Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Kamis, 18 Desember 2014

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku

Hari ini saya ingin berbagi tentang behind the scene sebuah naskah berkembang menjadi buku yang dipajang di toko-toko dan dijual.

image taken from docstoc.com

Di sini saya hanya berniat sharing pengalaman saya sejauh ini tentang behind the scene buku-buku saya. Buku, penulis dan penerbit yang berbeda tentu memiliki proses yang lain pula, dan kebijakan yang diterapkan tidak selalu sama. Ini juga berlaku bagi saya yang menerbitkan naskah lewat penerbit, bukan self publishing alias menerbitkan buku sendiri.

Pertama-tama, naskah selesai ditulis. And then what? 

Biasanya, saya mengirimkan naskah tersebut ke editor yang selama ini sudah menangani buku-buku saya. Jika penulis baru, biasanya mengirimkan printout naskah ke alamat redaksi, ditujukan ke redaksi untuk dibaca dan difilter, apakah naskahnya akan diterbitkan atau dikembalikan.

Pada umumnya, sang editor akan mengabari bahwa naskah sudah diterima dan sedang dibaca. Barulah selang beberapa bulan kemudian, editor akan mengabari 'nasib' sang naskah. Ada tiga pilihan di sini: ditolak, butuh revisi, atau siap jalan. Ditolak berarti naskah tidak akan diproses menjadi buku untuk diterbitkan di penerbit tersebut. Siap jalan berarti naskah siap langsung diproses menjadi buku dan mengikuti berbagai prosedur di penerbit. Seringnya, naskah masuk ke status butuh revisi. Ini berarti, editor akan berkomunikasi dengan penulis tentang berbagai revisi yang dirasa perlu agar naskah lebih maksimal. Misal, dialognya kurang interaktif. Plot ini kayaknya nggak perlu, deh. Ada inkonsistensi di bagian ini, coba diperbaiki. Karakternya kurang berkembang. Dan masih banyak lagi, tergantung naskah tersebut. Nantinya, editor akan memberikan tenggat waktu untuk revisi ini sampai harus dikembalikan lagi ke editor, dan prosesnya terus berlangsung sampai editor merasa naskah sudah oke.

Nah, tahap oke ini adalah yang paling dinanti penulis. Artinya, naskahnya sudah matang dan siap menjalani tahap berikutnya, yakni masuk ke dapur penerbit. Saya pribadi tidak bisa mengaku ahli karena saya bukanlah 'orang dapur' langsung, tapi kurang lebih prosesnya begini:

- Penerbit melakukan rapat internal untuk menentukan jadwal terbit untuk naskah-naskah yang ada. Naskah kita akan diterbitkan sesuai kebijakan penerbit, biasanya pada jadwal yang sesuai dengan berbagai faktor seperti tema promosi, timing yang pas dengan tanggal-tanggal penting atau hari besar tertentu, jangka waktu buku-buku dari penulis yang sama terbit (biar tidak terlalu mepet juga tidak terlalu jauh selisih waktunya), dan lain-lain.

- Tim redaksi akan melakukan editing dan proofreading sembari membuat layout dan kover/sampul buku. Editing dan proofreading dilakukan berkali-kali agar kualitas naskah maksimal, dan bagian estetika juga dipertimbangkan lewat layout serta kover yang cantik, mewakili cerita serta ciri khas penerbit. Di sini, saya membayangkan ada jadwal serta persiapan lainnya yang dibicarakan dengan pihak percetakan dan distribusi, juga tim promosi. 

- Setelah naskah selesai diproofread dan sudah memiliki layout serta pilihan alternatif kover, editor akan menghubungi penulis agar kembali membaca dan melihat hasil akhir sebelum dicetak. Biasanya, saya akan membaca kembali naskah tersebut dua kali, dan mengirimkan surel ke editor untuk menandai bagian yang mungkin membutuhkan koreksi, misal ejaan. Editor dan penulis bekerja sama untuk memastikan naskahnya bebas typo, dan semuanya konsisten. Untuk kover, saya ikut voting alternatif kover yang sekiranya tepat untuk si buku, namun pada akhirnya sepenuhnya menjadi hak penerbit untuk memilih. Kenapa? Karena penerbitlah yang paling memahami pasar dan tren, dan mewakili penulis untuk mempersiapkan yang terbaik bagi bukunya.

