Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Kamis, 18 Desember 2014

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku

Hari ini saya ingin berbagi tentang behind the scene sebuah naskah berkembang menjadi buku yang dipajang di toko-toko dan dijual.

image taken from docstoc.com

Di sini saya hanya berniat sharing pengalaman saya sejauh ini tentang behind the scene buku-buku saya. Buku, penulis dan penerbit yang berbeda tentu memiliki proses yang lain pula, dan kebijakan yang diterapkan tidak selalu sama. Ini juga berlaku bagi saya yang menerbitkan naskah lewat penerbit, bukan self publishing alias menerbitkan buku sendiri.

Pertama-tama, naskah selesai ditulis. And then what? 

Biasanya, saya mengirimkan naskah tersebut ke editor yang selama ini sudah menangani buku-buku saya. Jika penulis baru, biasanya mengirimkan printout naskah ke alamat redaksi, ditujukan ke redaksi untuk dibaca dan difilter, apakah naskahnya akan diterbitkan atau dikembalikan.

Pada umumnya, sang editor akan mengabari bahwa naskah sudah diterima dan sedang dibaca. Barulah selang beberapa bulan kemudian, editor akan mengabari 'nasib' sang naskah. Ada tiga pilihan di sini: ditolak, butuh revisi, atau siap jalan. Ditolak berarti naskah tidak akan diproses menjadi buku untuk diterbitkan di penerbit tersebut. Siap jalan berarti naskah siap langsung diproses menjadi buku dan mengikuti berbagai prosedur di penerbit. Seringnya, naskah masuk ke status butuh revisi. Ini berarti, editor akan berkomunikasi dengan penulis tentang berbagai revisi yang dirasa perlu agar naskah lebih maksimal. Misal, dialognya kurang interaktif. Plot ini kayaknya nggak perlu, deh. Ada inkonsistensi di bagian ini, coba diperbaiki. Karakternya kurang berkembang. Dan masih banyak lagi, tergantung naskah tersebut. Nantinya, editor akan memberikan tenggat waktu untuk revisi ini sampai harus dikembalikan lagi ke editor, dan prosesnya terus berlangsung sampai editor merasa naskah sudah oke.

Nah, tahap oke ini adalah yang paling dinanti penulis. Artinya, naskahnya sudah matang dan siap menjalani tahap berikutnya, yakni masuk ke dapur penerbit. Saya pribadi tidak bisa mengaku ahli karena saya bukanlah 'orang dapur' langsung, tapi kurang lebih prosesnya begini:

- Penerbit melakukan rapat internal untuk menentukan jadwal terbit untuk naskah-naskah yang ada. Naskah kita akan diterbitkan sesuai kebijakan penerbit, biasanya pada jadwal yang sesuai dengan berbagai faktor seperti tema promosi, timing yang pas dengan tanggal-tanggal penting atau hari besar tertentu, jangka waktu buku-buku dari penulis yang sama terbit (biar tidak terlalu mepet juga tidak terlalu jauh selisih waktunya), dan lain-lain.

- Tim redaksi akan melakukan editing dan proofreading sembari membuat layout dan kover/sampul buku. Editing dan proofreading dilakukan berkali-kali agar kualitas naskah maksimal, dan bagian estetika juga dipertimbangkan lewat layout serta kover yang cantik, mewakili cerita serta ciri khas penerbit. Di sini, saya membayangkan ada jadwal serta persiapan lainnya yang dibicarakan dengan pihak percetakan dan distribusi, juga tim promosi. 

- Setelah naskah selesai diproofread dan sudah memiliki layout serta pilihan alternatif kover, editor akan menghubungi penulis agar kembali membaca dan melihat hasil akhir sebelum dicetak. Biasanya, saya akan membaca kembali naskah tersebut dua kali, dan mengirimkan surel ke editor untuk menandai bagian yang mungkin membutuhkan koreksi, misal ejaan. Editor dan penulis bekerja sama untuk memastikan naskahnya bebas typo, dan semuanya konsisten. Untuk kover, saya ikut voting alternatif kover yang sekiranya tepat untuk si buku, namun pada akhirnya sepenuhnya menjadi hak penerbit untuk memilih. Kenapa? Karena penerbitlah yang paling memahami pasar dan tren, dan mewakili penulis untuk mempersiapkan yang terbaik bagi bukunya.

- Penulis menandatangani surat persetujuan cetak, kontrak buku, dan administrasi lainnya. Menyetujui dan ikut memberi saran dalam penulisan sinopsis/blurb. Menulis ucapan terima kasih, mengirimkan foto dan biodata penulis untuk kover belakang buku.

Lalu, menunggu. Biasanya, setelah tahap terakhir selesai, akan ada jeda sebulan sampai buku selesai dicetak, dan siap dijual di toko buku. Membutuhkan waktu untuk mencetak ribuan sampai puluhan ribu eksemplar buku, belum lagi proses distribusi ke seluruh toko-toko buku Nusantara. Sambil menunggu, tim promosi dan penulis bisa mengobrolkan kegiatan-kegiatan untuk memasarkan bukunya dengan maksimal.

Terkesan sederhana, namun sebenarnya rumit. Saya yakin banyak yang terlewat dari langkah-langkah yang saya tulis di atas, yang mungkin bisa diisi oleh pihak-pihak terkait yang lebih berpengalaman. Tapi, begitulah kurang lebih yang saya lewati. Proses naskah menjadi buku tergantung dari seberapa lama kita merevisi, dan banyak faktor lain. Biasanya, bagi saya memakan waktu kurang lebih enam sampai dua belas bulan.

Bayangkan satu naskah yang mengalami prosedur sedemikian banyaknya, dan kalikan dengan jumlah buku yang harus terbit dalam sebulan. Atau, ratusan buku dalam setahun, atau ratusan naskah yang menumpuk di meja editor. Wow.

Oleh karena itu, setiap buku bukanlah hasil kerja solo seorang penulis saja. Begitu banyak orang yang terlibat di dalamnya untuk menjadikan mimpi itu terwujud, begitu banyak yang berusaha keras agar satu buku bisa terpajang di etalase toko dan siap dibawa pulang oleh pembaca.

So here's to everyone involved - setiap orang dalam perannya adalah penting, dan terima kasih banyak, karena tanpa kalian, naskah hanya akan menjadi seonggok hasil cetakan printer dalam kertas polos.

Rabu, 17 Desember 2014

Suka Duka Menjadi Penulis

Setiap tahun, saya selalu menulis resolusi tahunan, membuat sedikit kilas balik dan bersiap menyongsong tahun depan. Bukan introspeksi serius, memang, dan kadang kala, saya akui resolusi yang saya buat tidak selalu terlaksana seluruhnya. Dan akhir-akhir ini, saya justru mengabaikan resolusi, dan hanya fokus pada hal-hal yang saya antisipasi di masa depan.

Tahun ini, saya tidak akan membuat resolusi muluk-muluk. Sebaliknya, saya akan menapak balik pada gundukan masa lalu yang menciptakan jalan menuju masa kini. Ini terinspirasi oleh sebuah pesan singkat yang masuk dalam inbox Facebook saya semalam, dari seorang pembaca di Bali, yang bertanya apa suka duka saya sebagai seorang penulis selama ini.

Jujur, pertanyaan itu awalnya tidak terlalu saya renungkan, karena menjawab suka dan duka selama perjalanan ini tidak dapat dirangkum dengan mudah. Namun kemudian, saya kembali berpikir tentang awal saya menulis. Rupanya, saya telah mulai aktif menulis sejak 2007, dan tahun ini merupakan tahun ketujuh saya meminjam istilah 'penulis' dalam resume hidup saya.

Saya bukan seorang penulis full time. Sebelum menjadi penulis, saya memiliki banyak peran lain - seorang anak, seorang karyawan penuh waktu, seorang jurnalis paruh waktu, seorang wirausahawati. Tahun lalu, saya mengambil peran seorang istri, dan tahun depan, seorang ibu. Saya juga sempat menjajali proofreading, dan banyak peran-peran kecil lain di luar penulis. Tapi, entah kenapa menjelma menjadi penulis adalah salah satu hal yang paling mendarahdaging dalam perjalanan karir profesional saya sejauh ini. Ya, meskipun tidak menulis sepanjang hari. Meskipun dalam setahun kadang saya tidak menelurkan karya. Walau blog ini bisa saja kosong selama sebulan penuh.

