Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.
Tampilkan postingan dengan label writing journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing journal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Desember 2014

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku

Hari ini saya ingin berbagi tentang behind the scene sebuah naskah berkembang menjadi buku yang dipajang di toko-toko dan dijual.

image taken from docstoc.com

Di sini saya hanya berniat sharing pengalaman saya sejauh ini tentang behind the scene buku-buku saya. Buku, penulis dan penerbit yang berbeda tentu memiliki proses yang lain pula, dan kebijakan yang diterapkan tidak selalu sama. Ini juga berlaku bagi saya yang menerbitkan naskah lewat penerbit, bukan self publishing alias menerbitkan buku sendiri.

Pertama-tama, naskah selesai ditulis. And then what? 

Biasanya, saya mengirimkan naskah tersebut ke editor yang selama ini sudah menangani buku-buku saya. Jika penulis baru, biasanya mengirimkan printout naskah ke alamat redaksi, ditujukan ke redaksi untuk dibaca dan difilter, apakah naskahnya akan diterbitkan atau dikembalikan.

Pada umumnya, sang editor akan mengabari bahwa naskah sudah diterima dan sedang dibaca. Barulah selang beberapa bulan kemudian, editor akan mengabari 'nasib' sang naskah. Ada tiga pilihan di sini: ditolak, butuh revisi, atau siap jalan. Ditolak berarti naskah tidak akan diproses menjadi buku untuk diterbitkan di penerbit tersebut. Siap jalan berarti naskah siap langsung diproses menjadi buku dan mengikuti berbagai prosedur di penerbit. Seringnya, naskah masuk ke status butuh revisi. Ini berarti, editor akan berkomunikasi dengan penulis tentang berbagai revisi yang dirasa perlu agar naskah lebih maksimal. Misal, dialognya kurang interaktif. Plot ini kayaknya nggak perlu, deh. Ada inkonsistensi di bagian ini, coba diperbaiki. Karakternya kurang berkembang. Dan masih banyak lagi, tergantung naskah tersebut. Nantinya, editor akan memberikan tenggat waktu untuk revisi ini sampai harus dikembalikan lagi ke editor, dan prosesnya terus berlangsung sampai editor merasa naskah sudah oke.

Nah, tahap oke ini adalah yang paling dinanti penulis. Artinya, naskahnya sudah matang dan siap menjalani tahap berikutnya, yakni masuk ke dapur penerbit. Saya pribadi tidak bisa mengaku ahli karena saya bukanlah 'orang dapur' langsung, tapi kurang lebih prosesnya begini:

- Penerbit melakukan rapat internal untuk menentukan jadwal terbit untuk naskah-naskah yang ada. Naskah kita akan diterbitkan sesuai kebijakan penerbit, biasanya pada jadwal yang sesuai dengan berbagai faktor seperti tema promosi, timing yang pas dengan tanggal-tanggal penting atau hari besar tertentu, jangka waktu buku-buku dari penulis yang sama terbit (biar tidak terlalu mepet juga tidak terlalu jauh selisih waktunya), dan lain-lain.

- Tim redaksi akan melakukan editing dan proofreading sembari membuat layout dan kover/sampul buku. Editing dan proofreading dilakukan berkali-kali agar kualitas naskah maksimal, dan bagian estetika juga dipertimbangkan lewat layout serta kover yang cantik, mewakili cerita serta ciri khas penerbit. Di sini, saya membayangkan ada jadwal serta persiapan lainnya yang dibicarakan dengan pihak percetakan dan distribusi, juga tim promosi. 

- Setelah naskah selesai diproofread dan sudah memiliki layout serta pilihan alternatif kover, editor akan menghubungi penulis agar kembali membaca dan melihat hasil akhir sebelum dicetak. Biasanya, saya akan membaca kembali naskah tersebut dua kali, dan mengirimkan surel ke editor untuk menandai bagian yang mungkin membutuhkan koreksi, misal ejaan. Editor dan penulis bekerja sama untuk memastikan naskahnya bebas typo, dan semuanya konsisten. Untuk kover, saya ikut voting alternatif kover yang sekiranya tepat untuk si buku, namun pada akhirnya sepenuhnya menjadi hak penerbit untuk memilih. Kenapa? Karena penerbitlah yang paling memahami pasar dan tren, dan mewakili penulis untuk mempersiapkan yang terbaik bagi bukunya.

- Penulis menandatangani surat persetujuan cetak, kontrak buku, dan administrasi lainnya. Menyetujui dan ikut memberi saran dalam penulisan sinopsis/blurb. Menulis ucapan terima kasih, mengirimkan foto dan biodata penulis untuk kover belakang buku.

Lalu, menunggu. Biasanya, setelah tahap terakhir selesai, akan ada jeda sebulan sampai buku selesai dicetak, dan siap dijual di toko buku. Membutuhkan waktu untuk mencetak ribuan sampai puluhan ribu eksemplar buku, belum lagi proses distribusi ke seluruh toko-toko buku Nusantara. Sambil menunggu, tim promosi dan penulis bisa mengobrolkan kegiatan-kegiatan untuk memasarkan bukunya dengan maksimal.

Terkesan sederhana, namun sebenarnya rumit. Saya yakin banyak yang terlewat dari langkah-langkah yang saya tulis di atas, yang mungkin bisa diisi oleh pihak-pihak terkait yang lebih berpengalaman. Tapi, begitulah kurang lebih yang saya lewati. Proses naskah menjadi buku tergantung dari seberapa lama kita merevisi, dan banyak faktor lain. Biasanya, bagi saya memakan waktu kurang lebih enam sampai dua belas bulan.

Bayangkan satu naskah yang mengalami prosedur sedemikian banyaknya, dan kalikan dengan jumlah buku yang harus terbit dalam sebulan. Atau, ratusan buku dalam setahun, atau ratusan naskah yang menumpuk di meja editor. Wow.

Oleh karena itu, setiap buku bukanlah hasil kerja solo seorang penulis saja. Begitu banyak orang yang terlibat di dalamnya untuk menjadikan mimpi itu terwujud, begitu banyak yang berusaha keras agar satu buku bisa terpajang di etalase toko dan siap dibawa pulang oleh pembaca.

So here's to everyone involved - setiap orang dalam perannya adalah penting, dan terima kasih banyak, karena tanpa kalian, naskah hanya akan menjadi seonggok hasil cetakan printer dalam kertas polos.

Rabu, 17 Desember 2014

Suka Duka Menjadi Penulis

Setiap tahun, saya selalu menulis resolusi tahunan, membuat sedikit kilas balik dan bersiap menyongsong tahun depan. Bukan introspeksi serius, memang, dan kadang kala, saya akui resolusi yang saya buat tidak selalu terlaksana seluruhnya. Dan akhir-akhir ini, saya justru mengabaikan resolusi, dan hanya fokus pada hal-hal yang saya antisipasi di masa depan.

Tahun ini, saya tidak akan membuat resolusi muluk-muluk. Sebaliknya, saya akan menapak balik pada gundukan masa lalu yang menciptakan jalan menuju masa kini. Ini terinspirasi oleh sebuah pesan singkat yang masuk dalam inbox Facebook saya semalam, dari seorang pembaca di Bali, yang bertanya apa suka duka saya sebagai seorang penulis selama ini.

Jujur, pertanyaan itu awalnya tidak terlalu saya renungkan, karena menjawab suka dan duka selama perjalanan ini tidak dapat dirangkum dengan mudah. Namun kemudian, saya kembali berpikir tentang awal saya menulis. Rupanya, saya telah mulai aktif menulis sejak 2007, dan tahun ini merupakan tahun ketujuh saya meminjam istilah 'penulis' dalam resume hidup saya.

Saya bukan seorang penulis full time. Sebelum menjadi penulis, saya memiliki banyak peran lain - seorang anak, seorang karyawan penuh waktu, seorang jurnalis paruh waktu, seorang wirausahawati. Tahun lalu, saya mengambil peran seorang istri, dan tahun depan, seorang ibu. Saya juga sempat menjajali proofreading, dan banyak peran-peran kecil lain di luar penulis. Tapi, entah kenapa menjelma menjadi penulis adalah salah satu hal yang paling mendarahdaging dalam perjalanan karir profesional saya sejauh ini. Ya, meskipun tidak menulis sepanjang hari. Meskipun dalam setahun kadang saya tidak menelurkan karya. Walau blog ini bisa saja kosong selama sebulan penuh.

Suka duka menulis, tentu banyak. Entah bagaimana saya harus mendeskripsikan rasa, karena rasa itu rumit dan subjektif. Yang saya tahu, saya menyukai perasaan pada kala kata-kata bagaikan muncul begitu saja lewat tarian jemari pada keyboard laptop. Saya menyukai bagaimana karakter-karakter saya dengan sabar menuntun saya menuju cerita mereka, masuk ke dalamnya dan bermain di sana, sampai saatnya saya pergi. Saya menyukai rasa lega sekaligus puas yang menyusup begitu hari berakhir dengan beberapa ribu kata terketik rapi dalam file di komputer. Dan ketika naskah berubah menjadi buku, ketika kerjasama dengan editor, penata layout, pembuat kover dan proofreader menghasilkan sesuatu yang fisik dan dapat dibaca oleh orang lain, rasa itu menjadi lebih sulit untuk diterjemahkan. Pada saat-saat seperti ini, kebahagiaan yang dirasakan rasanya lebih besar dari harta materi yang bersanding dengan keberhasilan sebuah buku.

Duka - tentu saja setiap penulis memiliki porsinya akan duka, begitu pula dengan saya. Duka sederhana seperti membaca resensi buruk dari seorang pembaca yang tidak menyukai karya saya, misalnya, meskipun dalam tahun-tahun ini, saya telah belajar bahwa karya dan selera adalah subjektif - either you like it or you don't, and either way it's alright. Surat-surat penolakan naskah yang saya kumpulkan dalam folder khusus. Berbagai kesalahpahaman dari orang-orang yang belum mengerti bahwa sebuah karya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Buku-buku yang flop di pasaran dan menghilang begitu saja.

Namun, duka-duka itu rasanya kecil jika dibandingkan dengan perasaan kosong saat berhadapan dengan kursor yang berkedip dan tak bergerak di layar komputer. Bulan-bulan tanpa inspirasi, sedangkan adrenalin untuk menulis sudah terpacu. Keinginan menulis yang tak terpenuhi karena waktu yang terbatas, atau ide yang tak kunjung datang. Bagi saya, duka terbesar sebagai seorang penulis adalah ketidakmampuan untuk menulis.

