal, seperti seharusnya?

Saat itu, aku tak punya jawabannya.

Tapi Mo punya.

Dia kini termenung, memainkan ujung jemarinya pada kiasan embun, membentuk uliran yang tak kupahami. Lama dia melakukannya, sampai bus tiba-tiba berhenti dan sopirnya memaki dengan kata-kata kotor.

“Sedih itu ya, sama saja seperti perasaan yang lain. Lama atau tidaknya ia tinggal, tergantung pilihan kita.”

Aku menoleh, menatapnya yang kini sibuk mendekap tas di pangkuannya erat-erat dengan pandangan menerawang.

“Sedih buat setiap orang juga beda-beda, iya kan? Sedih versiku adalah menenggelamkan diri dalam film komedi demi film komedi, bukannya tertawa malah tersedu-sedu. Makan mi instan berhari-hari, hidup dalam timbunan sampah karena terlalu malas untuk bergerak. Tapi lalu ada jenis-jenis sedih yang lain. Jenis sedih yang muncul saat melewati padang bunga matahari, begitu indahnya sampai terharu, tapi ada sebersit sedih di balik bahagia itu. Melihat pelangi pertama sehabis hujan berkepanjangan di bulan Desember, tapi berharap dapat berbaginya dengan seseorang yang tidak ada di sana. Tertidur nyenyak setelah seharian bekerja keras, tapi terbangun dan merasa ada sesuatu yang hilang. Begitu setiap hari, kebahagiaan yang bercampur dengan rasa itu, apa pun yang kauperbuat.”

Aku termenung, memikirkan jawabannya. Mungkin aku salah. Mungkin dia mengerti – hanya saja, jenis kesedihan yang lain.

“Kamu sendiri, pasti punya kesedihanmu sendiri, bukan?” Dia bertanya dengan kerlingan penuh pengertian dalam binar matanya.

Untuk sesaat, yang dapat kulakukan hanya menatapnya, hati-hati agar wajahku tak menampakkan emosi apa pun, namun kutahu usaha itu gagal tanpa ampun. Mo sepertinya dapat memahami setiap pikiran yang terbersit, karena senyumnya memudar, dan di dalam bus itu, di dua tempat duduk di sudut, di tengah hujan dan pikiran kami sendiri, dia menyentuh tanganku.

Sejurus kemudian, mendadak bus berhenti dan kenek meneriakkan nama perhentian terakhir, dan momen itu lepas begitu saja.

**


Jumat, 11 April 2014

Mo (bagian 1)

Nama perempuan itu Mo.

Kami bertemu di depan sebuah toko buku bekas di dekat rumahku, yang kebetulan juga sejalan ke tempat kosnya. Toko buku itu persisnya bukan sebuah gerai yang menjual buku; malah menurutku lebih persis seperti rumah tinggal sempit berlantai dua, dengan lantai dasar yang dijejali penuh dengan buku, menumpuk di lantai, teras rumah, dan pekarangan tempat sebuah motor usang terparkir. Tamu-tamu yang lewat dapat mencomot sebuah buku yang menarik perhatian begitu saja, kemudian membawanya pulang, dan kembali dengan dua pilihan – membayar dengan harga yang dianggap wajar jika ingin menyimpan temuan mereka, atau mengembalikannya jika tidak puas. Semudah itu. Pada umumnya, buku-buku mengumpulkan debu, atau hanya dibolak-balik pejalan kaki yang iseng dan penasaran.

Buatku sendiri, toko buku itu adalah surga dunia. Aku seringkali menemukan jilid-jilid langka, dijadikan alas gelas atau tempat tidur siang kucing ras kampung milik pemiliknya, Pak Danu. Biasanya aku membayar seadanya, berapa lembar rupiah pun yang kumiliki dalam dompet. Tapi biasanya, Pak Danu cukup bermurah hati untuk menghadiahkannya kepadaku. Buat satu-satunya pelanggan tetap, katanya.

Tapi, akhir-akhir ini tambah satu pelanggan tetap di toko mungil itu. Perempuan yang kerap kali bercelana pendek sobek-sobek, kaus lusuh dan rambut acak-acakan yang tertutup topi baseball merah. Dia lewat setiap sore. Gemerincing gelang kakinya yang riuh selalu membuat kucing Pak Danu mengangkat sebelah telinga sebelum kembali mendengkur halus. Suaranya yang cempreng membuat kucing itu bangkit, menjilati tubuh, dan berlari keluar. Mo akan menghabiskan waktu membaca di ‘rumah baca gratis’ sampai malam, lalu pulang. Begitu setiap hari.

Ketika ditanya kenapa tidak membawa buku-buku pilihannya pulang saja seperti orang-orang lain, dia hanya tersenyum sumringah, memperlihatkan kedua gigi depannya yang besar-besar dan memiliki rongga kosong di tengah. “Nggak. Enakan baca di sini,” kilahnya. Padahal, tempat itu tak ber-AC, apalagi berkipas. Duduk setengah jam di sana cukup membuatku mengipasi diri karena gerah, dan rela bertahan hanya demi kecintaanku pada buku, terutama buku-buku gratis.