Suka duka menulis, tentu banyak. Entah bagaimana saya harus mendeskripsikan rasa, karena rasa itu rumit dan subjektif. Yang saya tahu, saya menyukai perasaan pada kala kata-kata bagaikan muncul begitu saja lewat tarian jemari pada keyboard laptop. Saya menyukai bagaimana karakter-karakter saya dengan sabar menuntun saya menuju cerita mereka, masuk ke dalamnya dan bermain di sana, sampai saatnya saya pergi. Saya menyukai rasa lega sekaligus puas yang menyusup begitu hari berakhir dengan beberapa ribu kata terketik rapi dalam file di komputer. Dan ketika naskah berubah menjadi buku, ketika kerjasama dengan editor, penata layout, pembuat kover dan proofreader menghasilkan sesuatu yang fisik dan dapat dibaca oleh orang lain, rasa itu menjadi lebih sulit untuk diterjemahkan. Pada saat-saat seperti ini, kebahagiaan yang dirasakan rasanya lebih besar dari harta materi yang bersanding dengan keberhasilan sebuah buku.

Duka - tentu saja setiap penulis memiliki porsinya akan duka, begitu pula dengan saya. Duka sederhana seperti membaca resensi buruk dari seorang pembaca yang tidak menyukai karya saya, misalnya, meskipun dalam tahun-tahun ini, saya telah belajar bahwa karya dan selera adalah subjektif - either you like it or you don't, and either way it's alright. Surat-surat penolakan naskah yang saya kumpulkan dalam folder khusus. Berbagai kesalahpahaman dari orang-orang yang belum mengerti bahwa sebuah karya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Buku-buku yang flop di pasaran dan menghilang begitu saja.

Namun, duka-duka itu rasanya kecil jika dibandingkan dengan perasaan kosong saat berhadapan dengan kursor yang berkedip dan tak bergerak di layar komputer. Bulan-bulan tanpa inspirasi, sedangkan adrenalin untuk menulis sudah terpacu. Keinginan menulis yang tak terpenuhi karena waktu yang terbatas, atau ide yang tak kunjung datang. Bagi saya, duka terbesar sebagai seorang penulis adalah ketidakmampuan untuk menulis.

Di luar itu semua, dengan pertimbangan pro dan kontra dalam menulis, jika harus memilih, apakah saya akan membuat pilihan yang sama? Ya, without a second thought. Walaupun menulis mungkin memakan setiap detik yang tersisa dalam jatah istirahat saya, meskipun menulis mungkin membuat saya begitu lelah saat selesai melakukannya dan tanpa sadar telah menghabiskan sepanjang malam... I'd pick being a writer every day of my life.

Dan itulah resolusi saya tahun depan. Dan saya harap, untuk tahun-tahun selanjutnya juga.

Minggu, 30 November 2014

Sneak Peek novel baru: Happily Ever After

Halo semuanya, Desember ini datang dengan kabar baik, novel terbaruku Happily Ever After akan terbit.
Launch resminya tanggal 13 Desember 2014 di Kumpul Penulis Pembaca Gagas Media, dan masuk ke toko buku menyusul, tergantung distribusi ke toko buku di masing-masing kota.
Berikut aku share kover, sinopsis dan sneak peek isi novelnya.


Sinopsis

Tak ada yang kekal di dunia ini.Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.

Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.

Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongen sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.

Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan ...

Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.

Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.


Sneak Peek

“Ada suatu tempat yang mau kutunjukkan,” katanya. “Ayo.”

Aku mengikutinya ke sebuah koridor yang menjembatani gedung pertama dan gedung kedua, melewati kafeteria yang kosong dan aula yang dipadati dengan kursi-kursi aluminium yang tak satu pun melenceng dari tempatnya, lalu berhenti di depan sebuah pintu.
Eli menarik napas dalam-dalam, kemudian memantapkan genggamannya pada gagang pintu, dan menekannya hingga terbuka. Pintu itu tak terkunci.

“Selamat datang di rumah keduaku.”

Rumah keduanya adalah sebuah kolam renang dengan ukuran Olimpiade. Air jernih, lantai keramik berwarna biru, aroma klorin. Langit-langitnya setinggi dua lantai, dengan jendela kaca besar di lantai dua, sehingga setiap orang yang melintas dapat melihat jelas ke dalam. Jelas terlihat kolam renang itu seringkali dijadikan stadium untuk pertandingan. Instalasi lampu sorot terpasang di beberapa sudut pada langit-langit. Garis-garis biru tua membagi area kolam renang, mengindikasikan garis batas setiap perenang. Kursi-kursi panjang untuk penonton berjejer di tepi kolam, dengan koridor yang sepertinya mengarah ke loker dan ruang ganti.

Singkat kata, ini luar biasa.

Eli terlihat nyaman di sini, dalam teritorinya. Dia mengenal setiap sudut, mengetahui area-area licin yang perlu dihindari. Tanpa kata-kata, dia menggandeng tanganku dan membimbingku menuju tepi kolam. Aku menyaksikannya menggulung ujung celana, kemudian melakukan hal yang sama.

Kami duduk di pinggir, bertelanjang kaki, membiarkan air yang dingin meriak sebatas lutut. Eli menerangkan ini itu mengenai renang, menggunakan berbagai terminologi yang tak kupahami. Tapi menyenangkan melihat dia begitu bersemangat menceritakan sesuatu yang jelas merupakan hal yang dicintainya, lebih dari apa pun.

“Setiap kali marah, sedih, kesal… air adalah pelarianku. Kalau berada di dalam air, rasanya setiap masalah pasti memudar begitu aja. Kata Mama, waktu kecil, setiap kali masuk bak mandi, yang kulakukan adalah menepak-nepak air, seperti mau berenang.” Dia tersenyum mengenang ingatan masa kecil tersebut. “Akhirnya, waktu SD Mama mendaftarkanku masuk kelas renang, bersama dengan Mel. Sejak saat itu, aku nggak pernah lepas dari air.”

Menurut Eli, jadwalnya sangat padat; setiap Selasa dan Sabtu subuh, drill dan warmup, disusul 8x50 meter sesi gaya punggung, 8x45 meter sesi gaya kupu-kupu, diselingi 180 meter kombinasi gaya, total 2500 meter. Rabu dan Jumat diisi dengan resistance training dan stretching. Kamis siang latihankick, drill, pull, disertai renang gaya bebas.

“Kami latihan berjam-jam tiap harinya,” terang Eli. “Pelatih kami – Coach Andrews – didatangkan khusus dari Amerika. Anggota timnya seringkali menang minimal medali perak di Olimpiade. Walau kadang terlintas rasa capek, kami berlatih untuk nggak ngerasain itu. Buat kami, capek cuma kondisi tubuh, sedangkan kondisi otak dan pikiran harus selalu prima, terlatih untuk menang. Untuk tim kami, hanya ada satu tujuan yang harus jadi fokus.”
Dengan suara yang lebih lirih, ia menambahkan, “dan buat aku, inilah seluruh hidupku.”

Air ini, sama seperti arti kayu dan pondasi untuk Ayah, adalah segalanya bagi Eli. Mereka harus merelakan hal yang paling mereka sukai untuk melawan sesuatu yang lain, untuk bertahan hidup. Hal-hal yang berharga terenggut begitu saja, tak peduli berapa tahun, darah dan keringat yang telah diteteskan.

“Dua bulan, Lu. Cuma butuh dua bulan, sampai kandidat peserta Olimpiade terpilih, dan training intensif dimulai. Selangkah lagi, aku udah begitu dekat dengan tujuan. Tapi, mungkin hidup punya rencana yang lain buat aku. Buat kita semua.”

“Kamu pernah nyesel, nggak?”

Dia menampung air dengan tangkupan tangannya, perlahan-lahan membiarkan air mengalir turun. “Marah, tentu aja pernah. Kecewa, putus asa, juga pernah. Pertama kali didiagnosa, aku nggak mau makan selama seminggu. Di awal-awal kemoterapi pun, aku sempat depresi berat. Mama sampai nangis karena udah nggak bisa bujuk aku. Kubilang, buat apa makan, kalau toh akhirnya nanti bakalan mati juga? Mendingan mati sekarang daripada nunggu-nunggu lagi. Tapi Mia bikin aku sadar, itu bukan perkataan yang pantes buat diucapin ke orang yang sayang sama kita. Mereka selalu percaya dan punya harapan aku akan sembuh. Lalu, kenapa aku nggak bisa berbagi harapan yang sama? Kenapa harus menyerah sama keadaan?”