Di luar itu semua, dengan pertimbangan pro dan kontra dalam menulis, jika harus memilih, apakah saya akan membuat pilihan yang sama? Ya, without a second thought. Walaupun menulis mungkin memakan setiap detik yang tersisa dalam jatah istirahat saya, meskipun menulis mungkin membuat saya begitu lelah saat selesai melakukannya dan tanpa sadar telah menghabiskan sepanjang malam... I'd pick being a writer every day of my life.

Dan itulah resolusi saya tahun depan. Dan saya harap, untuk tahun-tahun selanjutnya juga.

Selasa, 05 Agustus 2014

Tentang Kesabaran Dalam Berputar-putar

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan beberapa hal - proyek menulis, urusan rumah tangga dan kantor, beberapa proyek akan datang, dan naskah novel baru.

Jujur, naskah yang sedang saya garap ini adalah salah satu yang terasa paling sulit dari naskah-naskah sulit sebelumnya. Beberapa naskah yang saya kerjakan terasa cukup alami saat ditulis, seperti Remember When, Ai, Tomodachi. Untuk naskah Unbelievable, riset bullying, peer pressure dan fashion cukup ngejelimet dan perlu pendalaman agar terasa wajar, untuk naskah Melbourne: Rewind meskipun terasa natural, saya tetap merasa perlu menggali lebih dalam hubungan antar karakter, terutama dari segi dialog dan chemistry. Untuk Unforgettable, sulit sekali mendalami proses dan deskripsi wine, juga interaksi kedua karakternya.

Sedangkan naskah ini membuat saya banyak berpikir; karena saya tidak memahami satu pun aspek baru yang ditulis. Musik. Hubungan kakak-adik perempuan. Cowok playboy yang misterius. Ah, rasanya sangat sulit dalam menuliskannya secara wajar. Namun, saya percaya proses tersebut dapat dijalankan secara bertahap.

Banyak orang berkata, menulis tidak perlu buru-buru. Saya setuju. Semakin terburu-buru, semakin tidak maksimal. Semakin tergesa, semakin kita terobsesi pada target tak kasat mata di hadapan kita. Dan hasilnya, kita fokus pada ending, bukan pada kenikmatan menulis, revisi yang optimal, bahkan bukan pada karakter.

Tentu saja, setiap penulis mungkin merasa ingin buru-buru mencapai garis akhir. Ingin rasanya cepat melipat laptop dan mengirimkan hasil jadi ke penerbit. Ingin segera melihat buku terbit. Tetapi, inilah rasa yang menurut saya perlu diredam.

So I'm going to take it easy. Saya akan mengikuti prosesnya.

Ada juga yang berkata, berjalan-jalanlah dalam kekosongan pikiranmu. Something will come. It will definitely come. Jadi, bagi teman-teman yang stuck dan mengalami writer's block, atau seperti saya sering berputar-putar dengan kanvas kosong yang tak kunjung berisi, bersabarlah. Kita pasti akan melaluinya.

Kamis, 24 Juli 2014

Tentang naskah baru: Happily Ever After

Saatnya saya berbagi spoiler tentang novel baru yang akan terbit setelah Tomodachi. Spoiler ini saya share dengan teman-teman yang hadir di event Tomodachi 5 Juli lalu, plus pembacaan bab dalam novelnya :-)

Naskah ini saya tulis di awal tahun 2014, selama kurang lebih 4 bulan. Genrenya remaja, tentang dua orang murid SMA yang bertemu karena suatu keadaan yang sebenarnya tidak menguntungkan, tetapi keadaan tersebut justru membuat mereka dekat.

Judul tentatifnya Happily Ever After. Karena ia bercerita tentang dongeng-dongeng sebelum tidur, Ayah yang sehangat matahari, dan anak lelaki yang mencintai air namun harus rela meninggalkannya. Ia juga bercerita tentang sahabat yang pergi, seorang anak perempuan yang selalu merasa ia tidak fit in dalam dunianya, dan keluarga hangat yang tiba-tiba harus terpecah.

Naskah ini sedang diproses oleh Gagas Media dan kabarnya mungkin akan terbit di bulan September 2014. Let's wait and see, semoga semuanya lancar dan saya akan posting berbagai tidbits tentang naskah ini begitu sudah dapat update ya :-)

Sejauh ini, Happily Ever After adalah salah satu naskah yang tak sabar saya nantikan agar segera terbit. I'm really loving Eli and Lulu, kedua karakter utamanya, dan pertemuan mereka yang aneh.

Semoga September cepat tiba :D

Tentang Tomodachi


Halo semua, lama tak meng-update blog dengan posting seputar tulis-menulis, maka saya akan cerita sedikit tentang beberapa proyek yang tengah berlangsung maupun yang baru terbit.

Pertama, tentang Tomodachi.

Terima kasih banyak bagi teman-teman sekalian yang sudah membeli novel terbaru saya yang sudah terbit di Gramedia tersebut :-) juga yang sudah ikut PO buku bertanda tangan di toko buku online. Semoga kalian menyukai cerita sederhana tersebut.

Jujur, setelah selesai menulis naskahnya, saya sempat merasa Tomodachi adalah naskah terlemah yang pernah saya tulis, sehingga hampir saja berniat menariknya dan menggantinya dengan naskah lain. Beberapa alasannya sebenarnya cukup sederhana, seperti keterbatasan waktu untuk mengembangkannya karena saat itu sedang mengejar deadline yang sudah saya janjikan kepada penerbit, plot daur ulang yang menyinggung sahabat dan cinta pertama, juga kesederhanaan keseluruhan cerita dan penggunaan settingnya yang sudah pernah digunakan dalam novel sebelumnya.

Namun, ada suatu perasaan yang berbeda saat kembali membacanya sebelum terbit, waktu itu untuk kebutuhan proofreading. Rasanya, naskah yang saya anggap lemah itu justru memiliki kesederhanaan tersendiri yang membuat hati terasa hangat. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Terlepas dari apa pendapat pembaca nantinya, yang dapat saya lakukan hanyalah berharap cerita kecil ini juga dapat menghangatkan hati mereka.

Lalu, selepas terbit ada beberapa resensi dan komentar yang masuk dari media sosial, juga Goodreads. Saya sangat terharu ketika melihat bahwa cerita Tomomi, Tomoki, dan kawan-kawannya dapat menyenangkan pembaca. Bahkan ada seorang pembaca yang mengaku terinspirasi oleh cerita di Tomodachi, membuatnya ingin melanjutkan kuliah dan mengejar mimpi. Sungguh, itu sesuatu yang sangat 'sesuatu' buat saya.

Beberapa pembaca juga menyebutkan manga - bahwa membaca Tomodachi terasa seperti membaca manga atau komik Jepang dalam kata-kata. Saya pun amat tersanjung, apalagi ketika ada yang memunculkan judul Kimi ni Todoke dan Friends sebagai contoh manga yang menurut mereka mirip auranya dengan Tomodachi.

Saat menulis naskahnya, manga-manga tersebutlah yang menjadi inspirasi terbesar. Saat membaca karya Karuho Shina, Hiromi Mashiba, Yuu Ito, seringkali saya terharu dan kagum pada kemampuan mangaka hebat tersebut dalam menciptakan kisah yang tampak ringan, tetapi sebenarnya kompleks emosi. Karakter-karakternya hidup, dan saling melengkapi. Itulah esensi yang saya tangkap dan ingin saya potret lewat Tomodachi. Jadi, mengetahui bahwa pembaca merasakannya merupakan salah satu komentar terbaik yang pernah saya harapkan.

Mungkin banyak yang tidak menyukai fakta bahwa lagi-lagi saya menulis seputar friend-zone. Dalam cerita ini, saya meminta para pembaca untuk memakluminya sekali lagi :-) karena begitu banyak cerita tentang Tomomi dan Tomoki yang ingin saya sampaikan.

Dan saya berjanji, untuk dua naskah novel selanjutnya, yang akan saya update beritanya di blog ini, tidak memuat seputar friend-zone dan cinta segitiga. Setidaknya, kedua karakter utamanya bukanlah sahabat sejak kecil yang lalu jatuh cinta kepada satu sama lain. Sebaliknya, mereka adalah dua orang yang jauh berbeda, bertemu karena sebuah kesempatan, dan kemudian tertarik kepada satu sama lain karena berbagai hal yang ada dalam hidup mereka.

That's my little promise to my beloved readers.

Jumat, 06 Juni 2014

First chapter novel SCHOOL: TOMODACHI, terbit Juni 2014

Berikut sneak peek first chapter :) coming soon! Senin ini akan masuk cetak, mudah-mudahan akhir bulan sudah beredar di toko-toko buku ya..





Sakura Pertama di Bulan April

Ah, sakura.

Aku menghentikan langkah dan mendongak, menyaksikan hujan bunga sakura yang perlahan-lahan berderai menyentuh tanah. Kutengadahkan telapak tangan untuk menangkap helai-helainya yang jatuh tertiup angin. Kelopaknya terasa lembut seperti beledu.

Sakura yang mekar pada hari pertama masuk sekolah pasti merupakan pertanda baik; aku percaya itu. Lagi pula, warga Jepang selalu menganggap mekarnya sakura sebagai awal baru–karena itulah tahun sekolah biasanya bermula di bulan keempat setiap tahunnya.

Aku memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Segarnya….

Minggu pertama bulan April merupakan favoritku, saat kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran, dan berjalan kaki di kota terasa seperti berada di tengah padang bunga yang harum. Jalan setapak menuju Katakura Gakuen, sekolah baruku, dinaungi oleh pohon-pohon raksasa berbatang kekar, dengan dahan-dahan yang sarat oleh sakura. Ditambah lagi langit biru amat cerah, dihiasi gumpalan awan putih yang menandakan musim dingin telah resmi berakhir.

Haru, koko ni watashi wa kuru! 

Baru sebentar menikmati suasana pagi yang nyaman ini, seseorang tiba-tiba menabrakku kencang dari belakang. Aku kehilangan keseimbangan, lalu terperosok ke depan; untung saja tak sampai jatuh.
Kubuka mata dengan gusar, tetapi sekelilingku telah sepi, padahal tadi masih banyak murid-murid berseragam yang lalu-lalang di sekitarku. Yang terlihat hanyalah sosok seorang murid laki-laki yang sedang berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan aku baik-baik  saja. Tubuhnya pendek dan kurus, mengenakan seragam hitam yang serupa denganku, tetapi miliknya terlihat kebesaran di badannya. Dia terus berlari, tetapi ketika melihatku terpaku di tempat, dia berbalik dan berteriak lantang ke arahku. “Hoiiii! Kau akan terlambat, baka !” Sedetik kemudian, sosoknya kembali berlari, lalu menghilang di balik gerbang sekolah yang dicat hitam.

