Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of the novels Ai, Refrain, Glam Girls Unbelievable, Remember When, Unforgettable, Truth or Dare and non-fiction Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu.

Kamis, 02 Mei 2013

Sneak peek novel Melbourne: Rewind

Dear readers,

My new book is going to hit the stores soon! Kira-kira pertengahan tahun, bagian dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita.

Berikut sinopsisnya:



MELBOURNE
Winna Efendi
Rewind

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,

EDITOR

Dan berikut first chapternya.



Max

Sejak kecil, gue selalu terpesona pada cahaya. Kilatan petir, sebentuk garis perak yang membelah langit sesaat sebelum guntur menggelegar. Bintang jatuh. Kunang-kunang. Cahaya redup di ekor pesawat. Konstelasi yang membentuk peta langit. Mercu suar. Remang lampu di tepi jalan. Oranye gelap yang berubah kemerahan menjelang matahari terbenam.

Gue masih ingat suatu hari di mana kami sekeluarga memutuskan untuk camping di kebun belakang rumah, dengan tenda yang didirikan seadanya, dan sebentuk alat grill bekas yang kembali berasap setelah menganggur sekian tahun. Beberapa hari sebelumnya, gue baru saja mengalami kecelakaan kecil. Sepeda terantuk batu, dan gue yang sukses terjerembab di pinggir jalan, lalu berakhir di rumah sakit dengan gigi depan patah dan keretakan tulang siku. Di otak Max kecil versi sepuluh tahun, bagian terburuknya bukanlah keluar masuk ruang operasi untuk memperbaiki luka-luka di tubuh gue, tapi ketinggalan acara field trip sekolah yang sudah gue nantikan penuh harap selama berminggu-minggu. Ma dan Pa, begitu gue menyebut kedua orang tua gue, nggak bergeming dengan tangisan dan rengekan maupun pujian dan ratapan, bersikukuh dengan perintah supaya gue tetap di rumah selama sebulan penuh.

Nggak ada lagi lari-lari di lapangan, main sepak bola, manjat pohon mangga tetangga. Sebulan tanpa udara segar, ngebut sepeda dengan Ted dan Benny, jajan di luaran, kegiatan outdoor liburan musim panas… Lebih parahnya lagi, masuk sekolah hanya untuk menjadi pendengar pasif bagi kisah petualangan luar biasa teman-teman sekelas yang kamping di hutan, berinteraksi dengan alam dan makan roasted marshmallows di depan api unggun. Gue akan terpaksa harus puas hanya membolak-balik foto polaroid di mana nggak ada jejak gue sama-sekali. That’s gotta suck big time.

Tapi malamnya, Ma dan Pa menggiring gue ke kebun belakang. Di sana, sebuah tenda sederhana berbau apak telah dibangun, lengkap dengan rib-eye gosong masakan sendiri di atas piring kertas yang lembek karena berlumur minyak dan ketchup. Kata Pa, ini kejutan untuk menghibur gue yang murung. Kata Ma, ini hanya alasan kamuflase Pa yang juga rindu dengan aktivitas outdoor yang dulu ditekuninya semasa kuliah. Dulu, sebelum sebuah kecelakaan merenggut kemampuan berjalannya dengan baik.

Semalaman, kami main tebak-tebakan sambil menunggu hujan bintang yang diperkirakan akan muncul menjelang tengah malam. Membentuk bayang-bayang binatang dengan senter dan lipatan tangan. Menamai rasi bintang sebisa kami. Favorit gue adalah memandangi pesawat meninggalkan landasan, menghilang di balik gumpalan awan, sampai tiada sama sekali.

Rumah masa kecil gue dekat dengan bandara – sebuah keberuntungan, sekaligus kesialan. Ma kerap kali mengeluh bahwa keributannya bisa membangunkan orang mati sekali pun. Deru mesin kapal terbang yang pulang pergi tiap harinya memang cukup bising, terutama di saat gue sedang tidur dan tiba-tiba tersentak kaget akibat bunyi dan getaran barang-barang, menyerupai gempa berskala rendah. Pernah sekali, dalam kepanikan berusaha menyelamatkan diri, gue yang masih separuh tertidur menyambar selimut dan harta benda seadanya, lalu berlari keluar hanya mengenakan celana boxers, sampai akhirnya baru menyadari bahwa yang barusan terjadi bukanlah hari kiamat. Lama-kelamaan, gue terbiasa, bahkan mulai sering duduk sendirian di atap, merokok sambil memandangi kerlip lampu pesawat – menjauh, menjauh, lalu hilang seluruhnya. Hingga kini pun, setiap jauh dari rumah, yang gue kangenin adalah dengung mesin pesawat, dan jejak kecil di atas langit yang menunjukkan kepergian atau kepulangan seseorang.