“Maaf, Eli.”

Eli menatapku bingung. “Maaf buat apa?”

“Karena aku nggak pernah coba untuk melihat segala sesuatu dari sisi pandang kamu. Selagi kamu menghadapi kemoterapi, radioterapi, dan rasa sakit, aku malah sibuk mikirin ujian mendadak, PR yang belum kelar, hal-hal nggak penting kayak gitu. Aku merasa, aku belum jadi teman yang cukup baik buat kamu.”

Dia terkekeh. “Setiap orang pasti punya masalah masing-masing, begitu juga kamu. Ayahmu, Karin, Ezra, orang-orang yang ngeganggu kamu di sekolah…”

Aku baru saja ingin menyela, tapi Eli langsung membungkamnya.

“Aku sering lihat buku pelajaran kamu yang dicoret-coret, Lu. Tas kamu yang kadang basah. Barang-barang kamu yang rusak. Gelagat kamu kalau ngomongin sekolah. Aku pengin kamu tahu, kamu bisa cerita apa aja sama aku. Nggak perlu ada yang ditutupin, sesulit apa pun itu.”

Awalnya, hal itu bermula dari teman-teman sekelas yang berkelompok menjauhiku. Kemudian, ungkapan-ungkapan verbal itu dimulai. Penyihir, goth, Lucifer. Aku sempat berpikir, mengubah penampilanku mungkin akan membuat mereka menyukaiku, maka aku pun berusaha tampil senormal mungkin, seperti mereka. Tapi cemooh itu tak pernah berhenti.

Lama-kelamaan, cercaan berubah menjadi dorongan. Dorongan berkembang menjadi jengkatan kaki saat aku tak melihat, barang-barang yang dirusak, telur busuk atau jasad binatang yang ditinggalkan dalam tas. Dan ketika Karin menjadi salah satu dari mereka, kupikir segala sesuatunya akan membaik – tetapi, yang terjadi justru sebaliknya.

“Pertama kali Bunda nemuin coretan-coretan itu di buku sekolahku, beliau langsung menghubungi kepala sekolah.” Untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku yang pendiam marah besar karena sesuatu. Orang-orang yang sayang sama kamu akan melakukan apa saja untuk melindungi kamu, itu ucap Ayah saat itu.

Untuk sementara, hari-hariku berubah tenang. Kepala sekolah dan guru-guru telah diperingatkan, organisasi sekolah membentuk kampanye anti-penindasan, tapi semua itu tak bertahan lama. Bahkan, kedua orang tuaku sempat berpikir untuk mendaftarkanku ke SMP yang berbeda, tapi…
“Aku sadar kalau di lingkungan mana pun, kita akan selalu ketemu dengan orang-orang yang berbeda. Mereka bisa suka, atau benci sama kita.”

Pindah sekolah mungkin merupakan salah satu solusi, tapi buatku melarikan diri tak pernah menyelesaikan apa-apa. Lagipula, biaya sekolahku bukan angka yang kecil. Apalagi sekarang, dengan timbulnya pengeluaran untuk pengobatan dan perawatan Ayah, kami sekeluarga perlu mengencangkan ikat pinggang. Saat itulah aku memutuskan, apa pun yang mereka lakukan dan katakan tidak akan dapat mengubahku. Aku ingin menjadi diriku sendiri, dan untuk itu aku tak memerlukan ijin mereka.

Eli memandangku lekat-lekat. “Kadang aku kagum sama kamu, Lu. Kamu kayak prajurit perang, maju terus meskipun nggak punya senjata lengkap.”

Aku tertawa mendengar metaforanya. “Kamu sendiri, maju terus walau nggak tahu bakalan menang atau kalah, kan?” Bukannya itu yang justru luar biasa?

“Itu benar, aku memang luar biasa.” Eli menertawakan kelakarnya sendiri, lalu mulai menciprati air ke arahku dengan kaki kanannya, membuatku membalas, tak mau kalah. Selanjutnya yang kutahu, kami saling menciprati dengan ganas, tanpa ampun, seperti dua anak kecil yang baru pertama kali bermain air.

“Stop! Stop! Nyerah!” Aku mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahku, yang kini basah kuyup. Poniku menjuntai menutupi kening, dan aku yakin maskara hitamku pasti sudah luntur. Tapi aku tak peduli.

Eli terbahak-bahak sambil terus menciprati air. “Besok Coach Andrews pasti mencak-mencak, kolam Olimpiade-nya kayak habis kena angin topan. Aaah, coba aku bisa lihat muka marahnya sekali lagi. Urat-uratnya sampai nongol ke ubun-ubun.”

Seolah ingin membuktikan kerinduannya, Eli bangkit berdiri, berlari kecil ke ruang loker, kemudian kembali dengan mengenakan sepasang celana renang warna biru. Aku melihatnya sebagaimana dirinya sekarang untuk pertama kalinya – kurus, dengan tulang rusuk yang menonjol, lengan dan betis yang tak lagi berotot, wajah tirus yang terlihat lelah. Sekujur lengannya membiru, bekas suntikan obat-obatan yang digunakan untuk melawan tumor di otaknya.

Dia mungkin bukan Eliott Gustira yang dulu, tapi di mataku, dia yang sekarang luar biasa.

**


Senin, 08 September 2014

Mo (bagian 4)

"Aku pengin naik bianglala."

Itulah yang dikatakan Mo pagi ini, ketika kami berjalan menuju halte bus, dia untuk berangkat ke tempat pemotretan untuk iklan perhiasan, aku untuk mengantar portfolio ke kantor seorang calon klien.

"Bianglala?"

"Muter-muter, taman bermain, bulet," jawabnya sekenanya.

"Iya, tahu."

"Pergi, ya?"

Aku menatapnya. Gadis ini punya seribu satu keinginan-keinginan aneh yang tak terduga pada saat-saat ganjil. Baru minggu lalu dia tiba-tiba datang ke tempat kosku untuk makan sepiring martabak Ovomaltine yang harganya delapan puluh ribu sekotak. Sebelumnya dia datang ingin meminjam kaset rock metal yang tak kupunyai, atau tiba-tiba ingin menonton film Titanic untuk kesekian kalinya.

Seperti orang mengidam.

"Kamu lagi hamil, ya?"

Dia melotot. "Hus! Atau mungkin iya, ya. Hamil banyak impian..."

Maka, jadilah kami naik bianglala sore itu.

**

"Naik bianglala sebelum matahari terbenam itu paling bagus," katanya. Hidungnya menempel pada kaca jendela, tak lepas selagi kotak kecil yang mengangkut kami berputar seratus delapan puluh derajat, lambat tetapi mampu membuat hatiku melonjak tak karuan. Aku tak pernah suka ketinggian.

"Bentar lagi kan, taman bermain tutup."

"Justru itu bagusnya. Kita bisa liat keluarga yang berbondong-bondong keluar, setelah puas main seharian. Bikin aku kangen sama masa kecil. Kebahagiaan sederhana itu yang paling indah, ya kan?"

Telapak tangannya menekan kaca, membuatku gugup karena dia terus-menerus bergerak gelisah.

"Kamu nggak menikmati ini semua, ya?" Dia berpaling dan tersenyum lebar kepadaku. "Kurasa kamu bukan orang yang terlalu romantis."

Aku tidak suka berada beberapa kaki di atas tanah, dibawa bergerak naik turun tanpa kepastian kapan semua ini akan berakhir. Tetapi melihat gerak-geriknya yang lucu membuatku sedikit lebih baik.

"Yah, aku orang yang praktis."

"Kalau nggak suka ketinggian, kenapa  kamu setuju?"

Kenapa aku setuju memboncengnya beli martabak malam-malam, kenapa aku setuju mengantri satu jam demi semangkuk soto yang rasanya biasa saja, kenapa aku setuju menggedor kamar tetangga untuk meminjam kaset band metal. Semuanya demi Mo.

"Kurasa, aku rela melakukan banyak hal demi kamu. Kita teman, kan?"

Senyumnya luar biasa cerah waktu itu. Rasanya semua ini sedikit banyak terbayarkan.

**

Ketukan pintu kian keras. Aku membenamkan kepala yang sedari tadi terasa layaknya habis dihantam gada dalam-dalam di bawah bantal.