Jadilah, dia dan aku berbagi ruang sempit di rumah Pak Danu. Hanya sepetak tanah, dengan ribuan buku-buku tua, dan dua sosok orang yang seringkali tak sengaja berhimpitan, atau bersenggol lengan. Biasanya dia terlalu asyik dalam bacaannya untuk meminta maaf, atau mendongak. Hanya suatu kali, ketika ponselku tiba-tiba berdering di sela sunyi dan derik jangkrik malam, baru dia mengangkat kepala, terlihat seolah baru tersadar dari mimpi manis.

Aku menjawab panggilan dengan terburu-buru, merasa terusik sekaligus tak nyaman karena diamatinya sedemikian rupa. Kurasa mungkin itulah kali pertama dia benar-benar memperhatikanku, orang yang berbagi ruang bersamanya selama berminggu-minggu. Padahal, aku sudah sering terang-terangan memelototinya karena acap kali membaca apa pun yang ada di tangannya keras-keras, atau terbahak ketika melewati paragraf yang lucu.

Saat aku menutup telepon, Mo tersenyum kecil. “Pacarmu, ya?”

Eh. Dia pasti mendengar teriakan wanita itu di telingaku. KAPAN PULANG??! Ibuku memang suka membesar-besarkan masalah.

Aku menggeleng, singkat. Pun tak berniat mengelaborasi gestur itu. Bukannya membaca gerak-gerikku, dia malah mengulurkan sebelah tangan untuk mengangkat buku yang kupegang.

“Heh, kamu baca Mitch Albom?”

Aku menarik bukuku menjauh, tersinggung. “Bukannya semua orang baca Mitch Albom?” Karya terbarunya tentang waktu adalah novelisasi pelajaran hidup yang berharga. Sama seperti The Gift karya Cecilia Ahern, yang sayangnya lebih sering dikategorikan sebagai chicklit ketimbang buku inspirasional yang sensasional.

Kembali ke Mo. Dia mengangkat bahu. “Aku enggak.” Kenapa? “Terlalu berteori. Padahal, hidup nggak ada teorinya, kan?”

“Justru dia berbagi pengalaman, supaya orang lain punya pencerahan yang sama.”

Dia mengerutkan hidung, tak setuju. “Pengalaman hidup setiap orang nggak akan pernah sama, apa pun topiknya. Itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari orang lain, apalagi buku. Kita harus melewatinya sendiri, baru bisa mempelajari maknanya.”

Entah bagaimana, diskusi kami berlanjut hingga ke warung bakso di depan toko Pak Danu. Di sela-sela seruputan kuah dan suapan baksonya, Mo masih sempat berargumen tentang petuah dalam buku versus pengalaman pribadi yang (menurutnya) tak terkalahkan. Baginya, membaca buku adalah sesuatu yang menyenangkan, hiburan, bukan untuk mendapat pencerahan.

Debat itu berlangsung empat puluh menit dan empat teh botol dingin kemudian. Dia lebih banyak tertawa dari orang-orang yang kukenal. Ketika tertawa, kepalanya terdorong ke belakang dan suaranya membahana, tanpa kendali dan semu malu yang biasa menyertai tindakan lepas kontrol. Dia melakukannya lagi dan lagi, tanpa merasa perlu untuk meminta maaf. Lucunya, ada sesuatu yang membuatku turut tersenyum saat menyaksikannya.

Dia seorang model. “Bukan model fashion yang di majalah-majalah gitu,” sanggahnya. “Tapi model tangan, kaki, rambut. Apa pun yang bisa dimodelin.” Dia terkekeh lagi. Kalau diperhatikan, bagian-bagian tubuhnya memang proporsional. Jemarinya lentik, seperti milik pianis terlatih. Kakinya cukup panjang, meskipun tubuhnya kecil. Lehernya pun jenjang, seperti seorang balerina. Wajahnya oval, dengan lesung pipit samar di ujung kedua sudut bibir, mata yang ekspresif, dan kulit cerah. Rambutnya sering berganti model dan warna – sesuai pekerjaannya.

Malam itu, kami bertolak ke arah yang berlawanan, dan kali ini mengakhiri pertemuan dengan ucapan sampai ketemu lagi.

**

Jumat, 18 Mei 2012

Sneak Peek novel Truth or Dare: an excerpt from the book


Guys! Here's an excerpt from the upcoming novel Truth or Dare by me and Yoana Dianika :) enjoy! Bukunya sendiri akan terbit akhir Mei 2012. Hope you love it, fingers crossed.


Sepulang sekolah, kami menyusuri pantai seperti biasa, menggiring sepeda dan berjalan lambat-lambat sambil menikmati semilir angin permulaan musim dingin yang sejuk. Laut selalu terlihat lebih gelap di musim dingin. Cat tak banyak bicara sejak tadi dan lebih sering larut dalam pikirannya sendiri, which is so unlike her.

Tiba-tiba dia angkat bicara, “Al, I’m sorry.”

Aku berhenti, tidak mengerti apa maksudnya. “Untuk apa?”