Itulah awal mula sejarah gue dengan cahaya. Sejak saat itu, gue mulai mencari tahu lebih banyak tentangnya. Kekaguman gue akan ciptaan Tuhan yang satu itu nggak pernah habis. Gue mulai terobsesi; pada kaleidoskop, yang bentuknya berubah seiring dengan perputaran tabung dan cahaya yang terpantul olehnya, pada laser show, pada LED art, juga cahaya alam, seperti gerhana dan segala keindahan yang menyertai keajaibannya.

Buat gue, cahaya adalah konsep universal, tapi sebenarnya sangat pribadi. Setiap orang dapat melihatnya, merasakannya, tapi persepsi mereka mengenainya bervariasi, tergantung emosi dan pengalaman sang penglihat. Interpretasi seseorang terhadap cahaya berbeda-beda, begitu juga makna cahaya tersebut bagi mereka. A light is never just light. Cahaya, seredup apa pun, mampu mengiluminasi kegelapan, dan menjadi medium yang menghidupkan dunia. Bagi gue, cahaya adalah hal terindah di dunia ini.

Yet whenever I think of light, I’m always reminded of her.

**

Namanya Laura. Laura Winardi. Golongan darah AB negatif, vegetarian yang tergila-gila pada makanan manis, fanatik warna ungu, penyuka kucing, alergi seafood, dan bisa sangat defensif jika disinggung mengenai selera musiknya, yang menurut gue sulit dimengerti.

Gue pertama kali ketemu Laura enam tahun yang lalu, di gedung fakultas arsitektur Melbourne Uni. Hari itu hari yang biasa-biasa aja buat gue, seperti biasa bangun agak telat, datang terlambat, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sang dosen sedikit terlambat juga. Begitu kelas berakhir, gue sedang tergesa-gesa menuju kelas selanjutnya ketika dia menghalangi langkah gue dengan tangan terulur dan bilang, “I want my walkman back.”

Saat itu, gue berdiri dengan tampang huh? yang paling polos, sedangkan dia mengulurkan sebelah tangan berbalut sarung wol warna merah marun sambil terus memandangi gue, seakan berharap gue akan melakukan satu trik magic yang menakjubkan dan mengeluarkan apa pun yang dia minta dari udara kosong.

Oke, harus gue akui waktu itu, pikiran terakhir yang melintas di otak gue yang sedang butuh kafein bukanlah masalah apa yang dia mau dari gue. I was thinking – eh, nih cewek lucu juga.

No, scratch that, she’s actually really pretty. Tinggi, berkaki jenjang dan berambut ikal yang tergerai hingga punggung. Dia mengenakan begitu banyak lapisan pakaian yang membuatnya terlihat seperti manekin toko baju dingin, mulai dari jaket winter merah hingga sweater tebal di baliknya, lengkap dengan syal dan boots berwarna sama. Wajahnya oval, bintik-bintik cokelat muda tersebar seperti konstelasi bintang di kedua pipinya. Giginya gemeletuk karena musim dingin di Melbourne sedang parah-parahnya, sedangkan hidungnya merah walau seluruh wajahnya pucat. Dan tangannya – sangat, sangat mungil seperti milik anak kecil, terjulur meminta sesuatu yang nggak gue miliki.

“Excuse me, my walkman?” ulangnya, kali ini kehilangan kesabaran.

Respon gue kurang lebih adalah raut blank yang mungkin menyebalkan baginya, karena dia lalu memelototi gue dengan garang dan mengacungkan selembar kertas berisi sketsa walkman jelek warna hitam dengan tulisan spidol: LOST WALKMAN dan sederet nomor telepon.