"Ini aku!" Dia berteriak, membuatku menyingkirkan bantal barang sejenak.

Mo?

"Kamu tahu alamatku dari mana?"

Dia nyengir, melihat kondisiku yang masih berbalutkan kaus tidur dua hari yang lalu, rambut tornado, dan muka merah yang bergantian dengan pucat. Tanpa banyak omong, ditempelkannya punggung lengan pada dahiku, lalu dahinya sendiri, dan kembali ke dahiku.

"Toko buku. Kamu demam."

"Empat puluh derajat Celcius, sudah dua hari."

"Sudah ke dokter?"

Aku menggeleng. Lalu dia menggelengkan kepala juga, saat menemukan strip-strip obat yang setengah termakan di atas meja. Aspirin dan obat flu bercampur menjadi satu.

"Tidur," perintahnya.

Aku tak perlu disuruh dua kali, dan langsung merayap ke balik selimut. "Buku dan komik ada di sebelah sana. Kau bebas mengacak-acak selama mengembalikannya ke tempat semula."

Dia menggumam tak jelas, dan sebelum aku berpikir lebih jauh tentang kehadiran perempuan pertama dalam kamar kosku selama tiga tahun terakhir ini, aku sudah jatuh tertidur.

**

Aroma harum. Bawang, dan sesuatu yang agak pedas.

Aku membuka mata, dan menangkap siluet seseorang dalam rok midi merah tua, sweter cokelat dan bertelanjang kaki.

Dia belum pergi.

"Mo?"

Mo menoleh, tersenyum riang sembari membawakan dua mangkuk berisi sesuatu yang kental dan harum itu.

"Makanlah."

Di luar sudah gelap. "Kamu nggak pulang?"

Dia menggeleng. "Kamu sakit," jawabnya, seolah itu adalah alasan. Padahal bukan.

"Pulanglah. Sudah malam. Aku baik-baik saja."

Lagi, dia menempelkan tangan di keningku. "Panasnya belum turun, obatmu mungkin nggak cocok. Makanlah yang ini setelah perut terisi."

Di atas meja telah tersaji segelas air hangat dan strip baru berisi obat yang tak kukenal namanya, serta sebotol obat cair yang tampak seperti obat batuk. Entah kapan dia keluar untuk membelinya. Kamar kosku pun tampaknya lebih rapi, berbau lemon ketimbang kaus kotor yang belum sempat dicuci dan menumpuk di balik pintu.

"Bubur?" Aku mengendus dari tempat tidurku. Ketika kulihat isinya, potongan wortel dan kentang tenggelam di dalam kuah kecokelatan yang kental. Aroma yang tadi kucium datang dari bawang bombay yang ditumis nyaris gosong, bercampur dengan potongan daging.

"Orang sakit butuh energi dan makanan enak," katanya, "bukan beras cair nggak bertekstur yang nggak menimbulkan nafsu makan. Beef stew buatanku lumayan, lho. Resepnya sudah ada dalam keluargaku turun-temurun."

Aku mencoba sesendok dengan tentatif. Rasa gurih kaldu sapi yang direbus lama bersama sayuran lumer di lidah. Setelah bermangkuk-mangkuk mi instan dan tidur dengan perut kembung, masakan Mo ini membuatku tak ingin berhenti makan.

"Terima kasih."

Dia hanya tersenyum kecil.

Mengantri soto dan martabak malam-malam. Naik bianglala di sore hari. Dan hari ini, dia telah membayarnya dengan kehadirannya, serta semangkuk beef stew yang membuatku hangat luar dalam.

**


Selasa, 05 Agustus 2014

Tentang Kesabaran Dalam Berputar-putar

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan beberapa hal - proyek menulis, urusan rumah tangga dan kantor, beberapa proyek akan datang, dan naskah novel baru.

Jujur, naskah yang sedang saya garap ini adalah salah satu yang terasa paling sulit dari naskah-naskah sulit sebelumnya. Beberapa naskah yang saya kerjakan terasa cukup alami saat ditulis, seperti Remember When, Ai, Tomodachi. Untuk naskah Unbelievable, riset bullying, peer pressure dan fashion cukup ngejelimet dan perlu pendalaman agar terasa wajar, untuk naskah Melbourne: Rewind meskipun terasa natural, saya tetap merasa perlu menggali lebih dalam hubungan antar karakter, terutama dari segi dialog dan chemistry. Untuk Unforgettable, sulit sekali mendalami proses dan deskripsi wine, juga interaksi kedua karakternya.

Sedangkan naskah ini membuat saya banyak berpikir; karena saya tidak memahami satu pun aspek baru yang ditulis. Musik. Hubungan kakak-adik perempuan. Cowok playboy yang misterius. Ah, rasanya sangat sulit dalam menuliskannya secara wajar. Namun, saya percaya proses tersebut dapat dijalankan secara bertahap.

Banyak orang berkata, menulis tidak perlu buru-buru. Saya setuju. Semakin terburu-buru, semakin tidak maksimal. Semakin tergesa, semakin kita terobsesi pada target tak kasat mata di hadapan kita. Dan hasilnya, kita fokus pada ending, bukan pada kenikmatan menulis, revisi yang optimal, bahkan bukan pada karakter.

Tentu saja, setiap penulis mungkin merasa ingin buru-buru mencapai garis akhir. Ingin rasanya cepat melipat laptop dan mengirimkan hasil jadi ke penerbit. Ingin segera melihat buku terbit. Tetapi, inilah rasa yang menurut saya perlu diredam.

So I'm going to take it easy. Saya akan mengikuti prosesnya.

Ada juga yang berkata, berjalan-jalanlah dalam kekosongan pikiranmu. Something will come. It will definitely come. Jadi, bagi teman-teman yang stuck dan mengalami writer's block, atau seperti saya sering berputar-putar dengan kanvas kosong yang tak kunjung berisi, bersabarlah. Kita pasti akan melaluinya.

Kamis, 24 Juli 2014

Tentang naskah baru: Happily Ever After

Saatnya saya berbagi spoiler tentang novel baru yang akan terbit setelah Tomodachi. Spoiler ini saya share dengan teman-teman yang hadir di event Tomodachi 5 Juli lalu, plus pembacaan bab dalam novelnya :-)

Naskah ini saya tulis di awal tahun 2014, selama kurang lebih 4 bulan. Genrenya remaja, tentang dua orang murid SMA yang bertemu karena suatu keadaan yang sebenarnya tidak menguntungkan, tetapi keadaan tersebut justru membuat mereka dekat.

Judul tentatifnya Happily Ever After. Karena ia bercerita tentang dongeng-dongeng sebelum tidur, Ayah yang sehangat matahari, dan anak lelaki yang mencintai air namun harus rela meninggalkannya. Ia juga bercerita tentang sahabat yang pergi, seorang anak perempuan yang selalu merasa ia tidak fit in dalam dunianya, dan keluarga hangat yang tiba-tiba harus terpecah.

Naskah ini sedang diproses oleh Gagas Media dan kabarnya mungkin akan terbit di bulan September 2014. Let's wait and see, semoga semuanya lancar dan saya akan posting berbagai tidbits tentang naskah ini begitu sudah dapat update ya :-)

Sejauh ini, Happily Ever After adalah salah satu naskah yang tak sabar saya nantikan agar segera terbit. I'm really loving Eli and Lulu, kedua karakter utamanya, dan pertemuan mereka yang aneh.

Semoga September cepat tiba :D

Tentang Film Remember When



Belakangan ini saya sering memposting foto-foto behind the scene Remember When di Facebook dan Instagram. Ya, film Remember When memang sudah memasuki tahap post-production, alias syuting telah selesai dilakukan, dan sekarang sedang memproses poster film serta trailer, juga menyiapkan tanggal rilis layar lebar.

Kabar terbaru dari Rapi Film selaku production house adalah bahwa kemungkinan besar film akan tayang di bulan September 2014. Memang ada sedikit kemunduran, karena satu dan lain hal. Saya percaya, sedikit kemunduran jika berarti ada cukup ruang untuk lebih memaksimalkan segalanya adalah hal yang baik. Setuju?