Akhirnya, Cat mengangkat muka. Ia menghela nafas sekali. “Belakangan ini, aku merasa sangat aneh. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi aku nggak tahu dari mana harus memulai. Kau mengerti maksudku, kan? Jadi, maaf kalau aku terkesan menjauhimu. Aku nggak bermaksud begitu.”

Aku tahu inilah caranya mengatakan dia merindukanku. Aku tersenyum, tersentuh mendengar pengakuannya.

“Hei Cat,” aku berkata lirih, ”is there something else you aren’t telling me?”

Dia tak segera menjawab. Aku dapat melihat dilema dalam ekspresinya; di satu sisi, dia tampak ingin menumpahkan segalanya padaku, di sisi lain dia sepertinya berusaha sebisa mungkin untuk menahan apa pun itu yang ada dalam pikirannya.

“Ayolah, aku kan sahabatmu,” aku bergurau, berusaha meringankan suasana. “Aku sudah pernah melihatmu menari dengan gaya konyol, juga mengeluarkan permen dari hidung.” Itu benar, Cat pernah melakukannya dan membuatku bersumpah untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Seulas senyum kecil muncul di wajah Cat.

Aku memutuskan untuk menebak lagi. “Ini tentang Julian, kan?”

Aku tahu, lambat-laun subjek ini akan muncul dalam percakapan kami. Aku pun tahu, Cat dan Julian punya perasaan khusus untuk satu sama lain. Sejujurnya, aku bahkan sudah merasakannya sejak pertama kali kami bertemu di kelas Sejarah, sejak detik pertama dia menarik kursi untuk duduk bersama kami, dan pandangan mata mereka bertaut. Aku tahu perasaan Cat saat dia menanyakan pendapatku mengenai Julian, dan bagaimana perasaannya terbalas saat Julian masuk ke toko rental video sambil membawa es krim kesukaan Cat. Dan perasaan itu semakin jelas dari hari ke hari; aku dapat melihatnya dari cara mereka berinteraksi, saat mereka tertawa seolah hanya mereka berdua yang berbagi momen tersebut, tanpa aku di dalamnya.

Aku mungkin naif, tapi aku tidak pernah menyangkal chemistry di antara Cat dan Julian. They belong together. Dan aku sadar, lebih dari apa pun, apa tepatnya yang membuat mereka tetap menjaga jarak. Mereka memikirkan aku, dan tanpa dipungkiri lagi, akulah yang memang sudah berdiri di antara mereka sejak awal.

“Cat, kamu masih ingat cerita mengenai si kakek yang enggan memotong dahan pohon jeruk?”

Cerita ini sering dikisahkan oleh Pastor Stevens saat kami kecil. Seorang kakek yang menanam pohon jeruk di kebunnya bersikeras membiarkan pohonnya terus tumbuh, tanpa memotong dahan dan dedaunan yang mulai rimbun. Menurutnya, dengan demikian pohonnya akan terus berbuah, sedangkan memotongnya akan membuat penantiannya lebih lama. Padahal, dahan yang berlebihan justru akan menghambat pertumbuhan pohon, dan pada akhirnya membuatnya mati. Don’t ever miss the bigger picture, Pastor Stevens selalu berkata. Jangan karena takut akan sesuatu, kita tidak jadi meraih apa yang penting. Sampai sekarang, cerita itu masih membekas di benakku.

Cat menyelipkan sehelai rambut di balik telinganya, kembali tersenyum kecil. “Yeah, aku ingat. Tapi Al, aku masih belum yakin. I mean, is this even real? Perasaan ingin menyentuh seseorang, ingin selalu bersamanya, detak jantung yang mendadak nggak beraturan saat dia ada di dekatmu.. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya, dan aku hanya ingin memastikan semuanya nyata sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh.”

“Jatuh cinta itu nggak bodoh, Cat.”

Kali ini, ekspresi Cat berubah. “Jatuh cinta?” ulangnya, tak yakin.

Aku tertawa. “Iya, rasa yang kau jelaskan barusan. Untuk seseorang yang sangat pintar, hari ini kau sungguh bodoh,” godaku. Dia memukul lenganku main-main, tapi ikut terkekeh.

“Sejak kapan kau jadi bijaksana begini, eh?”

“Aku mungkin bodoh, tapi nggak sedangkal itu,” balasku. “Sebenarnya, apa sih yang kau takutkan?”

Dia menghela nafas. “I don’t know, Al. Aku nggak mau kami berhenti berteman hanya karena perasaan-perasaan sesaat. Aku juga nggak mau kau merasa risih, lalu menjauhi kami.”

Tell me something. Kamu menyukai Julian, kan?” Aku menunggu responnya, melihat Cat berusaha memahami emosi-emosi dalam dirinya, mencari satu jawaban yang dapat menjelaskan perasaan yang ada dalam hatinya. Untuk sekali ini, aku membutuhkan jawaban yang jujur darinya.

Setelah terdiam cukup lama, Cat akhirnya menjawab, “Aku sangat menyukainya.”