- Penulis menandatangani surat persetujuan cetak, kontrak buku, dan administrasi lainnya. Menyetujui dan ikut memberi saran dalam penulisan sinopsis/blurb. Menulis ucapan terima kasih, mengirimkan foto dan biodata penulis untuk kover belakang buku.

Lalu, menunggu. Biasanya, setelah tahap terakhir selesai, akan ada jeda sebulan sampai buku selesai dicetak, dan siap dijual di toko buku. Membutuhkan waktu untuk mencetak ribuan sampai puluhan ribu eksemplar buku, belum lagi proses distribusi ke seluruh toko-toko buku Nusantara. Sambil menunggu, tim promosi dan penulis bisa mengobrolkan kegiatan-kegiatan untuk memasarkan bukunya dengan maksimal.

Terkesan sederhana, namun sebenarnya rumit. Saya yakin banyak yang terlewat dari langkah-langkah yang saya tulis di atas, yang mungkin bisa diisi oleh pihak-pihak terkait yang lebih berpengalaman. Tapi, begitulah kurang lebih yang saya lewati. Proses naskah menjadi buku tergantung dari seberapa lama kita merevisi, dan banyak faktor lain. Biasanya, bagi saya memakan waktu kurang lebih enam sampai dua belas bulan.

Bayangkan satu naskah yang mengalami prosedur sedemikian banyaknya, dan kalikan dengan jumlah buku yang harus terbit dalam sebulan. Atau, ratusan buku dalam setahun, atau ratusan naskah yang menumpuk di meja editor. Wow.

Oleh karena itu, setiap buku bukanlah hasil kerja solo seorang penulis saja. Begitu banyak orang yang terlibat di dalamnya untuk menjadikan mimpi itu terwujud, begitu banyak yang berusaha keras agar satu buku bisa terpajang di etalase toko dan siap dibawa pulang oleh pembaca.

So here's to everyone involved - setiap orang dalam perannya adalah penting, dan terima kasih banyak, karena tanpa kalian, naskah hanya akan menjadi seonggok hasil cetakan printer dalam kertas polos.

Rabu, 17 Desember 2014

Suka Duka Menjadi Penulis

Setiap tahun, saya selalu menulis resolusi tahunan, membuat sedikit kilas balik dan bersiap menyongsong tahun depan. Bukan introspeksi serius, memang, dan kadang kala, saya akui resolusi yang saya buat tidak selalu terlaksana seluruhnya. Dan akhir-akhir ini, saya justru mengabaikan resolusi, dan hanya fokus pada hal-hal yang saya antisipasi di masa depan.

Tahun ini, saya tidak akan membuat resolusi muluk-muluk. Sebaliknya, saya akan menapak balik pada gundukan masa lalu yang menciptakan jalan menuju masa kini. Ini terinspirasi oleh sebuah pesan singkat yang masuk dalam inbox Facebook saya semalam, dari seorang pembaca di Bali, yang bertanya apa suka duka saya sebagai seorang penulis selama ini.

Jujur, pertanyaan itu awalnya tidak terlalu saya renungkan, karena menjawab suka dan duka selama perjalanan ini tidak dapat dirangkum dengan mudah. Namun kemudian, saya kembali berpikir tentang awal saya menulis. Rupanya, saya telah mulai aktif menulis sejak 2007, dan tahun ini merupakan tahun ketujuh saya meminjam istilah 'penulis' dalam resume hidup saya.

Saya bukan seorang penulis full time. Sebelum menjadi penulis, saya memiliki banyak peran lain - seorang anak, seorang karyawan penuh waktu, seorang jurnalis paruh waktu, seorang wirausahawati. Tahun lalu, saya mengambil peran seorang istri, dan tahun depan, seorang ibu. Saya juga sempat menjajali proofreading, dan banyak peran-peran kecil lain di luar penulis. Tapi, entah kenapa menjelma menjadi penulis adalah salah satu hal yang paling mendarahdaging dalam perjalanan karir profesional saya sejauh ini. Ya, meskipun tidak menulis sepanjang hari. Meskipun dalam setahun kadang saya tidak menelurkan karya. Walau blog ini bisa saja kosong selama sebulan penuh.