Sudah menabrak sembarangan, seenaknya menyebutku bodoh!

Sambil bersungut-sungut, kulirik sekilas jam yang melingkari pergelangan tanganku, lantas terkesiap. Dia benar, sebentar lagi aku akan terlambat! Seolah menimpali ucapannya, dari kejauhan samar-samar terdengar dentang bel sekolah yang bergema, membuatku berderap dengan kecepatan maksimum menuju gerbang yang sebentar lagi akan tertutup rapat. Penjaga sekolah paruh baya yang memegang serenceng kunci geleng-geleng kepala saat aku melesat masuk.

Kurasa, aku tahu apa yang dipikirkannya. Satu hal itu jugalah yang kugumamkan selagi berlari menuju ruang olahraga tempat upacara penerimaan murid baru akan dilangsungkan.

Dasar Tomomi, baru hari pertama, masa sudah terlambat!

**

Di luar dugaan, upacara penerimaan murid baru berjalan dengan lancar. Yah, kalau kau tak menghitung dua sosok murid terlambat yang terengah-engah muncul di ambang pintu, lalu mengendap-endap masuk ke barisan. Dan, sukses mendapatkan delikan dari seorang guru bermuka garang yang menangkap gerak-gerik kami. Hehehe.

Aku berdiri persis di belakang Sawada Chiyo. Kutarik kepangannya pelan. Dia berbalik, tersenyum lebar begitu melihatku. Chiyo adalah sahabatku sejak sekolah dasar, juga teman sepermainanku semasa chugakko  dulu.

Ini adalah kali pertama aku melihat dia mengenakan seragam barunya, padahal kami berdua membelinya bersama-sama dua minggu lalu. Seifuku–seragam sekolah–Katakura Gakuen  bermodel pelaut dengan kemeja putih dan rok lipit berwarna hitam untuk para perempuan, dan kemeja putih polos serta celana panjang hitam untuk para laki-laki. Kemeja murid perempuan memiliki kerah lebar berwarna gelap dengan garis putih, dan lipatan lengannya dihiasi motif yang sama. Secarik selendang dililitkan di balik kerah untuk membentuk dasi, dikaitkan dengan sebentuk emblem perak yang berukir nama sekolah kami. Menjelang musim semi, kami semua mengenakan seifuku berlengan pendek walau cuaca yang masih agak sejuk membuat para murid perempuan memakai kaus kaki panjang maupun blazer hitam bersama  seragam mereka. Aku sangat menyukai seifuku baruku–terlihat dewasa, dan yang terpenting nyaman sehingga aku mudah bergerak saat mengenakannya.

Di antara teman-teman sekelas kami yang dulu, hanya aku dan Chiyo yang masuk ke sekolah ini. Kebanyakan di antara mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan di sekolah lama, atau masuk sekolah privat yang lebih berprestise. Untuk Chiyo, alasannya mendaftar ke Katakura Gakuen adalah karena aku juga mengirimkan aplikasi ke sini. Sementara bagiku, alasannya sedikit lebih rumit dari itu.

Katakura Gakuen adalah satu dari sejumlah sekolah menengah di Hachiōji, sebuah kota besar di regional Kantō, yang berjarak empat puluh kilometer ke arah barat dari pusat Tokyo. Aku telah tinggal di sini seumur hidupku–sebuah kota yang menurutku unik, karena merupakan gabungan dari kota modern berpopulasi tinggi dan area rural yang masih tak terjamah. Hachiōji dikelilingi oleh Gunung Takao dan Gunung Jinba, tetapi juga memiliki area perbelanjaan dan kehidupan kota yang hidup sehingga sering kali menjadi destinasi favorit para turis.

Katakura Gakuen dikenal sebagai salah satu sekolah publik terbaik di Hachiōji. Ujian masuknya susah bukan main, dan bagi murid sepertiku yang harus mati-matian mempertahankan nilai di atas rata-rata, perjuangan masuk sekolah ini cukup besar. Kalau teringat masa-masa kami belajar untuk ujian masuk, mengisi lembar demi lembar kertas latihan ujian, membeli omamori  kelulusan untuk keberuntungan… bisa masuk ke sekolah ini adalah sebuah keajaiban. Pokoknya, aku sangat senang saat menemukan nomor pelajarku tertera di papan pengumuman penerimaan murid.

Sekolah ini pun jauh berbeda dari sekolah kami yang dulu. Di sini, ada aura serius yang sangat terasa, mungkin dari cara para muridnya berseragam dan berbaris, tanpa cela dan tanpa melenceng sejengkal pun. Tenaga kerjanya juga terlihat profesional; guru-guru yang bertampang serius dan berbaris di balik podium, di belakang kepala sekolah yang sedang memberikan ucapan selamat datang.

Gedung sekolah baruku tinggi dan luas, terdiri dari bangunan-bangunan bercat putih bersih yang didirikan bersebelahan, mengapit kebun asri yang luas. Lapangan tenis, sepak bola, dan atletik dibangun di bagian belakang gedung, lengkap dengan ruang olahraga indoor untuk basket dan renang. Dibanding sekolah lamaku yang sempit dan tua, tempat ini memberikan kesan yang sama sekali berbeda.
Namun, alasanku masuk ke sini bukan itu.

Kulemparkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sosok yang menjadi alasan utamaku masuk ke Katakura Gakuen. Dia yang selama tiga tahun belakangan selalu menghuni pikiranku. Dia tak terlihat. Aku kecewa, tetapi berusaha menghibur diri. Mungkin aku akan bertemu dengannya saat istirahat makan siang nanti.

Pandangan mataku berhenti pada barisan murid laki-laki. Anak yang tadi menabrakku ada di barisan paling belakang. Celananya kepanjangan, dasinya tidak  terpasang dengan rapi, dan ada noda lumpur di ujung sepatu hitamnya, sepertinya dia tak sadar. Sudut-sudut bibirnya terangkat, bahkan saat dia tidak sedang tersenyum sekali pun. Alisnya tebal, hampir bertaut, tetapi bukannya memberikan kesan garang, justru ada sesuatu tentang dirinya yang membuatnya terlihat ceria. Kulitnya kecokelatan, tampaknya sering terkena sinar matahari. Pandangan matanya tajam, dan hidungnya agak bengkok, seperti pernah patah dan tidak sembuh dengan baik. Entah mengapa aku jadi memperhatikannya sedemikian rupa. Namun, memang ada sesuatu tentang dia yang bagaikan magnet, membuat orang sulit mengalihkan tatapan darinya. Kurasa, kalau diamati baik-baik, dia lumayan juga.

Sebelum sempat aku mengalihkan pandangan, dia menoleh dan menangkapku sedang mengamati dirinya. Bukannya memalingkan wajah, dia justru menjulurkan lidah dan menjulingkan mata dengan ekspresi dibuat-buat, kemudian menyeringai dan kembali memandang ke depan seolah-olah kejadian barusan tidak terjadi. Uh, dasar! Apa sih, maunya anak itu? Kutarik kembali pujianku barusan. Dia benar-benar menyebalkan.

Namun, bukan Tomomi namanya kalau menyerah begitu saja. Bertekad membalas perbuatannya, aku berusaha mencuri perhatiannya dengan mengibaskan tangan. Ketika akhirnya dia menoleh ke arahku, aku lekas-lekas memutar mata dan mengerucutkan bibir, memberikan ekspresi anehku yang paling konyol. Nah, memangnya hanya kau yang bisa?

“Hei, murid yang di sana! Apa yang sedang kau lakukan?”

Suara kepala sekolah yang dua kali lebih keras akibat efek mikrofon membuatku berhenti. Aku celingak-celinguk ke kanan kiri, mencari murid yang barusan ditegur di depan umum. Tapi, semua orang… kok, menatap aneh ke arahku, ya?

Wajahku merona ketika menyadari yang dimaksud kepala sekolah adalah aku.

Samar-samar, kudengar tawa anak itu membahana, diikuti dengan gelak murid-murid lain yang menertawakan kekonyolanku.

**

Senin, 19 Mei 2014

Mo (bagian 2)

Hari itu, kami pergi ke tempat selain kedai buku tua di pinggir jalan.

Hari itu, kami kehujanan.

Mo menyambar tanganku yang terbungkus jaket hitam – jaket lusuh almamaterku, lalu menarikku mengikuti langkahnya yang tergesa. “Cepat!” desisnya, dan sambil menangkupi kepala dengan kedua tangan, kami berdua berlari mencari tempat berteduh.

Padahal, kami bisa saja memasuki kedai buku tua, yang hanya beberapa langkah menuju arah yang berlawanan. Padahal, kami bisa saja berdiri menunggu hujan reda dari balik genting warung yang separuh kosong di tikungan jalan.

Tetapi, Mo membawaku menuju halte bus, dan ketika menemukan satu bus yang kebetulan lewat, tanpa banyak omong ia mengajakku masuk. Kami berdua berdesakan menuju dua kursi kosong di belakang, dan sambil mengibaskan pakaian serta tas yang basah, dia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.

“Kita mau ke mana?”

Dia mengangkat bahu. Ternyata, dia juga tak sempat melihat jurusan yang tertulis di punggung bus. “Bukankah ada sesuatu yang menyenangkan dari bepergian tanpa tahu harus ke mana?”

Antusiasmenya mau tak mau menular padaku, membuat pundakku rileks. Aku menyandarkan badan pada kursi. “Yaah... aku hanya nggak suka perasaan tersesat.” Tersesat di jalan saat sedang mengantar dokumen penting untuk klien, nyasar saat mencari alamat teman lama yang mendadak ingin mengembalikan barang, perasaan kacau yang timbul kala kebingungan. Tersesat dalam hidup adalah pengalaman yang serupa.

“Setiap petualangan hebat dimulai dari tersesat, lho,” sambungnya riang. Dia menawarkan selembar tisu yang sudah hampir seluruhnya basah, namun aku menerimanya tanpa banyak komentar. “Aku menemukan toko buku kita pun karena tersesat.”

Toko buku kita. Aneh, untuk dua orang yang hampir tak saling mengenal, tak berbagi apa pun kecuali sebuah tempat kecil di tepi jalan. Tapi aku menyukai penggunaan kata kita dalam kalimatnya. Rasanya seperti mempunyai rahasia.

“Oh, ya?”