Aku tersenyum, walau kurasakan air mata mulai menggenang di sudut-sudut mataku. Aku harus melakukan ini untuk Cat, dan untuk diriku sendiri. Aku harus melakukannya sebelum terlambat, sebelum aku menyesalinya, sebelum aku kehilangan keberanian.

“Cat. Truth or dare?”

Untuk sesaat dia terlihat bingung, tapi kemudian dia mengerti dan menjawab mantap, “Dare.”

Tanpa melepaskan pandangan dari wajahnya, aku memintanya melakukan sesuatu. “Temui Julian, dan beritahu dia tentang perasaanmu yang sesungguhnya.” Please, Cat. Jangan sesali ini.

Dia memandangku lama, seolah sedang mencari sesuatu dalam diriku yang masih membuatnya ragu. “Are you really okay with this, Al? Karena aku nggak akan melakukannya kalau kau nggak baik-baik saja.”

Aku menyayangi Julian, but I love you more, Cat. Always have, always will. Karena itulah aku mengangguk, memberikan jawaban yang dibutuhkannya. Cat menggenggam tanganku dan meremasnya sekali, kemudian melepaskannya dan berbalik pergi. Awalnya, dia berjalan dengan langkah panjang, tapi lalu ia mulai berlari, seakan tak ingin kehilangan satu menit pun. Aku memandangnya pergi, kemudian berbalik arah dan berjalan pulang tanpa menoleh ke belakang lagi.

**

Minggu, 20 November 2011

Letting Go

Lagu Adele berputar lewat speaker kecil yang terhubung dengan komputer, suaranya teredam oleh bunyi mesin kopi yang bergetar pelan. Kamu meletakkan sebuah cangkir keramik untuk menampung kopi cair yang menetes turun – cangkir biru, dengan gagang putih; cangkir lamamu, yang tak pernah kubuang bahkan setelah tahun-tahun itu datang dan pergi.

“Kamu tak berubah,” itu katamu ketika kamu menyisihkan sepatumu di depan pintu, menginjakkan kaki di atas lantai parket yang dingin dan menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Bingkai-bingkai kayu yang sama, cat dinding krem yang sama, aroma lemongrass seperti pewangi dalam mobil dan lemari pakaianku, semuanya. Tapi kamu salah – aku bukan lagi orang yang sama. Ketika memberitahukannya kepadamu, kamu tersenyum. “Oh ya?” katamu. “Masihkah kamu mendengarkan CD Secret Garden-mu setiap kali kamu sedih? Masih sering lupa mengambil koran pagi di depan pintu?”

Mungkin itulah caramu menentukan seberapa jauh aku telah berubah. Skala antara satu hingga sepuluh. Hal-hal kecil susah untuk diubah, kamu pernah bilang begitu. Hal-hal kecil seperti caramu menggenggam tanganku, dengan ibu jari memutari pangkal tanganku. Caramu meneliti wajahku untuk setiap mikro-ekspresi yang mungkin kau lewati. Caramu memasukkan sedikit lebih banyak merica setiap kali memasak. Itu adalah sebagian dari hal-hal kecil. Urusan lain, seperti cincin yang kini melingkari jari manismu, itu adalah hal-hal yang lebih besar.

Lalu, kamu menuang sisa kopi ke dalam cangkirku, tak lupa menambahkan sesendok gula merah, seperti kebiasaanku. Ketika menyerahkannya kepadaku, ekspresi di wajahmu adalah kesedihan. “Kopimu, just the way you like it.”

Aku mengambil tempat di atas karpet, dan bersyukur karena kamu tak bergerak dari posisimu di meja makan. Jarak di antara kita terlalu lebar, dan kurasa tidak satu pun dari kita yang berhak merapatkannya.

“Apa kabarmu?”

Aku sudah berlatih untuk adegan ini, adegan di mana kita tak sengaja berpapasan di jalan dan pandangan kita bertemu. Akankah aku memalingkan mata duluan, ataukah kamu yang akan terus berjalan seakan-akan kita tak pernah saling mengenal? Aku memainkannya di kepalaku beratus-ratus kali, meyakinkan diri sendiri bahwa aku akan menatapmu tepat di manik mata dan berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Tapi ternyata, kita berdua sama-sama berhenti. Aku tidak tahu siapa yang duluan tersenyum. Aku ingat, kamulah yang pertama kali menyapa.

Aku tak pernah menyangka kamu akan ada di apartemenku sekarang. Ini di luar skenario. Bagian ini tak pernah hadir dalam versiku, kamu yang duduk dengan cangkir biru tuamu, di dapurku, berbicara denganku. Dalam versiku, kamu adalah bayang-bayang yang menghuni masa laluku, dan aku bertekad tetap mempertahankannya sedemikian rupa.

But I miss you, Ben. Aku kangen berpegangan tangan sembari meluncur sepanjang ring lapangan es, dengan butiran salju meleleh di bahu. Aku rindu berbagi secangkir kopi, berargumen mengenai seberapa banyak gula yang akan kita masukkan ke dalamnya. All those little things, and then the bigger stuffs as well.