Suka duka menulis, tentu banyak. Entah bagaimana saya harus mendeskripsikan rasa, karena rasa itu rumit dan subjektif. Yang saya tahu, saya menyukai perasaan pada kala kata-kata bagaikan muncul begitu saja lewat tarian jemari pada keyboard laptop. Saya menyukai bagaimana karakter-karakter saya dengan sabar menuntun saya menuju cerita mereka, masuk ke dalamnya dan bermain di sana, sampai saatnya saya pergi. Saya menyukai rasa lega sekaligus puas yang menyusup begitu hari berakhir dengan beberapa ribu kata terketik rapi dalam file di komputer. Dan ketika naskah berubah menjadi buku, ketika kerjasama dengan editor, penata layout, pembuat kover dan proofreader menghasilkan sesuatu yang fisik dan dapat dibaca oleh orang lain, rasa itu menjadi lebih sulit untuk diterjemahkan. Pada saat-saat seperti ini, kebahagiaan yang dirasakan rasanya lebih besar dari harta materi yang bersanding dengan keberhasilan sebuah buku.

Duka - tentu saja setiap penulis memiliki porsinya akan duka, begitu pula dengan saya. Duka sederhana seperti membaca resensi buruk dari seorang pembaca yang tidak menyukai karya saya, misalnya, meskipun dalam tahun-tahun ini, saya telah belajar bahwa karya dan selera adalah subjektif - either you like it or you don't, and either way it's alright. Surat-surat penolakan naskah yang saya kumpulkan dalam folder khusus. Berbagai kesalahpahaman dari orang-orang yang belum mengerti bahwa sebuah karya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Buku-buku yang flop di pasaran dan menghilang begitu saja.

Namun, duka-duka itu rasanya kecil jika dibandingkan dengan perasaan kosong saat berhadapan dengan kursor yang berkedip dan tak bergerak di layar komputer. Bulan-bulan tanpa inspirasi, sedangkan adrenalin untuk menulis sudah terpacu. Keinginan menulis yang tak terpenuhi karena waktu yang terbatas, atau ide yang tak kunjung datang. Bagi saya, duka terbesar sebagai seorang penulis adalah ketidakmampuan untuk menulis.

Di luar itu semua, dengan pertimbangan pro dan kontra dalam menulis, jika harus memilih, apakah saya akan membuat pilihan yang sama? Ya, without a second thought. Walaupun menulis mungkin memakan setiap detik yang tersisa dalam jatah istirahat saya, meskipun menulis mungkin membuat saya begitu lelah saat selesai melakukannya dan tanpa sadar telah menghabiskan sepanjang malam... I'd pick being a writer every day of my life.

Dan itulah resolusi saya tahun depan. Dan saya harap, untuk tahun-tahun selanjutnya juga.

Minggu, 30 November 2014

Sneak Peek novel baru: Happily Ever After

Halo semuanya, Desember ini datang dengan kabar baik, novel terbaruku Happily Ever After akan terbit.
Launch resminya tanggal 13 Desember 2014 di Kumpul Penulis Pembaca Gagas Media, dan masuk ke toko buku menyusul, tergantung distribusi ke toko buku di masing-masing kota.
Berikut aku share kover, sinopsis dan sneak peek isi novelnya.


Sinopsis

Tak ada yang kekal di dunia ini.Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.

Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.

Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongen sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.

Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan ...

Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.

Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.


Sneak Peek

“Ada suatu tempat yang mau kutunjukkan,” katanya. “Ayo.”

Aku mengikutinya ke sebuah koridor yang menjembatani gedung pertama dan gedung kedua, melewati kafeteria yang kosong dan aula yang dipadati dengan kursi-kursi aluminium yang tak satu pun melenceng dari tempatnya, lalu berhenti di depan sebuah pintu.
Eli menarik napas dalam-dalam, kemudian memantapkan genggamannya pada gagang pintu, dan menekannya hingga terbuka. Pintu itu tak terkunci.

“Selamat datang di rumah keduaku.”