Gue baru saja mau protes dengan bilang orang gila mana yang mencari walkman jaman jebot layaknya anjing hilang, saat gue teringat bahwa gue memang pernah melihat benda itu. Sebuah walkman segi empat yang terlihat sudah terlalu sering dipakai hingga permukaannya lecet dan tombol rewind yang sudah nggak berfungsi lagi. Sepasang earphone yang tersambung pada alat itu, dengan busa tempelan yang sudah babak belur, dan kaset di dalamnya yang agak sember saking seringnya diputar. Gue menemukannya di konter Lost and Found di gedung kampus, saat sedang mencari-cari buku perpustakaan yang nggak sengaja tertinggal di salah satu ruang kelas.

Entah kenapa, walkman itu menarik perhatian gue, terlihat aneh dan out of place di samping sepasang sepatu gym tua yang tak berpemilik, pakaian renang bekas bermotif bunga-bunga, dan setumpuk buku yang mulai mengumpulkan debu. Gue pikir, benda itu kemungkinan besar sudah cukup lama berada di sana, dan siapa pun pemiliknya pasti sudah mengambilnya jika memang masih menginginkannya. Lagipula, orang jadul mana yang masih menggunakan walkman di era MP3 player seperti sekarang? Jadi, tanpa alasan yang jelas dan justifikasi ini-itu, gue pun mengaku sebagai pemiliknya dan memboyong benda itu pulang, walau sampai sekarang sang walkman masih bersarang di dasar ransel, tertumpuk barang-barang lain, terlupakan.

Gue pernah mendengarkan kaset yang ada di dalam walkman itu sekali. Kebanyakan adalah lagu-lagu yang nggak gue kenal, lirik-lirik sendu bernada mellow rock yang diiringi petikan gitar akustik atau sesekali pukulan drum. Bukan selera gue, dan bukan jenis musik yang akan gue cari di toko CD, tapi saat mendengarkannya, gue tertidur pulas hingga pagi menjelang, walau biasanya gue orangnya susah tidur. Waktu kami masih pacaran, kadang gue bahkan meminjamnya hanya untuk mendengarkannya sebelum tidur. She used to say, it’s like a little fetish of mine, dia dan lagu-lagunya. Dia benar.

Kalau gue pikir-pikir sekarang, mungkin kehilangan buku dan menemukan walkman itu di sana adalah takdir, permainan hidup yang bertujuan untuk mempertemukan gue dan dia.

Walkman itu sepertinya sangat berharga buat sang empunya, karena ekspresi wajahnya saat mendapatkan kembali benda itu seperti seseorang yang baru saja menemukan harta karun tujuh-temurun. Gue terpana memandang dia berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih – which is ineffectual karena toh memang gue yang ‘mencuri’ barangnya – sampai gue sadar, sedari tadi gue masih memegang fotokopi selebaran walkman hilang lengkap dengan nomor telepon pemiliknya.

And the rest is history. Lo pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tepatnya, begini sejarah kami: gue dan Laura ketemu, kami pacaran, kami putus. End of story.

**

Senin, 01 April 2013

Refrain the movie: Media Coverage

More on Refrain!

Kali ini mau share tentang liputan media online mengenai film Refrain.
Berikut link-linknya:

Merdeka.com: click here
Selogangsal: click here
Beritagar: click here
Memobee: click here
Flick Magazine: click here
Wowkeren: click here
Kapanlagi: click here

And I'm happy I found you guys at Lautan Indonesia here :)

Liputan Status Selebriti di SCTV, behind the scene shooting here

Enjoy!

Manga muse(s)

Sejak SMA, saya mulai suka baca manga, apalagi salah satu teman dekat saya waktu itu suka banget dan mengoleksi komik Jepang.

So, here's my thanks to my favorite mangakas.

Obaata Yuuki, untuk cerita-cerita sederhana yang menyentuh sampai ke hati.
Yuki Nakaji, untuk humor dalam setiap ilustrasi cantik.
Michiyo Akaishi, untuk drama juga misteri demi misteri yang luar biasa seru.
Watase Yuu, yang memperkenalkan saya pada dunia fantasi dan romance sehidup semati, juga karakter sekunder yang unik.
Yuu Ito, yang pertama kali menginspirasi saya untuk menulis, dan jatuh cinta pada ilustrasinya yang cantik.
Hiromi Mashiba, untuk semua kisah cinta dan persahabatan yang mengharukan.
Kim Dong Hwa, sejarah Korea dan cerita sehari-hari, pengetahuan tentang bunga, pikiran positif, kelembutan, puisi, dan kesederhanaan hidup.
Usami Maki, untuk kisah-kisah rendah hati tentang keseharian yang manis.
Chie Watari, untuk horor seru di malam hari.
Kaoru Mori, obsesi pada jaman Victorian, dan gambar juga cerita yang meneduhkan hati.