Untuk trailer dan poster akan segera diposting di akun @FilmRWhen di Twitter jika sudah ada. Ya, novel kover film akan dicetak ulang oleh Gagas Media. Jika ada teman-teman yang kehabisan novel versi lamanya di toko buku, bisa mencoba toko buku online seperti www.bukabuku.com. Mari membaca novelnya sebelum filmnya rilis :-)

Untuk kesamaan film dengan novelnya, sejauh dari naskah revisi kelima yang sudah saya baca, kurang lebih 80% isi novel akan ada dalam filmnya, walaupun memang tidak semua adegan bisa masuk film, dan sebaliknya, tidak semua adegan di film akan sama persis dengan bukunya. Akan ada perubahan. Akan ada give and take. Akan ada kompromi. Semuanya demi optimalnya film tersebut, karena medianya berbeda antara film dengan buku.

Dari sejauh yang saya ketahui, akan ada perubahan adegan ending. Akan ada setting di luar negeri, seperti foto-foto BTS yang sudah beredar di Twitter. Akan ada sedikit kejutan. Sejauh apa kejutan itu, kita akan tahu saat menyaksikan filmnya.

Sama seperti sebelumnya, dalam film ini saya tidak terlibat 100% dalam casting, syuting, maupun produksi. Seperti pembaca dan calon penonton, saya pun punya harapan dan ekspektasi besar terhadap film Remember When. Saya pun tahu, akan ada yang berbahagia, juga akan ada yang kecewa dengan berbagai aspek selama perjalanan adaptasi buku menjadi film. Saya juga percaya, saat novel diadaptasi menjadi media lain, salah satu pihak yang paling deg-degan dan khawatir adalah penulisnya :-) pertama kali menonton filmnya, pertama kali mendengar kabar tentang pemainnya, dan lain sebagainya, merupakan sensasi sendiri. You might love it. You might not. Saya belum tahu.

Di luar itu semua, mari kita sama-sama menantikan film Remember When. Saya yakin setiap orang punya ekspekstasi tersendiri terhadapnya, dan saya menghargai itu, terlebih lagi amat senang dengan respons teman-teman semua. We all wish it to be good - even better than the book. I do, and I know you do too. Terima kasih banyak untuk semua dukungan teman-teman sekalian.

September is coming soon!

Tentang Tomodachi


Halo semua, lama tak meng-update blog dengan posting seputar tulis-menulis, maka saya akan cerita sedikit tentang beberapa proyek yang tengah berlangsung maupun yang baru terbit.

Pertama, tentang Tomodachi.

Terima kasih banyak bagi teman-teman sekalian yang sudah membeli novel terbaru saya yang sudah terbit di Gramedia tersebut :-) juga yang sudah ikut PO buku bertanda tangan di toko buku online. Semoga kalian menyukai cerita sederhana tersebut.

Jujur, setelah selesai menulis naskahnya, saya sempat merasa Tomodachi adalah naskah terlemah yang pernah saya tulis, sehingga hampir saja berniat menariknya dan menggantinya dengan naskah lain. Beberapa alasannya sebenarnya cukup sederhana, seperti keterbatasan waktu untuk mengembangkannya karena saat itu sedang mengejar deadline yang sudah saya janjikan kepada penerbit, plot daur ulang yang menyinggung sahabat dan cinta pertama, juga kesederhanaan keseluruhan cerita dan penggunaan settingnya yang sudah pernah digunakan dalam novel sebelumnya.

Namun, ada suatu perasaan yang berbeda saat kembali membacanya sebelum terbit, waktu itu untuk kebutuhan proofreading. Rasanya, naskah yang saya anggap lemah itu justru memiliki kesederhanaan tersendiri yang membuat hati terasa hangat. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Terlepas dari apa pendapat pembaca nantinya, yang dapat saya lakukan hanyalah berharap cerita kecil ini juga dapat menghangatkan hati mereka.

Lalu, selepas terbit ada beberapa resensi dan komentar yang masuk dari media sosial, juga Goodreads. Saya sangat terharu ketika melihat bahwa cerita Tomomi, Tomoki, dan kawan-kawannya dapat menyenangkan pembaca. Bahkan ada seorang pembaca yang mengaku terinspirasi oleh cerita di Tomodachi, membuatnya ingin melanjutkan kuliah dan mengejar mimpi. Sungguh, itu sesuatu yang sangat 'sesuatu' buat saya.

Beberapa pembaca juga menyebutkan manga - bahwa membaca Tomodachi terasa seperti membaca manga atau komik Jepang dalam kata-kata. Saya pun amat tersanjung, apalagi ketika ada yang memunculkan judul Kimi ni Todoke dan Friends sebagai contoh manga yang menurut mereka mirip auranya dengan Tomodachi.

Saat menulis naskahnya, manga-manga tersebutlah yang menjadi inspirasi terbesar. Saat membaca karya Karuho Shina, Hiromi Mashiba, Yuu Ito, seringkali saya terharu dan kagum pada kemampuan mangaka hebat tersebut dalam menciptakan kisah yang tampak ringan, tetapi sebenarnya kompleks emosi. Karakter-karakternya hidup, dan saling melengkapi. Itulah esensi yang saya tangkap dan ingin saya potret lewat Tomodachi. Jadi, mengetahui bahwa pembaca merasakannya merupakan salah satu komentar terbaik yang pernah saya harapkan.

Mungkin banyak yang tidak menyukai fakta bahwa lagi-lagi saya menulis seputar friend-zone. Dalam cerita ini, saya meminta para pembaca untuk memakluminya sekali lagi :-) karena begitu banyak cerita tentang Tomomi dan Tomoki yang ingin saya sampaikan.

Dan saya berjanji, untuk dua naskah novel selanjutnya, yang akan saya update beritanya di blog ini, tidak memuat seputar friend-zone dan cinta segitiga. Setidaknya, kedua karakter utamanya bukanlah sahabat sejak kecil yang lalu jatuh cinta kepada satu sama lain. Sebaliknya, mereka adalah dua orang yang jauh berbeda, bertemu karena sebuah kesempatan, dan kemudian tertarik kepada satu sama lain karena berbagai hal yang ada dalam hidup mereka.

That's my little promise to my beloved readers.

Senin, 14 Juli 2014

(book) Chinese Feasts & Festivals: A Cookbook


Synopsis

The rich culinary tradition of China is largely inspired by a calendar year filled with joyous occasions for eating, drinking and making merry. Food, fittingly enough, plays a leading role in everything from festivals to reunions and weddings to anniversaries. The combination of flavors and symbols, such as wealth, happiness, luck, and prosperity, involved in many of these dishes are a spiritual celebration and an earthly pleasure. 

In Chinese Feasts & Festivals, author S.C. Moey assembles facts and fancies along with a collection of festival specialties that every Chinese food lover will read and enjoy. Full of delicate, subtly-rendered illustrations, this exquisite and yet functional cookbook will inspire you to cook up a feast no matter what the occasion.

Review

I love the fact that the book is not simply a cookbook - it's filled with beautiful illustrations, and information about the Chinese history as well as ancestry traditions. It doesn't hurt that it has some easy to follow recipes as well. I like the author's writing voice, it's eloquent but not overly friendly, and it creates a nice distance to readers.

I even plan to carry out some experiments with the recipe :-)

(book) Eleanor & Park by Rainbow Rowell



Synopsis

Two misfits.
One extraordinary love.

Eleanor... Red hair, wrong clothes. Standing behind him until he turns his head. Lying beside him until he wakes up. Making everyone else seem drabber and flatter and never good enough...Eleanor.

Park... He knows she'll love a song before he plays it for her. He laughs at her jokes before she ever gets to the punch line. There's a place on his chest, just below his throat, that makes her want to keep promises...Park.

Set over the course of one school year, this is the story of two star-crossed sixteen-year-olds—smart enough to know that first love almost never lasts, but brave and desperate enough to try.

Review

I was delaying reading this book for two reasons:

1. I would love to like it as much as the reviews, and I'm afraid I won't. I like Fangirl and I have high expectations for this one.

2. The setting and time frame of 1986 daunts me a little. I love the eighties but am not sure about reading a book about the 80s.

I was proven wrong for both counts.

First off, this reads like a fresh contemporary YA romance. True, it's got the cliches of star-crossed lovers who might not even be in each other's radar if not for this so-called thing called fate, and it's got the classic set-up of youthful love. It even gets as far as mentioning Romeo and Juliet. But then, it's about first loves, and the theme never gets old as long as the execution is new. And what can I say, the execution is splendid.