Dia mengangguk. “Aku salah menaiki bus. Dibawa keliling Jakarta. Uang kecilku habis untuk pengamen yang tak henti-hentinya menyanyikan lagu kesukaanku.” Dia terkekeh. “Dan aku berhenti di pinggir jalan itu, nggak sengaja tertarik dengan buku-buku yang dipajang di depan toko. Buku pertama yang kubeli di sana adalah The Wind-Up Bird Chronicle. Judulnya aneh, untuk buku yang aneh juga.”

Semua ini aneh, aku ingin menambahkan.

“Mo?”

“Ya?” Dia menjawab tanpa menoleh, asyik menatap guliran gerimis di permukaan kaca jendela yang kotor.

“Kamu pernah merasa sedih?” Sedih yang benar-benar sedih, seperti ditonjok dan kaurasakan pukulan itu sampai ke ulu hati. Rasa yang tak kunjung punah, berlama-lama sampai kau terbiasa hidup dengan pahit itu.

Dia malah tertawa, mengkontradiksi jawabannya sendiri. “Tentu saja pernah.”

“Benar?”

Seseorang pernah berkata padaku, ia membenci orang-orang yang selalu tampak bahagia. Orang-orang yang selalu berkata, semuanya akan baik-baik saja! Jangan khawatir! Teruslah berharap! Menurutnya, orang-orang itu hipokrit. Mengapa harus tertawa saat merasakan sakit? Mengapa tidak melengos, membuang muka, memasang tampang kesal, seperti seharusnya?

Saat itu, aku tak punya jawabannya.

Tapi Mo punya.

Dia kini termenung, memainkan ujung jemarinya pada kiasan embun, membentuk uliran yang tak kupahami. Lama dia melakukannya, sampai bus tiba-tiba berhenti dan sopirnya memaki dengan kata-kata kotor.

“Sedih itu ya, sama saja seperti perasaan yang lain. Lama atau tidaknya ia tinggal, tergantung pilihan kita.”

Aku menoleh, menatapnya yang kini sibuk mendekap tas di pangkuannya erat-erat dengan pandangan menerawang.

“Sedih buat setiap orang juga beda-beda, iya kan? Sedih versiku adalah menenggelamkan diri dalam film komedi demi film komedi, bukannya tertawa malah tersedu-sedu. Makan mi instan berhari-hari, hidup dalam timbunan sampah karena terlalu malas untuk bergerak. Tapi lalu ada jenis-jenis sedih yang lain. Jenis sedih yang muncul saat melewati padang bunga matahari, begitu indahnya sampai terharu, tapi ada sebersit sedih di balik bahagia itu. Melihat pelangi pertama sehabis hujan berkepanjangan di bulan Desember, tapi berharap dapat berbaginya dengan seseorang yang tidak ada di sana. Tertidur nyenyak setelah seharian bekerja keras, tapi terbangun dan merasa ada sesuatu yang hilang. Begitu setiap hari, kebahagiaan yang bercampur dengan rasa itu, apa pun yang kauperbuat.”

Aku termenung, memikirkan jawabannya. Mungkin aku salah. Mungkin dia mengerti – hanya saja, jenis kesedihan yang lain.

“Kamu sendiri, pasti punya kesedihanmu sendiri, bukan?” Dia bertanya dengan kerlingan penuh pengertian dalam binar matanya.

Untuk sesaat, yang dapat kulakukan hanya menatapnya, hati-hati agar wajahku tak menampakkan emosi apa pun, namun kutahu usaha itu gagal tanpa ampun. Mo sepertinya dapat memahami setiap pikiran yang terbersit, karena senyumnya memudar, dan di dalam bus itu, di dua tempat duduk di sudut, di tengah hujan dan pikiran kami sendiri, dia menyentuh tanganku.

Sejurus kemudian, mendadak bus berhenti dan kenek meneriakkan nama perhentian terakhir, dan momen itu lepas begitu saja.

**


Rabu, 14 Mei 2014

Commercial vs High Fashion



The countless hours spent watching rerun after rerun of modelling reality programs such as America's Next Top Model, the Face and Supermodel Me means I get to not only distinguish between a good makeover and a bad one, the importance of a portfolio, the need for your eyes to communicate as well as the flow and connection of your whole body and face, and also the difference between a commercial and a high fashion model.

In the programs, girls are always quickly divided and labeled into 'commercial models', whose looks are common and conventionally beautiful enough to book jobs for commercial advertisements and magazines, and those who fall into the category of 'high fashion models', who have a striking look and certain quirkiness to themselves that attribute them to high-end fashion magazines such as Vogue. The latter are the models that walk through the runways of high-end brands, those whose looks are unforgettable and have the traits of a future supermodel. You will see commercial models on buses, when you flip through a teen magazine, or have them featured in a beauty how-to editorial segment online. They will model clothes for your local mall, clad in the brands they represent - be it jeans, daily cosmetics, anti-acne products.

But the high fashion models are the ones you will remember. They will pose in unnatural angles and have their make up done in such a way that screams unconventional, but everyone of great power in the fashion industry will love it. They will strut down Fashion Week runways in see-through couture dresses, wearing nude make ups or looking as though they've just stepped out of bed, but so, so gorgeous. They are the faces you will see and think inwardly, oh, she's not that pretty, but there's something about her...

I've begun to think that this applies to writing as well.


There are the so-called commercial writers, and high fashion writers. The former can easily have bestsellers in modest to good quantities, publish more books than we think possible, and attend seminars, be in public workshops or talk-show, and have their faces in the interview segments of most magazines. Their success is wow-inducing, based on the amount of books in a specific genre that resonates with its target readers, and might even have a cult following who won't miss a single book once it hits the shelves. Their books have hits and lows - some are great to cuddle in bed with or you can't take your eyes off it during a holiday break, some are snoozers that you only read because you used to like the author.


Then there's another type of writer entirely. The literary prize winner. The one whose debut shoots up straight to the bestselling charts, where it stays for weeks, possibly months. The writing style is genius. The idea is mind-blowing. Awards after awards swoop in and carry the author's name to become a household name. Every home must have that book on their shelves. Movie producers are making deals one after another for that book, along with a string of equally famous actors to represent the adaptations. The author that makes you think, she definitely writes flawlessly, as if it took her no effort at all, though we all know it's not true... but I'm just so in awe! (and so jealous).

Deep down, I do think that is true.

I also believe that while 'high fashion' writers are born out of sheer talent (as well as hard work), it takes a genius and a rare gem of a talent to achieve that. While 'commercial' writers probably possess more luck, find a niche, or simply work harder than everyone else, and do enjoy quite a nice amount of success, often being a 'high fashion' writer is more desirable. I certainly wish I am one, though I am grateful to be where I am :)

It might take ages and lots of hard work to be that, but I also believe it is entirely possible.
It can also be that my musings are wholeheartedly wrong. After all, every writer is unique.

But deep down, I close my eyes and imagine the quirky girl on the Vogue cover, and smile.

Photo taken from ashleeholmes.buzznet.com

Senin, 14 April 2014

Rupa-rupa wajah penulis



Sejak dulu saya percaya bahwa seorang penulis memiliki berbagai 'wajah'. Awalnya, memang sulit menemukan wajah yang nantinya akan menjadi ciri khas seorang penulis. Saya pun demikian. Gaya menulis dan pilihan kata saya berubah-ubah, tergantung dari apa yang baru saja saya baca, penulis dan buku yang saya idolakan, sampai 'wajah' yang ingin saya adopsi dan gunakan. Tapi, pada akhirnya 'wajah' sendirilah yang akan muncul, dan tetap bertahan. Setidaknya, demikianlah yang terjadi pada saya.

Proses menemukan jati diri ini butuh jatuh bangun, entah berapa banyaknya kritik. Kritik membuat saya sadar, mungkin jati diri ini masih butuh banyak dipoles. Mungkin ia bukan jati diri yang tepat buat saya. Mungkin juga, jati diri ini sudah benar, namun belum cukup mantap. Pujian mengukuhkan sedikit jati diri yang perlahan-lahan terbentuk. Dari langkah-langkah goyah, akhirnya saya menemukan 'wajah' sebenarnya. Bagaimana cara mengetahui itu adalah 'wajah' yang tepat? Percayalah, saat kamu menemukannya, kamu akan tahu.

'Wajah' menulis saya sejauh ini adalah lembut, dengan kesan polos khas remaja yang menyinggung hal-hal berbau romansa, cinta pertama dan persahabatan. Hal itu terefleksikan dalam pilihan diksi, yang tidak pernah terlalu ruwet, karena saya memang pada dasarnya tidak pandai menulis dalam bahasa Indonesia. Dulu, waktu mulai menulis pertama kalinya, saya memulai dengan bahasa kedua saya yang lebih aktif digunakan, yaitu bahasa Inggris. Saya ingat banyak kritik yang dituai akibatnya - kurang menghargai bahasa Ibu, kurang lokalitasnya, dan masih banyak lagi. Jadi jika ada yang berkata bahasa yang saya gunakan enak dibaca karena sederhana dan mudah dipahami, sekarang kamu tahu alasannya :) Tapi, saya rasa, sedikit banyak pemakaian kata dan bahasa tersebut juga membantu mendefinisikan 'wajah' seorang penulis. Seperti Nina Ardianti pernah menulis dalam resensi novel Melbourne: Rewind, karya tulis seseorang mungkin memang mendeskripsikan sang penulis. Penulis yang ceria akan bercerita dengan riuh pula. Mungkin demikian, saya juga percaya itu.

Kembali lagi ke rupa-rupa wajah. Saya mulai tidak puas. Rupanya, ada 'wajah' lain yang belum tuntas terungkap. Awalnya, sisi gelap dari diri saya tersebut muncul lewat cerita-cerita pendek yang saya tulis di komunitas dan blog. Kemudian, saya mulai mengeksplorasi sisi tersebut lewat novella, yang kemudian dibukukan menjadi Unforgettable. Menurut Christian Simamora yang dulu mengedit naskah tersebut, naskah yang kali ini agak dark, ya. Dan saya setuju.

Jujur, memiliki wajah yang berbeda juga mempunyai resiko tersendiri. Pembaca yang sudah terbiasa dengan ciri khas seorang penulis mengharapkan konsistensi tersebut atau berekspektasi akan menemukan hal yang sama dalam karya-karya baru penulis. Bisa jadi, pembaca terkejut dan suka dengan sisi baru penulisnya, bisa juga justru tak suka dan berubah kecewa. Saya menghadapi keduanya. Ada yang tidak menyukai karya saya yang 'manis' dan menyukai perubahan ini, ada juga yang membencinya. Both are fine for me.