Thank you.

XOXO,
Winna

Behind the Scenes: Refrain the movie




Berhubung Refrain the movie sedang produksi dan akan rilis tahun ini, mau bagi-bagi behind the scene pics ah :) semua ini aku dapatkan dari Creative Lights dan sebagian juga kudapatkan dari akun resmi filmnya yaitu @FilmRefrain. Foto-foto berikut juga bisa dilihat di sana, lengkap dengan informasi lain mengenai filmnya.



Enjoy! :-)
















All photo credits belonging to Creative Light and @FilmRefrain

Buat yang nanya kapan Refrain rilis, rencananya tahun ini, sebelum Lebaran, dan akan diinformasikan lebih lanjut oleh @FilmRefrain.

Casting updates alias daftar pemain film Refrain bisa dicek di sini.

Ditunggu ya!

Sabtu, 16 Maret 2013

Mengapa menulis?



photo credit: mydharma.ca


Baru-baru ini, sebuah pesan masuk ke dalam inbox Goodreads saya. Seorang kenalan penulis bernama Aksara bertanya, mengapa menulis?

Pertanyaan itu terus-menerus muncul di benak, membuat saya tergugah untuk menulis ini di blog, yang terus terang mulai terabaikan karena kesibukan hehehe.

Mengapa menulis?

Saya bisa memberikan begitu banyak jawaban, tapi semuanya merupakan kamuflase bagi pertanyaan: mengapa menulis untuk diterbitkan? Yang pertama, karena idealisme pribadi yang awalnya bercita-cita untuk menerbitkan satu buku sebelum mati. Idealisme ini awalnya bermula dari mimpi, tapi dilandasi juga oleh keinginan kuat untuk membuktikan kalau saya bisa, kepada orang-orang yang pernah menentang keinginan ini. Bisa juga sebagai cara saya mengeksplorasi diri, karena saya ingin tahu apa saya benar-benar bisa menulis dan punya buku yang diterbitkan, atau memang hanya sekadar angan pungguk yang merindukan bulan. Idealisme yang ada semakin diperkuat saat saya bergabung dengan komunitas penulisan. Di sana, saya merasa 'terasah', berkomunikasi dengan sesama pencinta dunia penulisan, menerima berbagai kritik bertubi-tubi, juga pujian. Dari sana, begitu banyak yang saya pelajari dan rasakan, membuat saya semakin yakin bahwa ini dunia yang ingin saya geluti. Lalu, satu-persatu teman-teman komunitas mulai menerbitkan naskah mereka, kebanyakan lewat penerbit-penerbit terkenal. Jujur, walau saya merasa kagum, saya juga iri luar biasa. Akhirnya, rasa-rasa itu berkembang menjadi keinginan yang lebih lekat dan memacu saya untuk terus berusaha.

Idealisme kembali muncul saat beberapa naskah saya akhirnya berhasil diterima penerbit dan diterbitkan. Dari sana, terngiang ucapan beberapa orang, teruslah menulis! Ada deadline yang kasat mata, keharusan tak tertulis untuk terus berkarya karena saya tidak bisa membiarkan jeda yang terlalu lama dan karya selanjutnya perlu menyusul. Lalu, ada idealisme dalam diri yang mengeset target pribadi, padahal tidak ada yang menagih.Satu dua naskah setahun. Selama ini, saya berusaha menepati 'janji' itu kepada diri sendiri, meskipun sulit, terutama saat jadwal tidak memungkinkan, atau ide enggan menyangkut.

Akan bohong kalau saya tidak menyebutkan bahwa alasan materi pun berpengaruh sebagai jawaban: mengapa menulis untuk diterbitkan? Selama ini, saya menganggap royalti menulis adalah hasil jerih payah yang seluruhnya merupakan milik saya, hasil bergadang menulis, menyempatkan diri di setiap celah waktu, dan berbulan-bulan mengetik, menghapus dan mengedit. Alasan materi pun salah satu alasan signifikan yang melandasinya.

Tapi, kembali lagi ke pertanyaan: mengapa menulis? Mengapa menulis walau naskah hanya mengendap dan tidak diterbitkan, mengapa menulis walau tidak ada deadline atau proyek khusus, mengapa membuka laptop dan mengetik walau merasa lelah, mengapa menulis sungguh-sungguh walau ini kesannya 'hanya' pekerjaan?