I like the first chapters, they create a setting for both characters to meet perfectly. I find the middle parts floundering, but the last couple of chapters feel so heartbreaking and raw I just can't read fast enough.

Both characters are not your typical jock/cheerleader/popular people/total outcasts/spunky teen either. Eleanor might look like a spunky outcast on the outside but I love that she's got insecurities. Park is not your next door hunk either - he's Asian and in a town when he's the only one who looks it, apart from his Mom, he's got his own problems and perspective for popularity.

Their romance feels right. I don't need to be told it is, because I feel it. I feel like feeling that fluttery butterflies in my stomach again because I'm reading about their romance. It feels authentic, and I think that's what Rainbow Rowell excels in most - that, and dialogue. She can create amazing chemistry whenever she writes.

The ending feels a bit sad, but I guess bittersweet in some ways. I like it as much as I do Fangirl, but then if I'm asked to compare between the two, I can't because they're two different things, and they're both charming books.

So while I won't rave about Eleanor and Park that much, I do feel I'll read it again from time to time, and fall in love with them all over again, quietly. Because it's that kind of book - a slice of life, nothing much might be going on with the plot until the last parts, but these are the parts of life that mean the most.

Note: the synopsis and cover win my heart big time.

Minggu, 29 Juni 2014

(animation) The Wind Rises by Hayao Miyazaki



I become a big fan of Japanese animation films ever since I watched 5 CM per Second by Makoto Shinkai. Since then I collected all Studio Ghibli films and grew to love them for their beauty and simplicity.

To me the works of Hayao Miyazaki, Isao Takahata and Makoto Shinkai are very characteristic - the style of the drawing is easily distinctive as Japanese, as in you know it when you see it. Most of the time, the stories are often laced with fantasy or stories of dreams and youth. Even though some of the films I've watched fall into the fantasy genre or contain absurd themes that might be difficult to relate to or even understand, essentially they fit the genre 'slice of life best'. The Wind Rises is such an example; for me it's a powerful film about courage, dreams, and love.

Some might raise controversy that this is an anti-war film, or even one that is pro-Japanese war because of the theme and the main character, Jiro, who is an airplane engineer. It is loosely based on the life story of a living person by the same name; of how Jiro grew up unable to become a pilot due to his nearsightedness and in the end dreamed of building planes instead. His planes were later used in war against many countries, and created destruction. Because it is highly fictionalized, there is an element of bittersweet romance in it, and a fantasy sequence that involves dreams of meeting Carponi, an Italian plane engineer.

In spite of those, I believe that the film is not simply about war. It shows the power of dreams, that one must live life to the fullest by going after their dreams. It is also about the strength of one's love to overcome adversity, even though it might be a difficult journey to endure. I like the characters - they are layered with depth and are very strong, characteristics of a Ghibli film as I've found this in other Miyazaki films as well. The pace is rather slow and I find myself wishing it's cut shorter and can do without some scenes, but overall the effect is a bittersweet film that renders you silent long after you finish watching it.

The soundtrack is lovely as usual, it has a tinge of melancholy in the lyrics as well as the melody, and it sounds a little old fashioned, aptly fitting the film.

While The Wind Rises is not my favorite Hayao Miyazaki film, I believe it is worth watching and since it's his final film, I'm going to appreciate it even more.

(manga) Youth Strategy Guide by Sorata Akizuki



Sebenarnya nggak terlalu tertarik dengan sinopsisnya, namun karena suka gambarnya dan judulnya sepertinya menarik, akhirnya jadi memasukkan komik ini ke daftar belanjaan. Dan ternyata, setelah membacanya, ceritanya sangat menarik. Slice of life, my favorite genre, tapi isinya benar-benar mencerminkan kehidupan sekolah dan remaja laki-laki, terutama settingnya yang di sekolah khusus pria juga sangat mendukung cerita.

Dari keempat karakter, awalnya berpikir ini akan jadi cerita Ise dan Kurata saja, tapi dengan perkenalan Nogami dan Ueyama, ternyata keempat karakter sentral ini punya side stories masing-masing.

Dari awal persahabatan di permulaan kelas dua SMA sampai kelulusan, cerita mereka mampu memotret kekhawatiran remaja pada masa depan, kisah cinta, sampai persahabatan. Very recommended. Gambarnya juga bagus!

Kamis, 26 Juni 2014

Prelaunch Party TOMODACHI with Winna Efendi



Buat kamu para Winnaddict jadilah 30 orang pertama yang mendapatkan novel SCHOOL terbaru Gagas Media yaitu #Tomodachi karya Winna Efendi.

Kamu akan mendapatkan #Tomodachi langsung dari Winna Efendi dan bisa makan malam gratis sambil berbincang soal kepenulisan. Hanya 30 pemesan pertama yang mendapatkan undangan eksklusif makan malam sambil berbincang soal kepenulisan dgn Winna Efendi pada tanggal 5 Juli 2014 di Otosan, Japanese restaurant & suki, Jl Sabang no.57, Jakarta. Jam 17.00-20.00

Pemesanan Tomodachi 26Juni-2Juli dengan mengirimkan email ke alamat surel di bio admin, subjek: Tomodachi. Harga: 57.000.

See you there!

Rabu, 25 Juni 2014

A Highly Suggestible Mind

Lately I was made aware that the mind, also everything else, was highly suggestible. Not only that; it perhaps referenced to the fact that everything else was truly connected and affected by one another - this invisible law of the universe that I paid no close heed to until I did.

A few weeks ago I put some dried octopus inside an airtight container full of freshly dried peanuts. The nuts were very dry and crispy, and in contrast the octopus was a little wet, slightly exposed to air for quite some time. When I opened it a week later to eat the octopus, to my surprise it was so crispy I hardly believed it. The same thing happened to a few rice crispies I put inside a box of braised chicken. When I opened the box the crispies were shrivelled next to nothing.

That made me realize that the environment pretty much affected the minor population so that it conformed to the majority. Had the crispies doubled the amount of the chicken, or the octopus was more than the peanuts, the opposite would have happened - the minority would follow the exact condition of the majority.

Not everything could be defined this way, of course. But then it made me think - is everything really that easily suggestible, therefore manipulated?

As with the mind that affects the physical body and often vice versa, as a child's environment helps shape the way he or she grow up, every word and every thing that we've gone through pretty much affects the way we are. Memories, experiences, thoughts, incidents - all of these also shape us into what we're becoming, some unconsciously, some we let happen, and some we build a wall against so they don't get through (but in some ways I believe they do).

A few days ago I was talking to a professional in her area of expertise and she talked me down in a way that I thought was not very respectful. Everyone around me was saying how I should have been angrier than I was, and a highly suggestible mind like mine at that moment was swayed, even though in the end I chose a stand against it. Again, the fact made me think that we could choose to conform or not to, but then the environment around us will affect us to the extent that we allow it to.

Just musings I never really thought about and put into words now. Not sure if it makes sense now that I'm writing about it, but hey :-) a mind is indeed suggestible!

(book) Strange Weather in Tokyo by Hiromi Kawakami


Synopsis:

Tsukiko is in her late 30s and living alone when one night she happens to meet one of her former high school teachers, 'Sensei', in a bar. He is at least thirty years her senior, retired and, she presumes, a widower. After this initial encounter, the pair continue to meet occasionally to share food and drink sake, and as the seasons pass - from spring cherry blossom to autumnal mushrooms - Tsukiko and Sensei come to develop a hesitant intimacy which tilts awkwardly and poignantly into love. Perfectly constructed, funny, and moving, Strange Weather in Tokyo is a tale of modern Japan and old-fashioned romance.

Review:

I never expected to find a book that closely resembles Banana Yoshimoto's writing style, which I'm so fond of. I was at first attracted by the quirky cover and premise, and it turned out to be such a wonderful, bittersweet read.

Both characters are people you root for, and what I appreciate is that I feel like a bystander, a reader wanting to keep my distance as I watch their relationship blossom. I do not become the kind of reader that falls in love with either character, instead content to just be with them in their journey.

The story has no real plot and moves quite slowly, one random slice of life after another, but it indeed does have a beginning and ending, and a middle that I just love exploring. I know there are readers who might feel unable to follow a story without a real plot, and I might be such a reader myself but then now that I think about it, I'm fine with just tagging along for the ride, and such a melancholy book speaks to me more than reading about 'something' that always needs to be defined.