Pada dasarnya, saya hanya senang menemukan berbagai rupa 'wajah' menulis saya. It's like finding secrets on your own, a discovery that you've never known you're able to do. Sama halnya seperti menemukan kecintaan menulis dalam dua atau lebih genre berbeda. Sejak saat itu, saya bertukar-tukar gaya tulis dan genre, sesuai dengan perasaan hati dan aura proyek yang ingin saya kerjakan.

There are no limits. James Patterson bisa menulis thriller dan kisah cinta dalam dua novel yang bagai langit dan bumi. Windry Ramadhina awalnya menulis contemporary romance, lalu mendobrak tren dengan Metropolis yang terkesan misterius. Sefryana Khairil adalah penulis teenlit, yang sekarang menulis romansa kehidupan domestik dan dewasa. Ada juga yang tetap mempertahankan dan terus memoles wajahnya - Alexandra Potter dan Sophie Kinsella terus berkutat pada chicklit, Jodi Picoult pada tema-tema rumit kehidupan dewasa.

Bagaimana dengan saya? Well, I'm not sure yet. Saya ingin terus menemukan rupa yang berbeda dalam perjalanan menulis saya, dan mengejutkan pembaca sekaligus diri sendiri selagi melakukannya.

Picture taken from jamigold.com

Selasa, 25 Februari 2014

Tentang manuskrip pertama yang telah hilang


Banyak orang yang berpendapat, Remember When (dulunya berjudul Kenangan Abu-Abu), atau mungkin justru Ai, adalah naskah novel pertama saya. Keduanya bukan novel pertama yang saya penakan.

Dua malam silam, ingatan membawa saya kepada sebuah file MS Word di tahun 2000, pada manuskrip lama yang diketik kata demi kata oleh saya versi empat belas tahun. Sebelum menjelma menjadi kata-kata dalam layar, bentuknya adalah tulisan tangan dalam buku tulis lama, buah pikiran seorang anak yang tak pernah menyangka akan bercita-cita menjadi penulis.

Karakter perempuannya bernama Mecca Morris, seorang gadis enam belas tahun berambut merah dan bermata hijau, kombinasi yang hingga kini sangat saya sukai untuk seorang karakter. Laki-lakinya berambut ikal halus, bermata cokelat, namanya Daniel. Adegan prolog adalah perpisahan keduanya. Bab pertama adalah pencatatan nama pada hari pertama kelas satu SMA.

Panjangnya kalau tidak salah tujuh puluh halaman, diketik dalam font kecil nan rapat, tanpa pengaturan jeda paragraf. Ceritanya khas remaja, tentang percintaan yang dramatis, juga tentang pertentangan keluarga. Ada sedikit bubuhan fantasi di dalamnya, bagi saya yang kala itu mencintai cerita tentang keajaiban.

Sayangnya, menjelang setahun kemudian, file komputer itu musnah, kala komputer saya terserang virus. Hasil ketikan anak yang setiap sore duduk di depan komputer pertamanya untuk melanjutkan cerita sepulang sekolah itu tak dapat diselamatkan. Naskah serupa kemudian dipenakan ulang, kali ini dengan tangan. Benda tersebut kini pun entah ada di mana. Tapi hingga kini, saya masih ingat jelas apa persisnya isi cerita dalam naskah tersebut, dari awal hingga akhir. Entah kenapa, hal itu senantiasa lekat di benak saya.

Itulah sedikit cerita tentang naskah novel pertama saya. Bukan Dragonfly, naskah berbahasa Inggris yang ditulis nyaris lima tahun kemudian. Bukan Kenangan Abu-Abu, yang diselesaikan oleh saya yang berusia dua puluh satu tahun. Bukan Ai, yang usai setahun setelahnya.

Jika ditanya, apakah saya akan menuliskannya kembali? Entahlah. Saya pernah melihat buku bertema serupa di pasaran. Saya masih mencoba menyelesaikan proyek-proyek lain. Ada ide yang lebih menarik perhatian. Semua itu mungkin benar.

Yang jelas, saya tak akan pernah lupa pada manuskrip pertama tersebut. Sampai sekarang, bayangannya masih ada di balik sparepart-sparepart yang pernah membentuk PC pertama saya,  pada kali pertama saya menyadari bahwa saya senang menulis. Saya bahkan sempat berharap, saya menyadari passion tersebut jauh lebih awal.

Namun ke mana pun ia pergi, tersesat, dan berjalan jauh, ia akan kembali. Ia akan kembali, dan kau akan tahu saat menyambutnya dengan tangan terbuka.

Photo taken from http://blog.exirel.me/

Sabtu, 15 Februari 2014

Menyelesaikan naskah baru rasanya...

... campur aduk.

Saya seringkali kesulitan mendefinisikan rasa saat merampungkan proyek menulis. Meskipun belum pernah mengalaminya secara langsung, entah kenapa saya kerap kali merasa proses menulis mungkin serupa dengan melahirkan anak. Proses menulis naskah serupa melahirkan karya.

Pada waktu menulis, karya tersebut perlu kita 'jaga', yaitu dengan diberikan perhatian khusus, waktu, juga 'asupan nutrisi' yang tepat. Menurut saya, menjaganya pun tidak mudah, diperlukan konsistensi, tekad, dan sedikit keberanian serta kreativitas. Belum lagi mempersiapkan 'proses kelahiran', menyiapkan mental dan fisik. Lalu ketika lahir, ada berbagai rasa yang bermain. Senang, karena akhirnya yang dinanti telah tiba. Sedih, karena proses mengayomi karya selama berbulan-bulan telah berakhir. Lega, karena hasil jerih payah akhirnya jadi. Takut dan deg-degan, karena belum tahu apakah hasilnya akan diterima, dan jika iya, apakah akan diterima dengan respons positif.

Itulah yang saya rasakan sekarang. Naskah yang ditulis sejak pertengahan atau akhir Oktober 2013 itu selesai, dan proses self-editing plus proofreading juga telah dilewati. Ada tumpukan buku dan film yang tak sabar lagi ingin saya lahap, tapi pada saat yang bersamaan, tangan saya juga gatal ingin mengetik ide baru. Ada sesuatu untuk proyek baru yang terus mengusik benak.

Entah apa yang akan terjadi kemudian. Saya hanya ingin melewati minggu-minggu rehat ini dengan semaksimal mungkin, dan memulai proyek baru dengan semangat baru pula.

Terima kasih untuk dukungan dan semangat dari teman-teman semua.


Sabtu, 01 Februari 2014

Naskah baru 2014

image taken from und.edu


Di awal tahun baru Lunar tahun Kuda Kayu, akhirnya self-editing tahap satu untuk naskah terbaru saya selesai :-)

Seingat saya, ide untuk naskah novel ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu, setelah Unforgettable terbit. Awalnya ingin dibuat prekuel, tapi karena belum disetujui, saya kembangkan menjadi sesuatu yang baru. Awal tahun lalu, semasa menulis naskah untuk SCHOOL, justru ide untuk novel ini yang terus membayangi langkah saya, meminta untuk segera dituliskan. Di bulan Oktober, setelah kesibukan pribadi rampung dan saya sedang memikirkan ide proyek selanjutnya, naskah ini akhirnya mulai ditulis.

Kisahnya sederhana, dengan karakter-karakter remaja, walau bukan tentang cinta pertama dan persahabatan yang biasa saya angkat. Inti kisahnya adalah tentang harapan, keluarga, dan keberanian mengejar cinta. Buat saya pribadi, proses menulisnya pun tak mudah, selagi meneruskan kesibukan pekerjaan dan hanya memiliki sedikit waktu luang, proses risetnya harus menyeluruh karena menyangkut subjek yang bisa dibilang sensitif, sulit dan awam bagi saya.

Selama hampir empat bulan, saya menulis setiap malam, terkadang asyik sendiri dan kebablasan sampai larut malam. Saat menggarap naskah ini, saya tidak membaca buku, dan mulai menjauhi film-film (which I miss so dearly now). Mungkin sudah terbiasa demikian, agar saya tidak terpengaruh oleh media lain di luar apa yang bermain di pikiran. Di luar kerinduan itu, saya menikmati setiap prosesnya, walau kadang sulit dan memusingkan :-) saya suka menulis tentang konflik dalam masing-masing karakter, dan berharap mereka juga dapat hidup di hati pembaca.

Proses penulisan novel saya tetap sama: brainstorming - riset - brainstorming - menulis - riset - menulis, menulis. Setelah rampung, saya memulai self editing tahap pertama, yaitu mengetik ulang setiap kata, setiap titik, pada saat yang bersamaan mengubah bagian yang terasa kurang pas, merevisi tata bahasa, memperbaiki dialog, dan mengembangkan karakter juga narasi sembari menulis ulang. Begitu selesai, self editing tahap kedua dimulai, yaitu membaca ulang dari awal hingga akhir, dan memperbaiki alur yang kurang lancar, mengganti-ganti porsi dan peletakan bab hingga terasa pas, dan mengubah susunan cerita atau menambahkurangkan adegan yang tidak sesuai. Baru setelahnya, saya akan proofreading naskah, yaitu membaca ulang untuk memastikan semua elemen novel sudah tergali maksimal, dan tidak ada ejaan atau tata bahasa yang melenceng, menambah alternatif kosakata supaya tidak ada satu kata yang terus diulang-ulang, dan sebagainya. Demikian yang saya lakukan untuk setiap naskah, it's like this little tradition of mine, walaupun setiap kali baru mencapai halaman akhir, rasanya mau buru-buru mengirimkan naskah ke penerbit.

Bulan ini, saya menyusun target untuk mengedit tahap kedua, lalu melakukan proofreading akhir sebelum mengirimkannya ke editor di rumah penerbit. Saya belum tahu apakah naskah ini akan diterima, apa judul resminya dan jika diterima, kapan akan terbit, tapi doakan semuanya lancar ya :D

That being said, Happy Lunar New Year, everyone!

Sabtu, 14 Desember 2013

Ai: repackaged version

Nah, ini dia first look untuk novel Ai, novelku yang diterbitkan oleh Gagas Media di tahun 2009, kini diterbitkan ulang dengan kover baru. Isinya sama seperti yang dulu.

Berikut kover + sinopsis. Bukunya coming soon ya, akan segera terbit.


Bagaimana menurutmu? :-) Do let me know what you think.

Menulis di akhir 2013

Akhir-akhir ini, saya lama mengabaikan blog. Jujur, bukan hanya blog, banyak hal dalam kehidupan saya pun masuk dalam tombol pause karena kesibukan dalam pekerjaan full time saya, juga beberapa urusan pribadi. Untuk persiapan serta aspek-aspek lain yang membutuhkan perhatian ekstra, maka banyak dari proyek penulisan saya yang terhenti sementara. Mudah-mudahan, di tahun 2014 saya akan punya banyak waktu luang untuk menulis.

