Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Jumat, 17 September 2010

Kissing You (Miranda Cosgrove)

One of my favorite songs at the moment
somehow it always reminds me of you :)

Sparks fly it's like electricity
I might die, when I forget how to breath
You get closer and there's no where in this world I'd rather be
Time stops like everything around me is frozen
And all that matters are theese
Few moments when you open my mind to things I've never seen

Cuz when I'm kissing you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissing you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
How clear it becomes when I'm kissing you

Past loves they never got really far
Walls of pictures I've got in my heart
And I promise I wouldn't do this
Till I knew it was right for me
But no one, no guy that I met before
Could make me feel so right and secure
And have you noticed I loose my focus
And the world around me disapears

Cuz when I'm kissing you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissing you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
How clear it becomes when I'm kissing you

I've never felt nothing like this
You're making me open up
No point in even trying to fight this
It kinda feels like it's love

Cuz when I'm kissing you my senses come alive
Almost like the puzzel piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissing you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
How clear it becomes when I'm kissing you

Day 9: photos that I took

I've been neglecting this blog for weeks, both intentionally and unintentionally. Been really busy these couple of weeks, so I apologize for any unreplied messages, ignored posts and unresponsive behavior of any kind.

Regarding my MEME challenge, yes I haven't been able to continue writing. Therefore rather than not finishing what I've started, I think I'll begin again, slowly this time. Whenever I have the time, I'll continue my MEME journals.

The next topic on the list is a photo that I took. I haven't taken lots of pictures recently, and I am not a very good photographer, even if I do enjoy photography and art. I've been on a trip to Taiwan recently, so I'll be posting some pictures that I took with my phone.



This is Shihlin Night Market, one of the most popular night markets in Taipei. A friend, Jean, told me that there are three popular night markets there, one famous for food (Gongguan, if I'm not mistaken), one famous for little knick knacks (Shihlin), and another famous for fashion.


Even though I only have one night to spend in Taipei, and I'd rather spend hours on an Eslite bookstore (where they film Au Revoir Taipei), I enjoyed Shihlin night market a lot. It was such fun to be on an overcrowded street, blending in with both locals and tourists. The smell of street stall food was in the air - we could have one of those red sticky round candies, or hot thick paste squid noodle soup. We could have barbecued beef or chicken or pork with sauce, and finish them off with refreshing frog eggs drinks (don't worry, they're not really frog eggs).



Shihlin Night Market consisted of long streets with lots of stores; trendy Korean style clothing, street stalls selling anything you could possibly think of, candies, snacks, food stalls.. it was so much fun roaming around, and the price range varied from downright cheap to really expensive.


The crowd started from around 6 in the evening and subsided when it got closer to 9 or 10. The market opened till midnight though, and it was such a hip place that everyone looked so trendy :)

Bargains: I got a French lounge music CD for only 2 bucks, some snacks and mouth watering food (loved the stinky tofu), a solar lucky cat stand, and my mom got a lime colored blouse.

Minggu, 01 Agustus 2010

Day 08 - a photo that makes me sad

Not going to post any photos here, but I will tell you a story about the photo that makes me sad.

Just flicking around the photos in my digital camera a while ago when I stumbled across the last one. It was of my family, on Chinese New Year around 4 years ago. My grandfather was on a wheelchair, not quite looking at the camera. He looked so frail and so old, it brought tears to my eyes.

He died 3 years ago. It was during the early weeks of Eid Mubarak, and I remember sitting on the hospital cafeteria, waiting. And then he was gone.

It was the first time a close family member died.

So when I looked at the photograph, I was constantly reminded of how it used to be, the trip we took to the zoo and arcade, the things he'd done when we were younger, the things he said, and the look on his face.

Day 06 - a photo that makes you happy



Photos of flowers, the sky, the ocean, lights, and Ferris wheels especially make me happy. So here's one from a website. I think it looks beautiful.

Out of every flower in the world, daisies are my favorites in a photograph. They look so spunky, energetic yet innocent. Not as elegant as lilies, not as beautiful as roses, not as strong as sunflowers, not as carefree as dandelions, but there's something so sweet and pure about daisies..