I am going to read Manazuru next, and I'll just say the ending stays with me for a long time. It's a beautiful read, well worth my time and makes me so sentimental I want to weep after I'm done with it.

5 out of 5 stars

Minggu, 15 Juni 2014

(book) We Were Liars by E. Lockhart



Synopsis:

A beautiful and distinguished family.
A private island.
A brilliant, damaged girl; a passionate, political boy.
A group of four friends—the Liars—whose friendship turns destructive.
A revolution. An accident. A secret.
Lies upon lies.
True love.
The truth.

We Were Liars is a modern, sophisticated suspense novel from National Book Award finalist and Printz Award honoree E. Lockhart. 

Read it.
And if anyone asks you how it ends, just LIE.

Review:

This book receives so much love, and deservedly so.

Easily the best YA I've read in 2014, this tells the story of four teenagers from the wealthy family Sinclair in Massachucets. From the very start I am surprised by the tone of the book and the prose, which are so different from the Ruby Oliver books I used to read, and from the style that I associated with E. Lockhart. However, I welcome the change, as I prefer this so much more than the usual goofy witty charm that is the voice of Ruby.

Cady, the main character and the narrator, is weird. In a good way - that she loves books, that she does not always fit in. I love all the characters, flawed and all, and especially the Liars. I grow to learn and love them through Cady's eyes, and each is alive in my mind - their personalities deviate so much from the usual cliches in a way that makes me admire the author even more.

The suspense is there from the very beginning. Although we can sense that something is very wrong, we don't really know what that is. I can guess the ending from the middle of the book, but even that doesn't mean I'm a hundred percent right. When we get to the truth, I hardly feel justified, only that my worse nightmare is coming true. I can't take my eyes off the pages and just keep reading in a fetal position, feeling extremely sad once it's over. It makes readers feel so much, from the tragedy, a mixture of sadness, longing and everything else.

I'm not going to say the book's perfect, but it draws me in and I love most things about it. I love the mystery, the character, the plot. I even love the big twist although it makes me ache.

Suggestions for reading this book: don't read the reviews, avoid spoilers because they're the essence of the book, and prepare to weep.

E Lockhart rocks. It makes me want to read Frankie Landau - is it any good?

Kamis, 12 Juni 2014

Coming soon: Tomodachi (SCHOOL novel)


Pernahkah kau bertemu seorang perempuan yang tak pernah lelah menyalakan harap di hatinya? Dalam Tomodachi, kau akan bertemu perempuan itu. Perempuan biasa, tetapi punya harap luar biasa. Baginya, berlari dan menemukan garis akhir adalah sebuah keharusan. Tidak akan ada kata menyerah. 

Pernahkah kau memiliki seseorang yang selalu bisa menghapus cerita sedihmu? Dalam Tomodachi, kau akan menemukan tangan-tangan yang terikat pada satu kata: sahabat. Mereka yang keberadaannya membuat kau tak lagi merisaukan hari esok yang mungkin masih gelap. 

Juga dalam Tomodachi, kau akan bertemu seorang laki-laki yang berlari dengan sepasang sayap. Yang selalu mengejar garis akhir, tetapi tak pernah ragu untuk diam sejenak menunggu.

Tomodachi dipersembahkan untukmu yang sedang melewati masa-masa pahit-manis dalam cinta dan persahabatan. Juga untuk setiap orang yang pernah melewati dan merindukannya. 


Selamat menyusuri kisahnya.

—Editor S.C.H.O.O.L


Coming soon: June/July 2014
Enter giveaway here
And add it on Goodreads here

Minggu, 08 Juni 2014

(book) The One by Kiera Cass

Synopsis

The Selection changed America Singer's life in ways she never could have imagined. Since she entered the competition to become the next princess of Illéa, America has struggled with her feelings for her first love, Aspen--and her growing attraction to Prince Maxon. Now she's made her choice . . . and she's prepared to fight for the future she wants.

Find out who America will choose in The One, the enchanting, beautifully romantic third book in the Selection series!

Review

What did I say about the previous two books? Addicting, that's what.

The book explores teenage angst, a never-ending triangle love, and lots of princess-y activities to win the heart of a prince. But what I appreciate about the finale is that it not only deals with that, it also has a rebellion plot and lots of other things.

Just when I feel that the book's moving too slowly (which it actually isn't, for one thing this book has in spades is pacing), the story picks up with a new sub-plot. We have task after task, challenge after challenge, that we watch America deals with. Just when I roll my eyes with the indecisiveness, we get scenes that are completely different they take me by surprise.

I personally like the rebellion plot. I wish it's been explored thoroughly, because the ending feels rushed. It almost feels like the author couldn't wait fast enough to finish and did not make necessary revisions to maximize the story. I am also sad that as readers, we don't get to see the rebellion in full volume, gory details and all, through America's eyes, because (spoiler) she was locked up in a room and did not get to see the action.

However, I did enjoy all three books, despite the cheesy dialogue and prim plot. I like America, and her fiery temper is enough to make me want to root for her, win or no win.

3.5 / 5 stars

(graphic novel) Anya's Ghost by Vera Brosgol


Synopsis:

Anya could really use a friend. But her new BFF isn't kidding about the "Forever" part.

Of all the things Anya expected to find at the bottom of an old well, a new friend was not one of them. Especially not a new friend who’s been dead for a century.

Falling down a well is bad enough, but Anya's normal life might actually be worse. She's embarrassed by her family, self-conscious about her body, and she's pretty much given up on fitting in at school. A new friend—even a ghost—is just what she needs.

Or so she thinks. Spooky, sardonic, and secretly sincere, Anya's Ghost is a wonderfully entertaining debut from author/artist Vera Brosgol.

Review:

To be fair, I did have a ghostly nightmare the night I read this book. But story-wise, it was quite creepy without being over the top. I almost expected it to be a story for children, that Anya in the book is a middle school grader instead of a high schooler, but it deals more with adolescence.

My problem with the book mostly lies in the fact that I don't like all the characters. Anya's not that likable herself, and her so-called friendships are never really resolved. Perhaps it signifies acceptance, but it leaves me wanting more.

The ghost story is OK, and the drawing's quite beautiful, but I wish it's in full color for the full effect.

It has nearly the same cover and design and paper as Smile by Raina Telgemeier, but it's a lot darker and I feel that the story, character development, could've been explored to a more satisfying ending. 

2/5 stars.

Jumat, 06 Juni 2014

First chapter novel SCHOOL: TOMODACHI, terbit Juni 2014

Berikut sneak peek first chapter :) coming soon! Senin ini akan masuk cetak, mudah-mudahan akhir bulan sudah beredar di toko-toko buku ya..





Sakura Pertama di Bulan April

Ah, sakura.

Aku menghentikan langkah dan mendongak, menyaksikan hujan bunga sakura yang perlahan-lahan berderai menyentuh tanah. Kutengadahkan telapak tangan untuk menangkap helai-helainya yang jatuh tertiup angin. Kelopaknya terasa lembut seperti beledu.

Sakura yang mekar pada hari pertama masuk sekolah pasti merupakan pertanda baik; aku percaya itu. Lagi pula, warga Jepang selalu menganggap mekarnya sakura sebagai awal baru–karena itulah tahun sekolah biasanya bermula di bulan keempat setiap tahunnya.

Aku memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Segarnya….

Minggu pertama bulan April merupakan favoritku, saat kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran, dan berjalan kaki di kota terasa seperti berada di tengah padang bunga yang harum. Jalan setapak menuju Katakura Gakuen, sekolah baruku, dinaungi oleh pohon-pohon raksasa berbatang kekar, dengan dahan-dahan yang sarat oleh sakura. Ditambah lagi langit biru amat cerah, dihiasi gumpalan awan putih yang menandakan musim dingin telah resmi berakhir.

Haru, koko ni watashi wa kuru! 

Baru sebentar menikmati suasana pagi yang nyaman ini, seseorang tiba-tiba menabrakku kencang dari belakang. Aku kehilangan keseimbangan, lalu terperosok ke depan; untung saja tak sampai jatuh.
Kubuka mata dengan gusar, tetapi sekelilingku telah sepi, padahal tadi masih banyak murid-murid berseragam yang lalu-lalang di sekitarku. Yang terlihat hanyalah sosok seorang murid laki-laki yang sedang berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan aku baik-baik  saja. Tubuhnya pendek dan kurus, mengenakan seragam hitam yang serupa denganku, tetapi miliknya terlihat kebesaran di badannya. Dia terus berlari, tetapi ketika melihatku terpaku di tempat, dia berbalik dan berteriak lantang ke arahku. “Hoiiii! Kau akan terlambat, baka !” Sedetik kemudian, sosoknya kembali berlari, lalu menghilang di balik gerbang sekolah yang dicat hitam.