Sejak tahun 2012, banyak naskah yang ingin saya garap. Ide-ide bermain di kepala, namun tidak seluruhnya bisa saya selesaikan, terutama karena kendala waktu. Melbourne: Rewind adalah naskah terakhir yang saya garap sungguh-sungguh. Ingin sekali rasanya melanjutkan menulis dengan bebas, tanpa kendala, tanpa deadline, dengan serius.

Saat ini, ada satu proyek dari Gagas Media yang sudah selesai dikerjakan, yaitu bagian dari SCHOOL. Genrenya remaja, dan saya menulis dengan setting asing, serta mengundang kembali cameo berupa dua karakter utama dari novel terdahulu saya. Naskah ini kemungkinan akan terbit tahun depan, menunggu launching SCHOOL.

Di luar itu, novel Ai akan relaunch dalam versi repackage - isinya sama, hanya ada pergantian kover dengan warna fuchsia yang mencolok. Rasanya senang dapat mengunjungi kembali tahun 2009 bersama Sei, Shin dan Ai.

Film Remember When juga sedang dalam tahap pre-produksi. Jika lancar, Rapi Film akan mulai produksi tahun depan. Selain Remember When, ada salah satu naskah novel saya yang dijadikan basis untuk film. Begitu sudah ada kepastian, akan saya share info lebih lanjut :-)

Sekarang saya sedang mengerjakan satu naskah baru. Sebenarnya sudah lama ingin saya mulai, dan saat menulis untuk SCHOOL, justru proyek inilah yang menggelitik saya dan sempat membuat tergoda untuk banting setir, tapi tidak saya lakukan karena naskah untuk SCHOOL sudah mendekati deadline-nya. Kini, di kuartal terakhir 2013, akhirnya saya berkesempatan memulainya. Genrenya remaja, dengan setting Jakarta. Saya ingin menulis tentang keseharian remaja seperti dulu, apa adanya.

Bagian tersulit dari naskah ini adalah risetnya, dan waktu menulis. Temanya yang membutuhkan riset menyeluruh cukup menjadi tantangan tersendiri, dan hingga kini pun saya masih terus meriset sembari menulis. Sekali, saya menulis ulang dan merombak tatanan cerita karena pernah mencoba membuat drafnya tanpa riset yang benar. Sempat juga fokus terbagi untuk hal lain, atau merasa malas melanjutkan naskah. Tapi, saya bertekad untuk menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh di tahun 2014.

Buat saya, riset adalah hal terpenting dalam menulis, juga yang tersulit. Memiliki narasumber lebih sulit lagi, kali ini sudah dua kali usaha untuk mencari narasumber berbalik. Namun demikian, saya belum ingin menyerah.

Sekarang, waktunya kembali melanjutkan naskah tersebut. Mudah-mudahan progress berjalan lancar, dan di suatu waktu, saya bisa berbagi excerpt salah satu babnya dengan teman-teman semua.

Happy weekend, semuanya!

Kamis, 02 Mei 2013

Sneak peek novel Melbourne: Rewind

Dear readers,

My new book is going to hit the stores soon! Kira-kira pertengahan tahun, bagian dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita.

Berikut sinopsisnya:



MELBOURNE
Winna Efendi
Rewind

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,

EDITOR

Dan berikut first chapternya.



Max

Sejak kecil, gue selalu terpesona pada cahaya. Kilatan petir, sebentuk garis perak yang membelah langit sesaat sebelum guntur menggelegar. Bintang jatuh. Kunang-kunang. Cahaya redup di ekor pesawat. Konstelasi yang membentuk peta langit. Mercu suar. Remang lampu di tepi jalan. Oranye gelap yang berubah kemerahan menjelang matahari terbenam.

Gue masih ingat suatu hari di mana kami sekeluarga memutuskan untuk camping di kebun belakang rumah, dengan tenda yang didirikan seadanya, dan sebentuk alat grill bekas yang kembali berasap setelah menganggur sekian tahun. Beberapa hari sebelumnya, gue baru saja mengalami kecelakaan kecil. Sepeda terantuk batu, dan gue yang sukses terjerembab di pinggir jalan, lalu berakhir di rumah sakit dengan gigi depan patah dan keretakan tulang siku. Di otak Max kecil versi sepuluh tahun, bagian terburuknya bukanlah keluar masuk ruang operasi untuk memperbaiki luka-luka di tubuh gue, tapi ketinggalan acara field trip sekolah yang sudah gue nantikan penuh harap selama berminggu-minggu. Ma dan Pa, begitu gue menyebut kedua orang tua gue, nggak bergeming dengan tangisan dan rengekan maupun pujian dan ratapan, bersikukuh dengan perintah supaya gue tetap di rumah selama sebulan penuh.

Nggak ada lagi lari-lari di lapangan, main sepak bola, manjat pohon mangga tetangga. Sebulan tanpa udara segar, ngebut sepeda dengan Ted dan Benny, jajan di luaran, kegiatan outdoor liburan musim panas… Lebih parahnya lagi, masuk sekolah hanya untuk menjadi pendengar pasif bagi kisah petualangan luar biasa teman-teman sekelas yang kamping di hutan, berinteraksi dengan alam dan makan roasted marshmallows di depan api unggun. Gue akan terpaksa harus puas hanya membolak-balik foto polaroid di mana nggak ada jejak gue sama-sekali. That’s gotta suck big time.

Tapi malamnya, Ma dan Pa menggiring gue ke kebun belakang. Di sana, sebuah tenda sederhana berbau apak telah dibangun, lengkap dengan rib-eye gosong masakan sendiri di atas piring kertas yang lembek karena berlumur minyak dan ketchup. Kata Pa, ini kejutan untuk menghibur gue yang murung. Kata Ma, ini hanya alasan kamuflase Pa yang juga rindu dengan aktivitas outdoor yang dulu ditekuninya semasa kuliah. Dulu, sebelum sebuah kecelakaan merenggut kemampuan berjalannya dengan baik.

Semalaman, kami main tebak-tebakan sambil menunggu hujan bintang yang diperkirakan akan muncul menjelang tengah malam. Membentuk bayang-bayang binatang dengan senter dan lipatan tangan. Menamai rasi bintang sebisa kami. Favorit gue adalah memandangi pesawat meninggalkan landasan, menghilang di balik gumpalan awan, sampai tiada sama sekali.

Rumah masa kecil gue dekat dengan bandara – sebuah keberuntungan, sekaligus kesialan. Ma kerap kali mengeluh bahwa keributannya bisa membangunkan orang mati sekali pun. Deru mesin kapal terbang yang pulang pergi tiap harinya memang cukup bising, terutama di saat gue sedang tidur dan tiba-tiba tersentak kaget akibat bunyi dan getaran barang-barang, menyerupai gempa berskala rendah. Pernah sekali, dalam kepanikan berusaha menyelamatkan diri, gue yang masih separuh tertidur menyambar selimut dan harta benda seadanya, lalu berlari keluar hanya mengenakan celana boxers, sampai akhirnya baru menyadari bahwa yang barusan terjadi bukanlah hari kiamat. Lama-kelamaan, gue terbiasa, bahkan mulai sering duduk sendirian di atap, merokok sambil memandangi kerlip lampu pesawat – menjauh, menjauh, lalu hilang seluruhnya. Hingga kini pun, setiap jauh dari rumah, yang gue kangenin adalah dengung mesin pesawat, dan jejak kecil di atas langit yang menunjukkan kepergian atau kepulangan seseorang.

Itulah awal mula sejarah gue dengan cahaya. Sejak saat itu, gue mulai mencari tahu lebih banyak tentangnya. Kekaguman gue akan ciptaan Tuhan yang satu itu nggak pernah habis. Gue mulai terobsesi; pada kaleidoskop, yang bentuknya berubah seiring dengan perputaran tabung dan cahaya yang terpantul olehnya, pada laser show, pada LED art, juga cahaya alam, seperti gerhana dan segala keindahan yang menyertai keajaibannya.

Buat gue, cahaya adalah konsep universal, tapi sebenarnya sangat pribadi. Setiap orang dapat melihatnya, merasakannya, tapi persepsi mereka mengenainya bervariasi, tergantung emosi dan pengalaman sang penglihat. Interpretasi seseorang terhadap cahaya berbeda-beda, begitu juga makna cahaya tersebut bagi mereka. A light is never just light. Cahaya, seredup apa pun, mampu mengiluminasi kegelapan, dan menjadi medium yang menghidupkan dunia. Bagi gue, cahaya adalah hal terindah di dunia ini.

Yet whenever I think of light, I’m always reminded of her.

**

Namanya Laura. Laura Winardi. Golongan darah AB negatif, vegetarian yang tergila-gila pada makanan manis, fanatik warna ungu, penyuka kucing, alergi seafood, dan bisa sangat defensif jika disinggung mengenai selera musiknya, yang menurut gue sulit dimengerti.

Gue pertama kali ketemu Laura enam tahun yang lalu, di gedung fakultas arsitektur Melbourne Uni. Hari itu hari yang biasa-biasa aja buat gue, seperti biasa bangun agak telat, datang terlambat, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sang dosen sedikit terlambat juga. Begitu kelas berakhir, gue sedang tergesa-gesa menuju kelas selanjutnya ketika dia menghalangi langkah gue dengan tangan terulur dan bilang, “I want my walkman back.”

Saat itu, gue berdiri dengan tampang huh? yang paling polos, sedangkan dia mengulurkan sebelah tangan berbalut sarung wol warna merah marun sambil terus memandangi gue, seakan berharap gue akan melakukan satu trik magic yang menakjubkan dan mengeluarkan apa pun yang dia minta dari udara kosong.

Oke, harus gue akui waktu itu, pikiran terakhir yang melintas di otak gue yang sedang butuh kafein bukanlah masalah apa yang dia mau dari gue. I was thinking – eh, nih cewek lucu juga.

No, scratch that, she’s actually really pretty. Tinggi, berkaki jenjang dan berambut ikal yang tergerai hingga punggung. Dia mengenakan begitu banyak lapisan pakaian yang membuatnya terlihat seperti manekin toko baju dingin, mulai dari jaket winter merah hingga sweater tebal di baliknya, lengkap dengan syal dan boots berwarna sama. Wajahnya oval, bintik-bintik cokelat muda tersebar seperti konstelasi bintang di kedua pipinya. Giginya gemeletuk karena musim dingin di Melbourne sedang parah-parahnya, sedangkan hidungnya merah walau seluruh wajahnya pucat. Dan tangannya – sangat, sangat mungil seperti milik anak kecil, terjulur meminta sesuatu yang nggak gue miliki.