We don’t have to change, you know.” Kamu menatapku lagi, aku yang sedang bermonolog dan berusaha melawan suara-suara dalam kepalaku. “Kita tak perlu menjadi orang asing bagi satu sama lain. Kamu adalah Julie, dan aku Ben. Kita saling mengenal, kita punya sejarah, kita adalah kita.”

“Yang kamu lupakan adalah fakta bahwa kita bukan lagi kita. Julie kembali menjadi Julie yang berusaha melupakan Ben, dan Ben.. aku tak tahu seperti apa dia sekarang. I’m not sure I care anymore.

Kamu terlihat terluka oleh pernyataan barusan. Bagian awal ucapanku jujur. Bagian akhirnya.. aku tak yakin apakah itu sepenuhnya benar.

“Julie.” Kamu akhirnya bangkit, meletakkan cangkirmu di atas meja di mana bagian bawahnya menyisakan lingkaran cokelat. “Mungkin lebih baik aku pergi.”

Perkataan itulah yang membuatku kehilangan kontrol, saat itu juga. Aku bangkit, berdiri di hadapanmu dan dengan penuh amarah memukulkan kedua tanganku ke dadamu, walau kamu hampir dua kali ukuranku dan dapat menyorokkanku dengan sekali dorong. Kamu diam saja, menerima pukulan demi pukulan, dan itu hanya membuatku semakin marah. Aku mengumpulkan semua air mata, semua sakit hati, dan setiap keberanianku untuk mengungkapkannya padamu, bahwa kamu selalu memilih untuk pergi saat keadaan tidak sesuai untukmu. Being gone is the only thing you’re good at.

Kemudian kedua tanganmu menggenggam milikku, dan kita berdua saling menatap dengan air mata mengaliri sisi-sisi wajah kita.

Kamu dan aku. Kita berdua, mengulangi apa yang terjadi hari itu. Aku hanya tak tahu apa yang akan kau lakukan selanjutnya.

Kamu tahu, yang perlu kita lakukan bukanlah berubah. Melepaskan. Hanya itu. Dan denganmu di sini, I think it is time.

**

my first short story in months. haven't written any in a while. needs some work and could've used some good editing, but it's all I've got at the moment. inspired by one of the last chapters of Adam and Mia's story in Where She Went.

Jumat, 09 September 2011

Sixteen

Like everybody else, I was sixteen when I started to drive. I wasn’t very good of a driver, but the feeling of obtaining a valid driver’s license was supposed to be so overwhelming that I demanded to get mine right away. My dad was a little grumpy when he took me to get it, and was still cranky when he let me drive us home afterwards. I was giddy with excitement, of course. Looking at my best photo plastered on the glossy card felt liberating, somehow. Like I was an adult. Like I mattered.

But then, that feeling didn’t last. I would always remember it, but the memory didn’t linger. It seemed trivial, years later, when a sixteenth birthday felt like aeons ago. Things like a crazy assignment or a math homework, whether school was canceled during a heavy snowfall, who asked who out for prom, and getting a first kiss – those things were so important back then, but now they are nothing but memories.

Sometimes I feel like children live more than adults too. They breathe more, they laugh more, they talk more, they notice more. More.

So why are we behaving this way?

Have you ever been sitting on swings, late at night? When he asked me that, I was so surprised I suddenly smiled.

That’s a great idea.

We got a pack of beer, cigarettes, and a bag of chips for me, and headed to the park by foot. The air was chilly that night, but I wasn’t cold. I sat at one of the swings and swayed slowly, none of us really speaking.

This is where I got my first kiss. He was the first to break the silence, as always. I looked at him, and he spoke again, shyly but not without confidence. Her name’s Anita. I was fourteen. No, that wasn’t right. It was midnight, and the next day it’d be my fourteenth birthday. Her skin was so pale in the moonlight, and I felt like I was floating.. His voice was quiet, and I listened without interrupting. When he was done talking, he looked up at me and gave me a tentative smile. It’s a silly story, isn’t it?

No, I replied. Actually, this is my first time sitting on swings, this late at night. It feels kind of good, surprisingly.

Sometimes I wish we’re children again. Or feel that same exhilirating rush again. We’re adults now and I bet we don’t feel much fun out of swinging high in the air. The feeling of being airborne…

He doesn’t continue. I know how he feels, and he must have sensed that I understand. And when he kisses me, I know that for a milisecond, I’m transported back to the feeling of being sixteen, getting my driver’s license for the very first time.

-a creative writing piece, 9 September 2011, 14.30-

Jumat, 25 Maret 2011

Rumah Beratap Biru

Pada hari kamu pergi, aku masih meyakinkan diri bahwa aku akan baik-baik saja. Toh, selama ini kita pun berdiri di sudut yang berseberangan, bukannya berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan seperti yang seharusnya.

Semalam pun, aku masih menjalani rutinitas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Masuk ke dalam mobil, memastikan aku aman terkunci di dalamnya, menstarter mesin, menyalakan radio dan memilih stasiun yang kusuka, kemukamun mengecek status bensin sebelum berkendara pulang. Seperti yang selalu kulakukan, ada maupun tanpa kamu.