Saya tercenung memikirkannya sejenak, dan hanya ada satu jawaban. Saya sungguh tidak tahu.

Yang saya tahu adalah, kata-kata ini mengendap di kepala, menunggu untuk dimuntahkan. Karakter-karakter hidup dalam diri saya, menunggu dengan sabar sampai kisah mereka diceritakan, walau kadang tak sabar juga sih karena saat waktu tak tepat pun mereka terus mendesak :) karena saat saya tidak menulis untuk beberapa waktu, saya merindukannya, tak sabar mencoret-coret buku catatan, atau sampai kata-kata muncul di layar laptop yang tadinya kosong. Karena saat menulis, saya memudar dari dunia saya dan muncul kembali dalam dunia yang saya kreasikan, seperti sebuah rahasia di mana hanya saya yang tahu.

Ah, saya suka menulis. Itu saja jawaban saya. Karena di suatu titik waktu, saya cukup beruntung untuk menemukan satu hal yang saya cintai, dan kebetulan saya diberkati dengan kemampuan untuk melatihnya dan menjadi lebih baik dalam bidang tersebut. Karena saya kemudian sangat beruntung sebab memiliki kesempatan untuk menerbitkan karya, agar dapat dibaca khalayak luas, dan mimpi saya menjadi nyata. Dari sekian banyak hal dalam hidup yang saya syukuri, ini adalah salah satu yang duduk dalam posisi teratas.

Jadi, saya bersyukur, dan tidak mau menyia-nyiakannya. Saya menyukai tulis-menulis, dan ingin melakukannya seumur hidup. Saya beruntung, memiliki pekerjaan yang merupakan passion saya, dan sebaliknya juga, bisa menjadikan hobi ini menjadi pekerjaan.

Mengapa menulis?

Karena saya ingin, dan saya suka. Sesederhana itu :) terima kasih Aksara karena membuat saya berkilas balik dan menyadari satu hal ini.

(book) On Love by Alain de Botton



Synopsis:


"The longing for a destiny is nowhere stronger than in our romantic life" we are told at the outset of Alain de Botton's On Love, a hip, charming, and devastatingly witty rumination on the thrills and pitfalls of romantic love. 

The narrator is smitten by Chloe on a Paris-London flight, and by the time they've reached the luggage carousel, he knows he is in love. He loves her chestnut hair and pale nape and watery green eyes, the way she drives a car and eats Chinese food, the gap that makes her teeth Kantian and not Platonic, her views on Heidegger's Being and Time - although he hates her taste in shoes. 
On Love plots the course of their affair from the initial delirium of infatuation to the depths of suicidal despair, through the (Groucho) "Marxist" stage of coming to terms with being loved by the unattainable beloved, through a fit of anhedonia, defined in medical texts as a disease resulting from the terror brought on by the threat of utter happiness, and finally through the nausea induced and terrorist tactics employed when the beloved begins, inexplicably, to drift away. 

Alain de Botton is simultaneously hilarious and intellectually astute, shifting with ease among such seminal romantic texts as The Divine Comedy, Madame Bovary, and The Bleeding Heart, a self-help book for those who love too much. He is schematically flawless, funny, funky, and totally engaging. 
Filled with profound observations and useful diagrams, On Love displays and examines for all of us the pain and exhilaration of love, asking, "Can we not be forgiven if we believe ourselves fated to stumble one day upon the man or woman of our dreams? Can we not be excused a certain superstitious faith in a creature who will prove the solution to our relentless yearnings?"

Review:


I read this during my flight from Jakarta to Surabaya and back again. It was poignant, sometimes funny, and often insightful. The book (therefore the writer) is intelligent, showing us philosophies on love that we could relate to, some we've passed in stages of our lives so that we can nod and say ah i've been there.. or ponder these thoughts for a while.

While the characters are sometimes annoying (I've never liked Chloe), I find them refreshingly real, and quirky. Each of them has flaws that make them seem like the people we might pass on the street, or someone we used to know, or even the person in each of us. It's amazing how one can make a character just pop to life like that, and I am in awe for that one trait.

However, I do find the pace to be a little slow. I would love to read more about the relationship instead of reading the author's insights about love and the analysis of every single thing. And just a little bit, I feel almost preached on instead of being engaged in a series of smart conversations.