Rumah keduanya adalah sebuah kolam renang dengan ukuran Olimpiade. Air jernih, lantai keramik berwarna biru, aroma klorin. Langit-langitnya setinggi dua lantai, dengan jendela kaca besar di lantai dua, sehingga setiap orang yang melintas dapat melihat jelas ke dalam. Jelas terlihat kolam renang itu seringkali dijadikan stadium untuk pertandingan. Instalasi lampu sorot terpasang di beberapa sudut pada langit-langit. Garis-garis biru tua membagi area kolam renang, mengindikasikan garis batas setiap perenang. Kursi-kursi panjang untuk penonton berjejer di tepi kolam, dengan koridor yang sepertinya mengarah ke loker dan ruang ganti.

Singkat kata, ini luar biasa.

Eli terlihat nyaman di sini, dalam teritorinya. Dia mengenal setiap sudut, mengetahui area-area licin yang perlu dihindari. Tanpa kata-kata, dia menggandeng tanganku dan membimbingku menuju tepi kolam. Aku menyaksikannya menggulung ujung celana, kemudian melakukan hal yang sama.

Kami duduk di pinggir, bertelanjang kaki, membiarkan air yang dingin meriak sebatas lutut. Eli menerangkan ini itu mengenai renang, menggunakan berbagai terminologi yang tak kupahami. Tapi menyenangkan melihat dia begitu bersemangat menceritakan sesuatu yang jelas merupakan hal yang dicintainya, lebih dari apa pun.

“Setiap kali marah, sedih, kesal… air adalah pelarianku. Kalau berada di dalam air, rasanya setiap masalah pasti memudar begitu aja. Kata Mama, waktu kecil, setiap kali masuk bak mandi, yang kulakukan adalah menepak-nepak air, seperti mau berenang.” Dia tersenyum mengenang ingatan masa kecil tersebut. “Akhirnya, waktu SD Mama mendaftarkanku masuk kelas renang, bersama dengan Mel. Sejak saat itu, aku nggak pernah lepas dari air.”

Menurut Eli, jadwalnya sangat padat; setiap Selasa dan Sabtu subuh, drill dan warmup, disusul 8x50 meter sesi gaya punggung, 8x45 meter sesi gaya kupu-kupu, diselingi 180 meter kombinasi gaya, total 2500 meter. Rabu dan Jumat diisi dengan resistance training dan stretching. Kamis siang latihankick, drill, pull, disertai renang gaya bebas.

“Kami latihan berjam-jam tiap harinya,” terang Eli. “Pelatih kami – Coach Andrews – didatangkan khusus dari Amerika. Anggota timnya seringkali menang minimal medali perak di Olimpiade. Walau kadang terlintas rasa capek, kami berlatih untuk nggak ngerasain itu. Buat kami, capek cuma kondisi tubuh, sedangkan kondisi otak dan pikiran harus selalu prima, terlatih untuk menang. Untuk tim kami, hanya ada satu tujuan yang harus jadi fokus.”
Dengan suara yang lebih lirih, ia menambahkan, “dan buat aku, inilah seluruh hidupku.”

Air ini, sama seperti arti kayu dan pondasi untuk Ayah, adalah segalanya bagi Eli. Mereka harus merelakan hal yang paling mereka sukai untuk melawan sesuatu yang lain, untuk bertahan hidup. Hal-hal yang berharga terenggut begitu saja, tak peduli berapa tahun, darah dan keringat yang telah diteteskan.

“Dua bulan, Lu. Cuma butuh dua bulan, sampai kandidat peserta Olimpiade terpilih, dan training intensif dimulai. Selangkah lagi, aku udah begitu dekat dengan tujuan. Tapi, mungkin hidup punya rencana yang lain buat aku. Buat kita semua.”

“Kamu pernah nyesel, nggak?”

Dia menampung air dengan tangkupan tangannya, perlahan-lahan membiarkan air mengalir turun. “Marah, tentu aja pernah. Kecewa, putus asa, juga pernah. Pertama kali didiagnosa, aku nggak mau makan selama seminggu. Di awal-awal kemoterapi pun, aku sempat depresi berat. Mama sampai nangis karena udah nggak bisa bujuk aku. Kubilang, buat apa makan, kalau toh akhirnya nanti bakalan mati juga? Mendingan mati sekarang daripada nunggu-nunggu lagi. Tapi Mia bikin aku sadar, itu bukan perkataan yang pantes buat diucapin ke orang yang sayang sama kita. Mereka selalu percaya dan punya harapan aku akan sembuh. Lalu, kenapa aku nggak bisa berbagi harapan yang sama? Kenapa harus menyerah sama keadaan?”