Aku melewati jalan yang biasa - dua kali lampu merah, menikung ke kiri, melewati bagian belakang pasar basah yang pada malam hari dijadikan tempat berkumpulnya anak-anak tetangga untuk bermain kartu, kemukamun berhenti di depan rumah beratap biru.

Rumah beratap biru ini kita beli bersama, walaupun kita tidak pernah menyebutnya sebagai 'rumah kita'. Memang kamu yang lebih dulu menabung, dan menyetor uang mukanya. Tapi kemudian aku pun mulai rutin menyisihkan sebagian besar penghasilanku untuk rumah ini, meski kamu tidak pernah memintaku melakukannya. Lalu, beberapa tahun yang lalu - waktu itu bulan Mei - kita pun sama-sama meninggalkan tempat tinggal lama kami untuk pindah ke rumah beratap biru tersebut. Seingatku, kita bahagia.

Aku selalu mengeluh bahwa rumah ini terlalu kecil. Ruang paling besar yang ada di dalamnya adalah kamar tidur, itu pun ukurannya tidak seberapa. Kamu berkata, ruang yang sempit pun dapat terkesan luas jika kita mampu menatanya sedemikian rupa. Jadi kita pun memasang sebuah tempat tidur dan melapisi lantainya dengan karpet, juga meninggikan rak dan memindahkan segala benda lain yang hanya akan menyesakkan ruangan.

Waktu itu, aku tidak sadar ruang yang kamu maksud adalah hati.

Setelah tiba di rumah, yang kulakukan adalah memastikan dua kali bahwa semua pintu dan jendela telah terkunci, kemukamun merangkak ke atas tempat tidur, masih dalam pakaian lengkap. Aku sering melakukan itu; dan biasanya kamu akan memelukku dari belakang, menghidu aroma parfum yang sudah pudar, saru dengan bau keringat. Dan biasanya, apa pun keletihan yang kukumpulkan dari pagi hari akan pupus menjadi tak bermakna. Tapi malam kemarin, aku tidak punya tenaga untuk memikirkan tentang biasanya. Aku masih merasa aku akan baik-baik saja.

Tapi lalu mimpi itu datang.

Kata orang, mimpi adalah bunga tidur. Mencerminkan harapan, ketakutan, pertanda, dan apa pun itu yang pernah melintasi pikiran bawah sadarmu.

Semalam, aku bermimpi tentang kamu. Tapi aku tidak dapat melihat wajahmu - hanya punggung yang berjalan menjauh, siluet yang semakin lama semakin samar, sampai akhirnya menghilang seluruhnya. Entah fatamorgana, entah apa. Kamu hilang bersama salju yang merintik dari langit.

Aku tidak bisa tidur lagi setelahnya. Semalaman, aku memandang langit-langit, memperhatikan retakan halus dan sarang laba-laba yang mulai merembeti sudut kamar. Aku mencoba mematikan lampu, tapi kegelapan membuatku takut. Sampai akhirnya, aku terlelap, dalam usahaku untuk tidak memikirkan kamu.

**

Biasanya, apa pun yang kita ributkan, baik masalah kecil maupun besar, akan berakhir dengan saling berpelukan, di atas tempat tidur mungil dalam rumah beratap biru. Mungkin aku yang terlalu naif dalam mengira, masalah kali ini sama seperti sebelum-sebelumnya, dan dalam beberapa jam aku akan melihat kamu, dalam rumah beratap biru.

Tapi kurasa dalam hati aku tahu, saat kamu bilang kamu akan pergi, kali ini kamu tidak main-main.

Mungkin kami sudah terlalu lama menganggap satu sama lain sebagai properti. Sudah terlalu lama saling memiliki, dan sudah menyerahkan setiap bagian dari diri kepada satu sama lain. Setiap jejak di permukaan kulitku adalah milikmu, setiap serat dari rasa pernah kamu sentuh. Kamu pernah masuk ke dalam ruang paling gelap dalam diriku, begitu pun aku pernah melihat saat-saat terburuk maupun terbaikmu.

Namun, itu saja ternyata tak cukup untuk saling memiliki.

Terkadang, rasa saling memiliki yang terlalu kuat justru membuatku terlalu yakin bahwa kamu tidak akan pergi. Dan kali ini, seperti yang kubilang, kamu tetap pergi.

Aku tidak menangis. Aku tidak tahu apa yang harus kutangisi - apakah aku harus tersenyum, tertawa, marah, apa? Yang kutahu adalah rasa kosong di dalam dada yang terasa sesak. Jika aku menangis, apakah rasa itu akan hilang? Jika aku tertawa, apakah rasa itu juga akan hilang? Aku hanya butuh sebuah alasan untuk melakukan salah satu. Jadi aku pun tertawa.

Rasa itu tetap ada.

**

Kadang, aku yakin kamu akan kembali ke rumah beratap biru. Kadang, aku tak terlalu yakin.

Kemarin, seorang tetangga menanyakan perihal kamu. Katanya, ada sesuatu tentang berkebun yang ingin ditanyakannya.