Sabtu, 31 Juli 2010

-muse-

I think of you..
and I write

:)

Day 06 - cerita mengenai langkah



Alkisah, ada seorang lelaki dan kekasihnya seorang perempuan. Sang lelaki terbiasa berjalan sangat cepat, langkahnya panjang, mantap dan tegas. Sedangkan sang perempuan, seberapa berusahanya dia untuk melangkah, seringkali tidak mampu sejajar dengan sang lelaki.

Suatu hari, sang lelaki dan sang perempuan sedang berjalan berdampingan. Sang lelaki mencoba berjalan lebih lambat, namun langkah-langkahnya yang panjang tetap menciptakan jarak antara ia dan kekasihnya. Sedangkan sang perempuan mulai tertinggal di belakang.

Sambil memandang ke depan, sang perempuan mendadak berhenti berjalan.
Sang lelaki menoleh ke belakang, kecewa karena perempuan itu berbuat demikian.
Sang perempuan hanya ingin tahu, apakah lelaki itu akan menunggu atau terus berjalan menjauh.

Malam itu, sang lelaki bercerita mengenai kisah sepasang kakek nenek yang sudah tua.

Sang kakek berjalan dengan sangat cepat, sedangkan sang nenek berjalan dengan sangat lambat. Suatu hari mereka terpisah cukup jauh. Namun sang kakek terus berpikir.. "Dia pasti tidak akan berhenti berjalan untuk menemukan aku" dan sang nenek juga berkata dalam hati, "Dia tidak akan meninggalkanku, dia pasti akan memperlambat langkahnya dan terus menunggu sampai aku datang."

Sang lelaki berkata, kepercayaan adalah segalanya yang membuat mereka demikian. Dan sejak saat itu, sang perempuan tidak pernah berhenti lagi.

Jumat, 30 Juli 2010

Menulis yang seperti itu

Belakangan ini saya sungguh berhenti dari sejurus rutinitas yang biasanya jadi bagian besar dalam hidup saya. Baik itu menulis, membaca, menonton DVD tengah malam sambil mengemil apa pun yang tersedia di meja makan.. Yang paling saya rasakan adalah, betapa kesibukan demi kesibukan menghimpit dan menjadi prioritas saya.

Tidak salah, memang. Prioritas-prioritas tersebut pun adalah hal terpenting yang saya pilih dan menjadi komitmen saya.

Kadang, jujur saya kangen pada menulis blog dan cerpen-cerpen mellow.
Kadang, saya kangen duduk di balik meja kayu saya di kantor, menerima telepon, browsing dan BBM di sela-sela kerja. Di mana saya masih berangkat jam 8 dan pulang jam 5 teng, kadang lebih awal dari itu.
Kadang, semuanya terlihat mudah dulu.

Tapi tidak ada yang saya sesali. Rindu-rindu kecil tersebut adalah nostalgia. Mereka adalah fragmen masa lalu yang menjadi bagian dari hidup saya, dulu. Sekarang adalah sesuatu yang lain. Masa kini adalah saatnya saya membangun cita-cita saya sendiri, bersama dia, bersama orang-orang yang saya kasihi. Masa saya untuk beranjak dewasa dan meninggalkan sedikit jejak-jejak usang yang sudah sepatutnya ditinggalkan.

Mudah maupun tidak, itu adalah proses, dan saya tidak mengeluh.

Belakangan, saya mulai panik karena sudah lama berhenti menulis. Jari-jari saya belum kaku, walau kalimat kadang berhenti di tengah jalan dan otak saya tidak lagi berlari lebih cepat dari jemari saya di atas keyboard. Seringnya, saya kehabisan ide. Kehabisan karakter. Berhenti di tengah jalan.

Apa yang saya cari, sebenarnya?

Jujur, saya masih menunduk kepada stereotype - apa yang saya kerjakan dengan sangat baik, yaitu menulis teenlit. Kisah-kisah pahit manis remaja dan lika-liku cinta persahabatan, bukankah saya sangat familier dengan itu? Bukankah memang keahlian saya adalah meramu kisah Nata-Niki yang serupa?

Lalu bicara mengenai perkembangan kepada sesuatu yang serupa namun setingkat lebih tinggi - chicklit. Ah ya, saya sudah terbiasa menciptakan karakter yang savvy, independent walau centil, suka belanja, metropolitan. Baru-baru ini seorang Grace Aria menjadi karakter utama proyek terbaru saya, seorang wanita tigapuluhan, single dan mencari jati diri. Hey, mengapa dia terdengar seperti Maybella dalam Glam Girls yang saya tulis?