Overall, a unique book with a refreshing concept.

(book) Delirium Stories by Lauren Oliver



Synopsis:


For the first time, Lauren Oliver's short stories about characters in the Delirium world appear in print. Originally published as digital novellas, Hana, Annabel, and Raven each center around a fascinating and complex character who adds important information to the series and gives it greater depth. This collection also includes an excerpt from Requiem, the final novel in Oliver's New York Times bestselling series.

Hana is told through the perspective of Lena's best friend, Hana Tate. Set during the tumultuous summer before Lena and Hana are supposed to be cured, this story is a poignant and revealing look at a moment when the girls' paths diverge and their futures are altered forever.

Lena's mother, Annabel, has always been a mystery--a ghost from Lena's past--until now. Her journey from teenage runaway to prisoner of the state is a taut, gripping narrative that expands the Delirium world and illuminates events--and Lena--through a new point of view.

And as the passionate, fierce leader of a rebel group in the Wilds, Raven plays an integral role in the resistance effort and comes into Lena's life at a crucial time. Crackling with intensity, Raven is a brilliant story told in the voice of one of the strongest and most tenacious characters in the Delirium world.

Review:


I'm a huge fan of the Delirium series, and am currently ordering the last book Requiem (it's still on its way to my mailbox).

This book has the short stories we were once inaccessible to, but I'm so glad it's finally being printed. I love Annabel's story the most, there's a fight within her and more back story we're not privy to, but now we know. There's something tragic about her story, and I love reading about her past.

There's a surprise in Raven's story that I expect will be explored in the third book of the series, although her story is my least favorite. Maybe because she's so badass that I have a hard time identifying with her, and there's something about her that's so difficult to read and relate to.

As for Hana, I finally understand some parts from the first book when the mystery unravels here. I see in the excerpts that there is going to be Hana's POV, so we'll be getting more stories about her. I suppose because she's marrying the mayor, their stories have to intertwine somehow in the middle or end. Will she help Lena?

I'll have to wait two more weeks to find out :)

Also, Emma Roberts is going to be Lena for the FOX TV series adaptation!

(book) Helga's Diary by Helga Weiss



Synopsis:

In 1939, Helga Weiss was an eleven-year-old Jewish schoolgirl in Prague, enduring the first wave of the Nazi invasion. As Helga witnessed Nazi brutality toward her friends and neighbors and eventually her own family she began documenting her experiences in a diary. In 1941, Helga and her parents were sent to the concentration camp of Terez n, where she continued to write with astonishing insight about her daily life. Before she was sent to Auschwitz in 1944, Helga s uncle, who worked in the Terez n records department, hid her diary and drawings in a brick wall. Miraculously, he was able to reclaim it for her after the war. Of the 15,000 children brought to Terez n and deported to Auschwitz, Helga was one of only 100 survivors. Written in school exercise books and translated here for the first time, Helga s Diary is a strikingly immediate and exceptional firsthand account of the Holocaust.

Review:

This was Bookdepository's book of the week last month, and because I like reading about history, especially about the Holocaust, I thought I'd give it a try. Plus, it has wonderful reviews on Amazon.


It is hard not to judge this book without comparing it to other similar themed books, especially the Diary of Anne Frank, and because both are written in the style of a diary. However, there are differences between both, with Helga Weiss being still alive to this day, while Anne Frank had perished. There is also their slight age difference as to when the diary started and ended, and that Anne was in hiding while Helga was sent to a concentration camp.

The book is harrowing, of course, and at times hopeful. But Helga remained so positive throughout the entire ordeal that the feel was less grimy and sad. The book has gone through several edits by the author herself, so that the journal reads like a daily diary when it was not originally so. I wish it had remained the way it was, although the contents would have been more innocent (because of the way it was written by a younger Helga before she knew what was actually happening, as when it was edited, she already had some knowledge about gassing and camps, so it was revised with that in mind).

There is a lack of descriptions, usually in terms of setting, some entries contained mostly just her feelings, so it was sometimes difficult to imagine what she was describing. It was only when I read the interview with Helga that I understood more.

It is hard to review this book because it is a diary of truths, not some fictional story that needs to be rated.

(book) Nobody But Us by Kristin Halbrook



Synopsis:


Will

Maybe I'm too late. Maybe Zoe's dad stole all her fifteen years and taught her to be scared. I'll undo it. Help her learn to be strong again, and brave. Not that I'm any kind of example, but we can learn together.