“Excuse me, my walkman?” ulangnya, kali ini kehilangan kesabaran.

Respon gue kurang lebih adalah raut blank yang mungkin menyebalkan baginya, karena dia lalu memelototi gue dengan garang dan mengacungkan selembar kertas berisi sketsa walkman jelek warna hitam dengan tulisan spidol: LOST WALKMAN dan sederet nomor telepon.

Gue baru saja mau protes dengan bilang orang gila mana yang mencari walkman jaman jebot layaknya anjing hilang, saat gue teringat bahwa gue memang pernah melihat benda itu. Sebuah walkman segi empat yang terlihat sudah terlalu sering dipakai hingga permukaannya lecet dan tombol rewind yang sudah nggak berfungsi lagi. Sepasang earphone yang tersambung pada alat itu, dengan busa tempelan yang sudah babak belur, dan kaset di dalamnya yang agak sember saking seringnya diputar. Gue menemukannya di konter Lost and Found di gedung kampus, saat sedang mencari-cari buku perpustakaan yang nggak sengaja tertinggal di salah satu ruang kelas.

Entah kenapa, walkman itu menarik perhatian gue, terlihat aneh dan out of place di samping sepasang sepatu gym tua yang tak berpemilik, pakaian renang bekas bermotif bunga-bunga, dan setumpuk buku yang mulai mengumpulkan debu. Gue pikir, benda itu kemungkinan besar sudah cukup lama berada di sana, dan siapa pun pemiliknya pasti sudah mengambilnya jika memang masih menginginkannya. Lagipula, orang jadul mana yang masih menggunakan walkman di era MP3 player seperti sekarang? Jadi, tanpa alasan yang jelas dan justifikasi ini-itu, gue pun mengaku sebagai pemiliknya dan memboyong benda itu pulang, walau sampai sekarang sang walkman masih bersarang di dasar ransel, tertumpuk barang-barang lain, terlupakan.

Gue pernah mendengarkan kaset yang ada di dalam walkman itu sekali. Kebanyakan adalah lagu-lagu yang nggak gue kenal, lirik-lirik sendu bernada mellow rock yang diiringi petikan gitar akustik atau sesekali pukulan drum. Bukan selera gue, dan bukan jenis musik yang akan gue cari di toko CD, tapi saat mendengarkannya, gue tertidur pulas hingga pagi menjelang, walau biasanya gue orangnya susah tidur. Waktu kami masih pacaran, kadang gue bahkan meminjamnya hanya untuk mendengarkannya sebelum tidur. She used to say, it’s like a little fetish of mine, dia dan lagu-lagunya. Dia benar.

Kalau gue pikir-pikir sekarang, mungkin kehilangan buku dan menemukan walkman itu di sana adalah takdir, permainan hidup yang bertujuan untuk mempertemukan gue dan dia.

Walkman itu sepertinya sangat berharga buat sang empunya, karena ekspresi wajahnya saat mendapatkan kembali benda itu seperti seseorang yang baru saja menemukan harta karun tujuh-temurun. Gue terpana memandang dia berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih – which is ineffectual karena toh memang gue yang ‘mencuri’ barangnya – sampai gue sadar, sedari tadi gue masih memegang fotokopi selebaran walkman hilang lengkap dengan nomor telepon pemiliknya.

And the rest is history. Lo pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tepatnya, begini sejarah kami: gue dan Laura ketemu, kami pacaran, kami putus. End of story.

**

Sabtu, 16 Maret 2013

Mengapa menulis?



photo credit: mydharma.ca


Baru-baru ini, sebuah pesan masuk ke dalam inbox Goodreads saya. Seorang kenalan penulis bernama Aksara bertanya, mengapa menulis?

Pertanyaan itu terus-menerus muncul di benak, membuat saya tergugah untuk menulis ini di blog, yang terus terang mulai terabaikan karena kesibukan hehehe.

Mengapa menulis?

Saya bisa memberikan begitu banyak jawaban, tapi semuanya merupakan kamuflase bagi pertanyaan: mengapa menulis untuk diterbitkan? Yang pertama, karena idealisme pribadi yang awalnya bercita-cita untuk menerbitkan satu buku sebelum mati. Idealisme ini awalnya bermula dari mimpi, tapi dilandasi juga oleh keinginan kuat untuk membuktikan kalau saya bisa, kepada orang-orang yang pernah menentang keinginan ini. Bisa juga sebagai cara saya mengeksplorasi diri, karena saya ingin tahu apa saya benar-benar bisa menulis dan punya buku yang diterbitkan, atau memang hanya sekadar angan pungguk yang merindukan bulan. Idealisme yang ada semakin diperkuat saat saya bergabung dengan komunitas penulisan. Di sana, saya merasa 'terasah', berkomunikasi dengan sesama pencinta dunia penulisan, menerima berbagai kritik bertubi-tubi, juga pujian. Dari sana, begitu banyak yang saya pelajari dan rasakan, membuat saya semakin yakin bahwa ini dunia yang ingin saya geluti. Lalu, satu-persatu teman-teman komunitas mulai menerbitkan naskah mereka, kebanyakan lewat penerbit-penerbit terkenal. Jujur, walau saya merasa kagum, saya juga iri luar biasa. Akhirnya, rasa-rasa itu berkembang menjadi keinginan yang lebih lekat dan memacu saya untuk terus berusaha.

Idealisme kembali muncul saat beberapa naskah saya akhirnya berhasil diterima penerbit dan diterbitkan. Dari sana, terngiang ucapan beberapa orang, teruslah menulis! Ada deadline yang kasat mata, keharusan tak tertulis untuk terus berkarya karena saya tidak bisa membiarkan jeda yang terlalu lama dan karya selanjutnya perlu menyusul. Lalu, ada idealisme dalam diri yang mengeset target pribadi, padahal tidak ada yang menagih.Satu dua naskah setahun. Selama ini, saya berusaha menepati 'janji' itu kepada diri sendiri, meskipun sulit, terutama saat jadwal tidak memungkinkan, atau ide enggan menyangkut.

Akan bohong kalau saya tidak menyebutkan bahwa alasan materi pun berpengaruh sebagai jawaban: mengapa menulis untuk diterbitkan? Selama ini, saya menganggap royalti menulis adalah hasil jerih payah yang seluruhnya merupakan milik saya, hasil bergadang menulis, menyempatkan diri di setiap celah waktu, dan berbulan-bulan mengetik, menghapus dan mengedit. Alasan materi pun salah satu alasan signifikan yang melandasinya.

Tapi, kembali lagi ke pertanyaan: mengapa menulis? Mengapa menulis walau naskah hanya mengendap dan tidak diterbitkan, mengapa menulis walau tidak ada deadline atau proyek khusus, mengapa membuka laptop dan mengetik walau merasa lelah, mengapa menulis sungguh-sungguh walau ini kesannya 'hanya' pekerjaan?

Saya tercenung memikirkannya sejenak, dan hanya ada satu jawaban. Saya sungguh tidak tahu.

Yang saya tahu adalah, kata-kata ini mengendap di kepala, menunggu untuk dimuntahkan. Karakter-karakter hidup dalam diri saya, menunggu dengan sabar sampai kisah mereka diceritakan, walau kadang tak sabar juga sih karena saat waktu tak tepat pun mereka terus mendesak :) karena saat saya tidak menulis untuk beberapa waktu, saya merindukannya, tak sabar mencoret-coret buku catatan, atau sampai kata-kata muncul di layar laptop yang tadinya kosong. Karena saat menulis, saya memudar dari dunia saya dan muncul kembali dalam dunia yang saya kreasikan, seperti sebuah rahasia di mana hanya saya yang tahu.

Ah, saya suka menulis. Itu saja jawaban saya. Karena di suatu titik waktu, saya cukup beruntung untuk menemukan satu hal yang saya cintai, dan kebetulan saya diberkati dengan kemampuan untuk melatihnya dan menjadi lebih baik dalam bidang tersebut. Karena saya kemudian sangat beruntung sebab memiliki kesempatan untuk menerbitkan karya, agar dapat dibaca khalayak luas, dan mimpi saya menjadi nyata. Dari sekian banyak hal dalam hidup yang saya syukuri, ini adalah salah satu yang duduk dalam posisi teratas.

Jadi, saya bersyukur, dan tidak mau menyia-nyiakannya. Saya menyukai tulis-menulis, dan ingin melakukannya seumur hidup. Saya beruntung, memiliki pekerjaan yang merupakan passion saya, dan sebaliknya juga, bisa menjadikan hobi ini menjadi pekerjaan.

Mengapa menulis?

Karena saya ingin, dan saya suka. Sesederhana itu :) terima kasih Aksara karena membuat saya berkilas balik dan menyadari satu hal ini.

Rabu, 03 Oktober 2012

Tidbits on my upcoming novel draft

175 pages. 43 172 words.

Saat ini, itulah yang saya punya. Judulnya masih belum ditentukan, begitu pula tagline-nya. Naskah ini saya mulai sudah cukup lama, awal tahun 2012 atau mungkin sebelumnya, entahlah saya tidak terlalu ingat. Yang pasti, saya memulai ide ini sudah beberapa tahun yang lalu, tentang sepasang sahabat dewasa yang berteman dekat dan berusaha melawan rasa ketertarikan kepada satu sama lain. Tapi, ide itu mengalami puluhan rombakan hingga esensinya berubah jauh dari itu semua.

Saya belum bisa menceritakan detail tentang apa naskah terbaru saya ini, juga kapan akan diterbitkan (jika semua lancar, kemungkinan besar pada semester pertama tahun 2013). Naskah ini merupakan partisipasi saya untuk salah satu proyek Gagas Media; lagi-lagi tentang apa, saya belum bisa bercerita lengkap. Lucunya, saya memang sedang dalam proses memenakan naskah ini ketika ternyata temanya sesuai dengan apa yang diperlukan oleh proyek tersebut :) I consider myself really lucky because of that.

Ini adalah naskah novel dewasa. Seperti biasa, tidak banyak adegan 'benar-benar dewasa' dan eksplisit yang dituliskan, walau sedikit lebih terbuka dibanding apa yang ada di Unforgettable. Dari segi gaya bahasa dan eksperimental bercerita, tidak, naskah ini tidak sejalur dengan Unforgettable, yang jauh berbeda dari tulisan saya selama ini. Kalau bisa dibilang, naskah ini adalah campuran antara gaya menulis saya dalam Refrain dan apa yang ada dalam Unforgettable, disertai bumbu-bumbu dari Ai, Remember When, Truth or Dare, bahkan Unbelievable.