Apakah kamu percaya pada writer's block? Apakah kamu percaya bahwa kamu benar-benar berhenti menulis di saat kesibukanmu sedang menggunung, dan kamu ingin mencari tantangan baru, ide baru?

Alasan-alasan itu benar adanya. Untuk saya, saya bisa mengakui bahwa saya sedang ingin bersemedi. Saya tidak ingin menulis menjadi beban yang saya sempilkan di antara jam kerja, hanya karena saya harus menghasilkan sesuatu, apa saja, yang bisa membuktikan eksistensi. Saya tidak ingin menganggap menulis adalah sesuatu yang harus mendefinisikan saya dan menjadi tanggung jawab saya. Saya tidak ingin tunduk pada karya populer yang itu-itu saja.

Menulis adalah bagian dari saya. Dan seperti hari ini, entah mengapa saya diam dan ingin menghasilkan sesuatu. Cerita mengenai seorang gadis yang termenung di pinggir jendela, bergumul dengan isi pikirannya yang sendu. Secangkir kopi di atas meja, tidak tersentuh. Dan sisanya berlanjut begitu saja..

Seperti cerita Lola sang pelukis jalanan. Sumire yang wajahnya rusak dan terkena amnesia. Seperti Georgia yang dibunuh ayahnya karena melihat ibunya terbakar sampai mati.

Seperti.. seperti.

Day 05: favorite quote(s)

Saya seorang pengumpul quote. Kalau ada yang bagus, selalu saya tulis di status BBMlah, di FBlah, sampai punya buku sendiri khusus quote. Dari yang temanya persahabatan sampai cinta-cintaan, dan belakangan, hidup. Self reflecting. Cara pandang.

Smile, even though it's a sad smile, coz sadder than a sad smile is the sadness of not knowing how to smile.

Nggak begitu relevan, sekarang :)

Kalau dulu, beberapa quote favorit saya adalah yang bermakna khusus untuk saya, misalnya, love is a merry little elf dancing a jig, and then suddenly he turns on you with a machine gun. Nggak banyak temen-temen saya yang menangkap artinya seperti saya mengartikannya. Meanings to quotes are very personal.

Who looks outside, dreams. Who looks inside, awakes - Carl Jung. Ini mengenai introspeksi diri dan pengenalan diri. Juga beberapa mengenai keindahan hati seseorang dan bagaimana untuk judge less, feel more, misalnya the best and most beautiful things in the world cannot be seen by the eyes, but can only be felt with the heart - Hellen Keller.

Belakangan, quote-quote indah datang dari pujaan hati yang senang sekali membuat quote versinya sendiri, yang kadang lucu dan unik tapi sebenarnya sangat bermakna, kalau kita benar-benar menyesapinya.

Life is not perfect, so fill it with as many perfect moments as possible.

Waktu pertama kali di-SMS begitu oleh sang pacar, saya sempat bingung. Gimana, maksudnya? Tapi belakangan, bersama dia saya mengerti.. perfect moments have to be built. There are moments that we need to catch and make them ours.

Dan yang paling kami sukai - segala sesuatu indah pada waktunya.

:)

Kamis, 29 Juli 2010

Day 04: Favorite book

Bolos sehari. Ga apa-apa lah ya, yang penting masih lanjut :) Favorite books sebenarnya banyak banget. Tapi yang dibaca di tahun 2010 dan benar-benar menyentuh hati cuma satu.



The Last Summer (of You and Me)
by Ann Brashares

Sebenarnya saya agak ragu dengan Sisterhood series-nya, tapi belakangan saya jatuh cinta setelah baca bukunya dan nonton filmnya. Bukan pada idenya, tapi seberapa besar pembaca bisa merasakan keterkaitan dengan karakternya. Dan menurut saya pribadi, The Last Summer ini adalah buku terbaik Ann Brashares. Saya belum baca buku terbarunya, My Name is Memory.