When the whole world is after you, sometimes it seems like you can't run fast enough.

Zoe

Maybe it'll take Will years to come to terms with being abandoned. Maybe it'll take forever. I'll stay with him no matter how long it takes to prove that people don't always leave, don't always give up on you.

Review:


I once wanted to write about a similar premise, but I wasn't ready yet so the idea just simply vanished.

I got this book because I wanted to feel again that feeling when I wanted to write my first book with this premise, and because the cover is so gorgeous.

A few major setbacks:

- The characters. Flawed, too flawed even. I agree with some reviews on Goodreads, we're being told, not shown. I don't like either character very much, and what's being described as smart does not resonate as an act of intelligence to me. The girl Zoe is too naive, and the male protagonist Will, although quite refreshing, is just a repetitive cycle of lack of self control and a tough guy with a dark past. I wish to see so many different layers and heavy emotional conflict instead of kissing, being on the run, and going back and forth with the same conflicts during the run.

- The pace. The plot. I just wish to see more. Less angst, more action. More thoughtful planning, more adventures, more cat and mouse game. There's so much that could be done with this wonderful material, but all we get is two teens on the run, running out of gas, get into trouble, some angst, everything will be OK, then it's not, and then each is trying to save each other in a very stupid way. They're young, but they come across as really juvenile.

- The ending. It's okay, although I'm disappointed by the twist near the end.

I wouldn't say I enjoyed it very much, but overall it was a quick read. 3/5 stars.

Minggu, 24 Februari 2013

(film) From Up on Poppy Hill and Whisper of the Heart by Studio Ghibli

 

I'm a fan of young adult films done right, and these two are the perfect examples of why I love both YA movies and animation. I've been a huge fan of anime for years, but have just recently discovered the magic that is Studio Ghibli.

Their first film that I watched was Ponyo, and loved it despite the fantastical bits. When I felt a bit mellow and would like something heartwarming, simple without the supernatural elements, I went for either these two gems or Makoto Shinkai's 5 CM per second. I wouldn't compare Hayao Miyazaki with Makoto Shinkai, because they are as different as night and day, but that does not mean I don't enjoy their films equally.

The plot (From Up on Poppy Hill): Umi is the caretaker of a boarding house overlooking the port, and she raises flags as messages to seamen to stay safe, as once taught by her sailor father who died at the sea. One day she meets Shun, a member of the school newspaper club, and together with their friends, they try to save their old clubhouse from being demolished by the school chairman.

The plot (Whisper of the Heart): Shizuku is a bookworm, and she's surprised to find that most of the books she checks out has already been read by another student named Seiji. Both of them meet and grow close, and she's left wondering about her dream when he has already gone to pursue his as a violin maker. She decides to test her talent in writing a story based on the Baron, a cat figurine she finds in Seiji's grandfather's antique shop.

From Up on Poppy Hill and Whisper of the Heart are so heartbreakingly honest and real they just tug at your heartstrings. Both have unusually unique family background and a little side story about family life, also a simple teen romance with signs of a budding first love. There are bits of Japanese traditions and lives everywhere, it's so wonderful to watch. The colors are bright and vivid, the artwork clean and lovely, the voices done right, with suitable accompanying music. Both are rather slow paced, but anime about everyday life usually does that - take things slowly, and you don't realize you've fallen in love with it until the credits roll.

Both also have strong, mature teen characters. Both Umi and Shizuku are your average teenager, but as Umi is reliable, sensible and responsible, and Shizuku are often sullen, sometimes lazy about homework and chores, they are at core the teenagers we all once were, or are. They have strong minds and express their opinions well, the communications with their peers, family members and loved ones are not one-sided that might express misunderstanding, but very much real and interactive. They say what they feel, and they fight for what they believe is important. I admire the relationships in both films, and am very pleasantly surprised when Shizuku's parents allow her to do what she thinks is right, even if that means temporarily abandoning her studies and possibly not continuing school.

I might have slightly a bit more fondness for From Up on Poppy Hill because of the school spirit and the strong characters I find in both Umi and Shun. Everything's just done in the right proportions, and I can't help but wish there are more films such as this one. The stories are meaningful, even though they were made decades earlier, they still carry relevance in today's era.

I'm currently marathoning my way through the rest of Studio Ghibli films, but these two are definitely top of my list.