Saya menuliskannya selama 4 bulan (pure writing, with a bit of research), dan hampir 1 bulan untuk mengedit tahap pertama (seperti biasa, mengetik ulang kata demi kata dan mengubah susunan paragraf juga babnya). Kini saya baru saja menyelesaikan editing tahap pertama, dan akan berlanjut ke editing tahap kedua (mengganti susunan sekali lagi jika perlu, memperbaiki specific chapter yang memerlukan perbaikan, dan menambah atau memotong adegan). Fingers crossed agar naskah ini bisa selesai sebelum tenggat waktu (Desember 2012), atau mungkin lebih awal (hopefully this month).

Saya tidak ingin muluk-muluk dalam berkarya. Kadang, ada kangen yang terasa kalau lama nggak menyentuh laptop untuk menulis. Saat menulis, sering ada rasa frustrasi karena tulisan nggak sebaik yang diinginkan. Saat menulis, banyak godaan yang mengganggu, baik tumpukan buku dan film baru, ide baru...

I've been thinking lately, saya tidak punya sesal apa pun terhadap karya-karya saya. Bahwa buku pertama saya gagal di pasaran, kemudian disusul dengan Ai, Refrain, dan novel-novel lain. Tentang karya yang diterbitkan ulang selanjutnya, dan urutan-urutan novel yang diterbitkan. I look back and I see that I've been so blessed and there are no regrets, baik maupun buruk. Saya tidak pernah menyesal telah menuliskan karya-karya itu, dan mereka menjadi bukti nyata kehidupan saya yang bermetamorfosa. Seperti manusia pada umumnya, saya punya momen jatuh bangun, baik buruk. Karya tidak akan selalu disukai semua orang, baik cerca dan pujian akan saya terima. Akan ada momen lemah dalam buku-buku saya, juga poin-poin baik. Akan ada kelebihan, juga kekurangan. Yang saya harap hanyalah, saya dapat terus menulis tentang hal-hal yang saya sukai, dan mengeksplorasi koneksi antar manusia dan hubungan-hubungan yang ada, karena selama ini itulah yang melandasi cerita-cerita saya.

Hari ini saya terinspirasi oleh profil Lois Lowry dalam halaman Goodreadsnya. Panjang, dan bercerita tentang hidupnya. Dia tidak membanggakan karyanya dengan panjang lebar menuliskan urutan bukunya yang sudah terbit, juga penghargaan apa saja yang dia dapatkan (dan saya yakin sudah banyak sekali). Beliau bercerita tentang kehidupannya sebagai anak tengah. Ketika kakaknya seperti ibunya, adik lelakinya seperti ayahnya, dia sering sendirian di rumah dan menghabiskan waktu dengan bacaan dan tulisan. Lalu beliau menikah muda, dan hidup berpindah-pindah, sampai akhirnya melanjutkan sekolah dan mulai menulis. Passion terbesarnya adalah menulis tentang hubungan manusia.

Betapa inspiratif dan betapa rendah hatinya. Di umur yang sudah sangat matang, beliau masih menelurkan karya (Son, seri keempat The Giver yang saya sukai). Beliau tidak membanggakan diri, dan tidak ingin berhenti berkarya.

Suatu hari, saya ingin seperti beliau. Mungkin hanya angan, tapi saya ingin bermimpi sejauh mungkin :)

Senin, 01 Oktober 2012

Cuplikan dari Draf 1: tips membentuk chemistry dan hubungan antar karakter


taken from Gagas Media note dan seri tweets tentang writing yang dishare hari ini di @WinnaEfendi.

Pernah membaca novel di mana chemistry antar karakternya begitu kental dan kuat, sehingga membuat kita gregetan dan ingin terus membaca kisah mereka?

Chemistry alias kecocokan antara karakter adalah salah satu tolak ukur kesuksesan novel, terutama untuk novel bergenre romance. Beberapa contoh hubungan karakter dalam novel yang menurut saya dituliskan dengan baik dan memiliki chemistry kuat adalah Alex Fuentes dan Brittany Ellis dalam Perfect Chemistry, Jo dan Emi dalam Pillow Talk, serta Evan dan Fiona dalam Promises, Promises. Chemistry yang baik akan langsung terasa begitu membaca interaksi di antara karakter dalam novel—either you feel it, or you don’t.

Chemistry tidak hanya dibutuhkan untuk novel dengan tema percintaan. Salah satu rahasia novel sukses ada di balik hubungan yang dinamis antar para karakternya—baik itu hubungan permusuhan (Harry Potter dan Voldemort), keluarga (hubungan empat bersaudari March dalam Little Women), persahabatan (seri Sisterhood karya Ann Brashares), hubungan kerja (The Devil Wears Prada), hubungan dengan binatang peliharaan (Marley and Me), hubungan asmara (Romeo and Juliet), dan masih banyak lagi.

Hubungan antar karakter dapat berupa hubungan inti yang menjadi tulang belakang cerita, atau berupa bagian dari sub-plot yang fungsinya hanya untuk mendukung cerita. Chemistry, emosi, ketegangan dan dinamika dari hubungan inilah yang seringkali membuat pembaca terlibat secara emosional, juga tertarik untuk terus membaca. Karenanya, kita perlu mengeksplorasi hubungan antar karakter. Tapi, bagaimana caranya menciptakan hubungan antar karakter yang dinamis?

Berikan mereka interaksi yang menarik

Hubungan macam apa yang dimiliki karaktermu? Apakah mereka berteman dekat, atau justru sering bertengkar bagai anjing dan kucing setiap kali bertemu? Suguhkan interaksi yang menarik lewat bahasa tubuh dan dialog karakter. Kedua aspek itulah yang membangun chemistry dan menunjukkan hubungan yang terbentuk antar karakter.

Manfaatkan konflik dan ciptakan hubungan yang berkembang

Hubungan yang dinamis berarti hubungan yang penuh intrik, terus berkembang, dan tidak stagnan. Misalnya, hubungan sepasang sejoli semakin kuat setelah diasah oleh berbagai macam masalah, seperti halnya Nabil dan Sarah dalam novel Dongeng Semusim, juga Krisna dan Zahra dalam Rindukarya Sefryana Khairil. Di sinilah kita membutuhkan konflik.

Konflik eksternal, seperti pengkhianatan atau kehilangan seseorang yang berharga, akan mempengaruhi hubungan yang ada. Atau, ciptakan konflik batin yang menyebabkan dilema tersendiri akibat hubungan tersebut, baik dalam bentuk moral, tradisi, kewajiban, pihak ketiga... anything goes.

Anna Karenina sudah bersuami saat ia bertemu dengan belahan jiwanya, sedangkan perceraian pada eranya dianggap aib besar. Sei Matsumoto menyayangi Ai, tapi khawatir rasa cintanya akan merusak persahabatan mereka. Bintang dan Kaila dalam Hujan dan Teduh saling mencintai, tapi cinta sesama jenis sudah jelas sulit diterima oleh masyarakat. Reno dalam Lupakan Palermo sudah memiliki pacar di Indonesia, namun tidak dapat menahan rasa yang timbul setiap kali berhadapan dengan Francesca, gadis yang ditemuinya di Sisilia. Dalam the Devil Wears Prada, karakter utamanya terpaksa mengorbankan kehidupan pribadinya demi pekerjaannya, bahkan harus melepaskan nilai-nilai moral yang dipegang erat jika ia tidak ingin kehilangan pekerjaan tersebut.

Berikan karaktermu dua beban yang sama beratnya. Berikan mereka pilihan. Berikan mereka pengorbanan dan perubahan. Konflik akan membuat hubungan yang ada lebih kuat dan matang.

Gunakan adegan yang menggugah emosi

Kita dapat memainkan emosi pembaca lewat kejadian menyentuh, seperti adegan John dan Jenny Grogan yang mengadakan pemakaman khusus untuk Marley anjing mereka, atau adegan intens, seperti dalam adu kekuatan Harry Potter dan musuh-musuhnya yang bikin penasaran. Ciptakan adegan-adegan yang dapat memperkuat hubungan antar karakter.

Kreasikan hubungan yang unik

Kunci hubungan antar karakter yang kuat terletak pada kemampuan penulis dalam mengolah hubungan tersebut menjadi sesuatu yang unik dan menyentuh. Karenanya, jauhi tipe-tipe hubungan yang standar dan sudah terlalu sering digunakan.

Ciptakan satu titik temu untuk para karakter

Untuk mengembangkan relasi antar karakter yang seru dan nggak klise, coba pikirkan mengapa dan bagaimana relasi itu terbentuk. Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk memikirkan poin ini saat menulis novel Refrain. Bagaimana para karakter utamanya terhubung? Bagaimana mereka bertemu untuk pertama kalinya, dan kejadian apa yang mendekatkan mereka? Mengapa Annalise bisa dekat dengan Nata dan Niki, padahal selama ini dia cenderung menghindari hubungan pertemanan? Relationships are not instant. We have to develop them gradually. Akhirnya, saya menciptakan adegan di mana mereka bertiga dihukum karena membolos pelajaran, akibat menunggu kedatangan ibu Annalise di bandara. Dalam satu adegan ini, saya mencapai dua tujuan—menonjolkan hubungan antara Annalise dan ibunya, juga membawa hubungan ketiga karakter utama ke tahap yang lebih akrab.

Eksplorasi perasaan setiap karakter yang terlibat

Bagaimana perasaan karakter terhadap karakter lain? Opini dan perasaan karakter akan sangat mempengaruhi hubungan mereka. Pada pembukaan novel Pride and Prejudice, Elizabeth Bennet tidak menyukai Mr. Darcy, bahkan menganggapnya menyebalkan dan sombong. Hal ini membuat hubungan mereka canggung. Dari persepsi awal yang terbentuk, kita dapat memperkenalkan elemen yang mendorong perkembangan cerita, baik itu surprise yang tak disangka (ternyata Mr. Darcy baik hati, tidak seperti perkiraannya), atau sebaliknya (intuisi Elizabeth terbukti karena Mr. Darcy ternyata memang arogan). Hubungan yang dinamis lantas akan terbentuk.

Hubungan antar karakter adalah inti dari cerita. Kenali karaktermu, analisis dan eksplorasi hubungan yang ada. Relationships are complicated. Make them memorable.


Tips Membangun Hubungan Antar Karakter diambil dari DRAF 1 karya Winna Efendi (GagasMedia, 2012)