Kalau ditanya, saya suka baca buku seperti apa sih, yang lucu kah, adventure kah, yang chicklit kah.. jawabannya adalah, saya suka buku yang mellow. Buku mellow itu kayak apa? Ya seperti the Last Summer ini. Juga seperti Dogs of Babel. Seperti the Myth of You and Me. Nggak banyak saya menemukan buku-buku mellow yang bagus.. dan biasanya kalau menemukannya, saya akan betul-betul menyukainya.

The Last Summer adalah buku dewasa Brashares yang pertama. Dewasanya pun untuk kalangan 20an. Ceritanya mengenai Alice, Paul dan Riley yang tumbuh besar bersama. Alice adalah sang adik yang menggemaskan, cantik, lembut dan penyayang. Riley adalah sang kakak perempuan tomboy yang bekerja sebagai lifeguard di pantai, kuat, punya kepemimpinan tinggi, cuek. Paul.. laki-laki di rumah sebelah yang sensitif dan merupakan kawan baik Riley sejak kecil.

He had missed two summers. She couldn't imagine how he could do that. Without him, they had been shadow seasons. Feelings were felt thinly, there and then gone.... In some ways, she was always waiting for him.

Begitu dewasa, semakin Paul dan Alice merasa saling memiliki. Ketertarikan mereka pada satu sama lain makin kuat, sampai akhirnya mereka berpacaran tanpa sepengetahuan Riley. Dan Riley punya penyakit berbahaya yang bisa membunuh kapan saja.

It was the same beach, the same sun. The same shirt and pants. The same girl walking beside him. And yet somehow different.

Ini hanya cerita biasa. Tapi bukan juga cerita biasa.

Bahasanya sangat indah. Prosa demi prosa mengalir lembut, subtle, penuh makna, tanpa harus ribet dan berat. Setiap dialog punya arti di baliknya yang benar-benar bikin mikir. Alice dan Paul punya off screen chemistry yang bikin kita merasa.. how can two people feel like that about each other?

Selasa, 27 Juli 2010

Day 03: Favorite TV Program

Baru hari ketiga, tapi udah hampir absen dan bolos satu entry. dan edisi hari ini nggak pake (s) alias plural alias banyak. Hari ini temanya: satu TV program favorit.

I'm thinking of a lot of programs, from the silly ones and cartoons like Upin and Ipin (love!), Doraemon, Dexter's Laboratory, Sailor Moon.. TV quizzes as Who wants to be a millionnaire, Family 100 (old times!).. and dramas like Sex and the City, House, Lipstick Jungle.

Tapi kayaknya hari ini saya hanya mau membahas satu: America's Next Top Model.

Kenapa?

It's fun! Nonton remaja-remaja berlomba-lomba jadi model, catfights and arguments, photoshoots, challenges.. Saya paling suka proses pemotretannya, dan waktu judging di mana kita bisa melihat hasil pemotretannya. Saat photoshoot mungkin terlihat sulit, tapi hasilnya kelihatan flawless. Dan sebaliknya.

And we're never sure who's gonna win. That's the best part.

Biasanya saya akan punya favorit di setiap season. Belakangan, kandidat favorit saya di season 13, Nicole Fox, menang menjadi petite model Amerika yang pertama. Dan lucunya, biasa favorit saya selalu masuk setidaknya Top 5 atau Top 2.. misalnya Natasha Galkina, Marjorie Conrad, Chantal Jones..

Marjorie

Season pertama yang saya tonton kalau nggak salah adalah season 6 atau 7.. I'm not exactly sure. Pemenangnya adalah Caridee English, dengan Melrose di posisi kedua, dan si kembar Michelle dan Amanda. Konsep pemotretannya high fashion, semua kontestannya berbakat, dan konflik 'domestik'nya juga berasa.

Chantal

Sejak saat itu saya menonton back to back episodes-nya di YouTube. Agak kecewa juga karena belakangan episode-nya semakin membosankan, dan kadang ada kesan judge favoritism seperti pada gadis Asia (yang sampai sekarang belum pernah menang ANTM), plus-sized model (Whitney, misalnya, yang menang walau menurut saya season ini kontestan Top 5-nya nggak menarik), dan beberapa orang yang seharusnya lanjut tapi tereliminasi.

Natasha

Tapi sejauh ini saya menilai para judge, terutama Tyra, cukup fair. I love her concepts, and even though she and the rest of the judges can get so quirky and corny sometimes.. it's in a good way.

And till today, watching the final runway never fails to give me goosebumps.