Aku bilang, kamu sudah pergi.

**

just felt like writing this piece, Friday 16.05 p.m.
written using Ommwriter for Windows

Selasa, 01 September 2009

Meet Refrain - my third novel, now in stores :)


Aahhhhhh baru dapet kabar kalau novel baruku sudah duduk manis di Gramedia :) senangnya.
Meet my third book - Refrain.

Ini sinopsisnya:

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

**

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

**

Novelku kali ini tone-nya lebih ceria :) I think it's the most cheerful book I've ever written. Hihihi. I really hope my readers will like (love!) it.

Kamis, 06 Agustus 2009

Misantrophe

Let’s say we’ve never met. Let’s say you, or I, never bought a ticket that brought us to a fateful day. Fateful. I scowl at the word; it sounded so corny, and I don’t like being called that.

But let’s say I was never there, on a small red bus to Tokyo, along with twenty other over-enthusiastic tourists in Hawaiian shirts and straw hats.

I was minding my own business. You were, too, slouching and leaning against the cracked window, your sunglasses perched down on your nose. Your skin was too tan, your face too plain, that at first I did not take notice. And then you took off those glasses and looked straight at me.

I didn’t expect you to smile. I let you glance at me and formulate a first impression, as I was doing the same thing. My stomach lurched out of habit, and it was not because of the breakfast I missed.

I didn’t invite you to sit on my chair the next time we were on the wheels again, after a lengthy and fussy toilet stop. You smiled easily and said hi. I was flustered but I knew I did not look so clumsy. I just looked at you, and when you did not make an apologetic gesture or go away, we started talking.

It was easy talking to you. We had nothing in common, for that I was glad. You were a stranger on a strange trip, something I took out of sheer insanity. I did not plan on being fired. I did not plan on going to Japan. I did not plan meeting you.

You called me a misantrophe. I knew what the word meant. Dislike of people in general. Maybe that is true, I never really have a fondness for people. But the grace with which you said that made me smile, as if it was a joke.

Jokes are often the truth, though.

We spent nights in bars at Ginza, slugging down overpriced cocktails until I began laughing uncontrollably. You told me I loosened up, and I laughed more. At least I remembered that part, and the part in which I desperately wanted to kiss you – wrap my fingers around yours – ripped off your clothes – uncharacteristic thoughts that made me blush in shame.

We just talked, though. Spent the night in my hotel room, just talking under warm blankets. The warm air suited my mood. Sometimes you said something funny, and I remembered not having laughed in a very long time. Sometimes I was able to say my own jokes out loud.

I wasn’t myself, but I didn’t let you see that. Who knew, that girl back there might have been the girl I was deep inside, whom I never let out in public.

You were the best thing that happened to me that year. Between losing a job I was in for five years, between finding out my life was a big fat lie, you were the only thing good, even if just for ten days.

We did say goodbye, though. You were waving kind of sadly at me. I was smiling, but let that smile be my sadness. You took your duffel bag and slung it over your shoulder, looked back twice, before disappearing into the crowd. I turned on my heels, never looked back, poof, a shadow in your past.

Let’s say we’ve never met. Let’s say you, or I, never became friends.

Misantrophe. The word hangs in the air. I smile. And remember you.

6 August 2000 - inspired by the song in Lock and Key, a word I looked up in the dictionary

Sabtu, 30 Mei 2009

Rewind

Rewind
30 May 2009
6:19 p.m.

On the back seat of my car is a wedding dress. I’m picking it out for last minute alteration; the sleeve was slightly too tight for me. But as I drive back to my old apartment for one, last night, I cannot help but think of you.

I’m playing Andrea Bocelli on the tape. Do you remember how much we loved singing out of tune to ‘Time to Say Goodbye’? They were some of the happiest days of my life. Yet here I am, composing a letter for you in my mind, driving in the eerie silence of the night, anxious to get home? I’m not even thinking of tomorrow morning – my wedding day, for God’s sake. I’m intent on sipping dark coffee, looming in the darkness of the home I’ve spent so many years living in.

I miss you.

Don’t you wish that sometimes you could rewind time, and then hit the pause button? I wish I can. I wish that I can rewind my years and go back to the ancient time, when we, in our naivette, still belonged to each other.

You know, it’s funny that I still remember which side of the bed you used to sleep on. On my left, with one arm always hanging on my waist, spreading your palm on the surface of my stomach. How it felt, somewhat ticklish, but I also got that pleasant tingling feeling when you touched me there.

Do you remember how infatuated I was with you? I do. Peter was always saying that maybe, maybe there was no such thing as love. Maybe it was obsession, maybe it was just a crush, or lust, disguised as love. He was right. It was more than just love for me; I was obsessed. I was lustful. I had a big crush. I was in love. With you.

Sometimes I think you never did realize it. How I would stare at you with such longing, as you talked and laughed. Peter noticed. Even I noticed myself. In the height of his anger, Peter once said that I was a pathetic little girl, wanting something I couldn’t have. I had you, once. I just didn’t have you forever.