Sudah menabrak sembarangan, seenaknya menyebutku bodoh!

Sambil bersungut-sungut, kulirik sekilas jam yang melingkari pergelangan tanganku, lantas terkesiap. Dia benar, sebentar lagi aku akan terlambat! Seolah menimpali ucapannya, dari kejauhan samar-samar terdengar dentang bel sekolah yang bergema, membuatku berderap dengan kecepatan maksimum menuju gerbang yang sebentar lagi akan tertutup rapat. Penjaga sekolah paruh baya yang memegang serenceng kunci geleng-geleng kepala saat aku melesat masuk.

Kurasa, aku tahu apa yang dipikirkannya. Satu hal itu jugalah yang kugumamkan selagi berlari menuju ruang olahraga tempat upacara penerimaan murid baru akan dilangsungkan.

Dasar Tomomi, baru hari pertama, masa sudah terlambat!

**

Di luar dugaan, upacara penerimaan murid baru berjalan dengan lancar. Yah, kalau kau tak menghitung dua sosok murid terlambat yang terengah-engah muncul di ambang pintu, lalu mengendap-endap masuk ke barisan. Dan, sukses mendapatkan delikan dari seorang guru bermuka garang yang menangkap gerak-gerik kami. Hehehe.

Aku berdiri persis di belakang Sawada Chiyo. Kutarik kepangannya pelan. Dia berbalik, tersenyum lebar begitu melihatku. Chiyo adalah sahabatku sejak sekolah dasar, juga teman sepermainanku semasa chugakko  dulu.

Ini adalah kali pertama aku melihat dia mengenakan seragam barunya, padahal kami berdua membelinya bersama-sama dua minggu lalu. Seifuku–seragam sekolah–Katakura Gakuen  bermodel pelaut dengan kemeja putih dan rok lipit berwarna hitam untuk para perempuan, dan kemeja putih polos serta celana panjang hitam untuk para laki-laki. Kemeja murid perempuan memiliki kerah lebar berwarna gelap dengan garis putih, dan lipatan lengannya dihiasi motif yang sama. Secarik selendang dililitkan di balik kerah untuk membentuk dasi, dikaitkan dengan sebentuk emblem perak yang berukir nama sekolah kami. Menjelang musim semi, kami semua mengenakan seifuku berlengan pendek walau cuaca yang masih agak sejuk membuat para murid perempuan memakai kaus kaki panjang maupun blazer hitam bersama  seragam mereka. Aku sangat menyukai seifuku baruku–terlihat dewasa, dan yang terpenting nyaman sehingga aku mudah bergerak saat mengenakannya.

Di antara teman-teman sekelas kami yang dulu, hanya aku dan Chiyo yang masuk ke sekolah ini. Kebanyakan di antara mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan di sekolah lama, atau masuk sekolah privat yang lebih berprestise. Untuk Chiyo, alasannya mendaftar ke Katakura Gakuen adalah karena aku juga mengirimkan aplikasi ke sini. Sementara bagiku, alasannya sedikit lebih rumit dari itu.

Katakura Gakuen adalah satu dari sejumlah sekolah menengah di Hachiōji, sebuah kota besar di regional Kantō, yang berjarak empat puluh kilometer ke arah barat dari pusat Tokyo. Aku telah tinggal di sini seumur hidupku–sebuah kota yang menurutku unik, karena merupakan gabungan dari kota modern berpopulasi tinggi dan area rural yang masih tak terjamah. Hachiōji dikelilingi oleh Gunung Takao dan Gunung Jinba, tetapi juga memiliki area perbelanjaan dan kehidupan kota yang hidup sehingga sering kali menjadi destinasi favorit para turis.

Katakura Gakuen dikenal sebagai salah satu sekolah publik terbaik di Hachiōji. Ujian masuknya susah bukan main, dan bagi murid sepertiku yang harus mati-matian mempertahankan nilai di atas rata-rata, perjuangan masuk sekolah ini cukup besar. Kalau teringat masa-masa kami belajar untuk ujian masuk, mengisi lembar demi lembar kertas latihan ujian, membeli omamori  kelulusan untuk keberuntungan… bisa masuk ke sekolah ini adalah sebuah keajaiban. Pokoknya, aku sangat senang saat menemukan nomor pelajarku tertera di papan pengumuman penerimaan murid.

Sekolah ini pun jauh berbeda dari sekolah kami yang dulu. Di sini, ada aura serius yang sangat terasa, mungkin dari cara para muridnya berseragam dan berbaris, tanpa cela dan tanpa melenceng sejengkal pun. Tenaga kerjanya juga terlihat profesional; guru-guru yang bertampang serius dan berbaris di balik podium, di belakang kepala sekolah yang sedang memberikan ucapan selamat datang.

Gedung sekolah baruku tinggi dan luas, terdiri dari bangunan-bangunan bercat putih bersih yang didirikan bersebelahan, mengapit kebun asri yang luas. Lapangan tenis, sepak bola, dan atletik dibangun di bagian belakang gedung, lengkap dengan ruang olahraga indoor untuk basket dan renang. Dibanding sekolah lamaku yang sempit dan tua, tempat ini memberikan kesan yang sama sekali berbeda.
Namun, alasanku masuk ke sini bukan itu.

Kulemparkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sosok yang menjadi alasan utamaku masuk ke Katakura Gakuen. Dia yang selama tiga tahun belakangan selalu menghuni pikiranku. Dia tak terlihat. Aku kecewa, tetapi berusaha menghibur diri. Mungkin aku akan bertemu dengannya saat istirahat makan siang nanti.

Pandangan mataku berhenti pada barisan murid laki-laki. Anak yang tadi menabrakku ada di barisan paling belakang. Celananya kepanjangan, dasinya tidak  terpasang dengan rapi, dan ada noda lumpur di ujung sepatu hitamnya, sepertinya dia tak sadar. Sudut-sudut bibirnya terangkat, bahkan saat dia tidak sedang tersenyum sekali pun. Alisnya tebal, hampir bertaut, tetapi bukannya memberikan kesan garang, justru ada sesuatu tentang dirinya yang membuatnya terlihat ceria. Kulitnya kecokelatan, tampaknya sering terkena sinar matahari. Pandangan matanya tajam, dan hidungnya agak bengkok, seperti pernah patah dan tidak sembuh dengan baik. Entah mengapa aku jadi memperhatikannya sedemikian rupa. Namun, memang ada sesuatu tentang dia yang bagaikan magnet, membuat orang sulit mengalihkan tatapan darinya. Kurasa, kalau diamati baik-baik, dia lumayan juga.

Sebelum sempat aku mengalihkan pandangan, dia menoleh dan menangkapku sedang mengamati dirinya. Bukannya memalingkan wajah, dia justru menjulurkan lidah dan menjulingkan mata dengan ekspresi dibuat-buat, kemudian menyeringai dan kembali memandang ke depan seolah-olah kejadian barusan tidak terjadi. Uh, dasar! Apa sih, maunya anak itu? Kutarik kembali pujianku barusan. Dia benar-benar menyebalkan.

Namun, bukan Tomomi namanya kalau menyerah begitu saja. Bertekad membalas perbuatannya, aku berusaha mencuri perhatiannya dengan mengibaskan tangan. Ketika akhirnya dia menoleh ke arahku, aku lekas-lekas memutar mata dan mengerucutkan bibir, memberikan ekspresi anehku yang paling konyol. Nah, memangnya hanya kau yang bisa?

“Hei, murid yang di sana! Apa yang sedang kau lakukan?”

Suara kepala sekolah yang dua kali lebih keras akibat efek mikrofon membuatku berhenti. Aku celingak-celinguk ke kanan kiri, mencari murid yang barusan ditegur di depan umum. Tapi, semua orang… kok, menatap aneh ke arahku, ya?

Wajahku merona ketika menyadari yang dimaksud kepala sekolah adalah aku.

Samar-samar, kudengar tawa anak itu membahana, diikuti dengan gelak murid-murid lain yang menertawakan kekonyolanku.

**