Pause. Rewind. Pause. To the years of college. To the first day I met you. I was furiously punching the buttons of the vending machine with my thumb. You passed by, gave the thing a strong shake, and swooped down to pick up a can of soda. That smile. I couldn’t remember whether I smiled back.

I miss you.

I miss walking along the banks of the river, hand in hand. I miss late nights, sipping on latte, sneaking to the corners of the dark library, cuddling. I miss sitting on the rooftops, smelling what Peter and Lisa were cooking for dinner, cold beers in hand. I miss talking, about dreams and wants and needs. I never realized once those dreams came true, you would be slipping away from me as well.

I used to know your sorrows, even though you hid your tears from me. I wasn’t that introverted about myself. I cried, I yelled. I think maybe they were the things you couldn’t stand. You just wanted to be sucked into your silence, without anyone, as much as a shadow, waiting in the distance. You could not stand having your fears known. You could not have yourself exposed.

But what if? What if I didn’t walk away from you that day? What if I never chose to go in the first place, looked back, turned around and came back? What if you had not let me go? What if you begged me to stay?

None of us did any of the above. But what if? Tomorrow could be our wedding day. I could be the mother of your children, the one to love you for always.

No. That wouldn’t work. You never wanted that, did you?

The track stops. Our song just ended. It brings me back to reality, the harsh light of the streetlights, the quiet screech of my car, the echo of loneliness. I’m here. Without you.

Tomorrow I’m going to marry Peter. I thought you would not come, but I wanted to send you an invitation.

In the end I changed my mind and never mailed the card. I hope you understand. Somewhere out there, you’re doing what you like best, you’re on an adventure, you’re discovering the new world, you’re breaking hearts, you’re falling in love. I think I’ll do the same, in my own small globe of space.

After all, nothing can be fixed if there were no mistakes, right? No more what-ifs.

I love you. I will always do.

Love,
me.

inspired by a blog entry by Angela, and the movie Evening.

Minggu, 19 April 2009

death

The sky was a palette of blue

unsuitable for someone like me

The air was cold when I got near

it always was, I didn’t see the need to change

The soul shivered when I extracted it

looked me in the eye

and smiled one last human smile

she did not say goodbye

I said, embrace me

and come with me

Outside

the sky was still a canvas of blue

I took her with me

She held my hand

Saying, I have always been expecting you

I said,

I am death

and I am haunted by humans


inspired by Markus Zusak's the Book Thief

Jumat, 27 Maret 2009

with you

someday we'll do this together regularly, on the back terrace of our own house.
no talking, no laughter, just sitting back there with one cigarette and a sip of hot chocolate.

Someday, you promised me once, over dinner, when you asked me something important. Your fingers wrapped in mine, enclosing the finger with the glistening diamond, and I felt the warmth, the genuineness of your words. Indeed I did, because I said yes. Maybe I was overwhelmed, but I liked to launch into self denial and simply said, I was in love.

We never talked about forever, but I had to admit I envisioned one. One long journey of togetherness. I kept talking and convincing myself, long enough to finally realize that you had never spoken about it at all.

**

Sometimes I found you there, crouching with a light cigarette resting between your fingers, blackened by ash. You were staring into space, as if wishing you would vanish with it. But honey, space was always present, just like the lingering breath of air, just like the unspoken words between us. We could never disappear, just like entities did not just disappear into nothing.

You held a cup of hot chocolate, cradling the handle gently. Most of the time, the drink turned bitter and cold, almost tasting like stale coffee. I knew because I once took a sip, just to feel the coolness of the touch of your lips there, just to feel your loneliness.

You never spoke about what it was that haunted you. Was it just me, incapable of being someone you could love and love you back. Or was it someone else entirely, someone I never knew, but felt like having known forever. Or was she such a big part of you, that I could feel her being, closer and closer.

Was I not enough, or was I not because she was not here?

**

We had our first fight last night. I pretended not knowing you pretended not hearing me cry. I pretended not noticing you had retreated into your personal nook there, in the back of the terrace, watching fireworks blow off in the first full minute of the new year.

What we were arguing about, I was not sure. Neither were you, I was certain, because you kept looking at me with blank stares, and the words you spoke meant nothing. I recalled calling you selfish, and you admitted it. I did not want you to admit it. I did not need you to tell me something I already knew.

I asked quietly, later when I found my composure back. It was never me you wanted, wasn’t it?

It hurt when I said it. It hurt more when you didn’t answer. It hurt most when I heard you say, wanting is not the same as needing.

And then you lighted up another cigarette.

**

It was dawn when I was jolted awake by a sound. It was not unlike the noise a child made. I rubbed sleep from my eyes, stood up and found you there.

I took your feverish body in my arms. I felt your shiver, I heard your sobs, I touched your tears. You looked up at me, and I cried with you. I uttered a promise of my own, I will be with you.

someday we'll do this together regularly, on the back terrace of our own house.
no talk, no laugh, just sit back there with one cigarette and a sip of hot chocolate. And I will be with you.

time 21:59, song Snow on Sahara, inspired by Saskia's blog entry. Thanks, dear