“Maaf, Eli.”

Eli menatapku bingung. “Maaf buat apa?”

“Karena aku nggak pernah coba untuk melihat segala sesuatu dari sisi pandang kamu. Selagi kamu menghadapi kemoterapi, radioterapi, dan rasa sakit, aku malah sibuk mikirin ujian mendadak, PR yang belum kelar, hal-hal nggak penting kayak gitu. Aku merasa, aku belum jadi teman yang cukup baik buat kamu.”

Dia terkekeh. “Setiap orang pasti punya masalah masing-masing, begitu juga kamu. Ayahmu, Karin, Ezra, orang-orang yang ngeganggu kamu di sekolah…”

Aku baru saja ingin menyela, tapi Eli langsung membungkamnya.

“Aku sering lihat buku pelajaran kamu yang dicoret-coret, Lu. Tas kamu yang kadang basah. Barang-barang kamu yang rusak. Gelagat kamu kalau ngomongin sekolah. Aku pengin kamu tahu, kamu bisa cerita apa aja sama aku. Nggak perlu ada yang ditutupin, sesulit apa pun itu.”

Awalnya, hal itu bermula dari teman-teman sekelas yang berkelompok menjauhiku. Kemudian, ungkapan-ungkapan verbal itu dimulai. Penyihir, goth, Lucifer. Aku sempat berpikir, mengubah penampilanku mungkin akan membuat mereka menyukaiku, maka aku pun berusaha tampil senormal mungkin, seperti mereka. Tapi cemooh itu tak pernah berhenti.

Lama-kelamaan, cercaan berubah menjadi dorongan. Dorongan berkembang menjadi jengkatan kaki saat aku tak melihat, barang-barang yang dirusak, telur busuk atau jasad binatang yang ditinggalkan dalam tas. Dan ketika Karin menjadi salah satu dari mereka, kupikir segala sesuatunya akan membaik – tetapi, yang terjadi justru sebaliknya.

“Pertama kali Bunda nemuin coretan-coretan itu di buku sekolahku, beliau langsung menghubungi kepala sekolah.” Untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku yang pendiam marah besar karena sesuatu. Orang-orang yang sayang sama kamu akan melakukan apa saja untuk melindungi kamu, itu ucap Ayah saat itu.

Untuk sementara, hari-hariku berubah tenang. Kepala sekolah dan guru-guru telah diperingatkan, organisasi sekolah membentuk kampanye anti-penindasan, tapi semua itu tak bertahan lama. Bahkan, kedua orang tuaku sempat berpikir untuk mendaftarkanku ke SMP yang berbeda, tapi…
“Aku sadar kalau di lingkungan mana pun, kita akan selalu ketemu dengan orang-orang yang berbeda. Mereka bisa suka, atau benci sama kita.”

Pindah sekolah mungkin merupakan salah satu solusi, tapi buatku melarikan diri tak pernah menyelesaikan apa-apa. Lagipula, biaya sekolahku bukan angka yang kecil. Apalagi sekarang, dengan timbulnya pengeluaran untuk pengobatan dan perawatan Ayah, kami sekeluarga perlu mengencangkan ikat pinggang. Saat itulah aku memutuskan, apa pun yang mereka lakukan dan katakan tidak akan dapat mengubahku. Aku ingin menjadi diriku sendiri, dan untuk itu aku tak memerlukan ijin mereka.

Eli memandangku lekat-lekat. “Kadang aku kagum sama kamu, Lu. Kamu kayak prajurit perang, maju terus meskipun nggak punya senjata lengkap.”

Aku tertawa mendengar metaforanya. “Kamu sendiri, maju terus walau nggak tahu bakalan menang atau kalah, kan?” Bukannya itu yang justru luar biasa?

“Itu benar, aku memang luar biasa.” Eli menertawakan kelakarnya sendiri, lalu mulai menciprati air ke arahku dengan kaki kanannya, membuatku membalas, tak mau kalah. Selanjutnya yang kutahu, kami saling menciprati dengan ganas, tanpa ampun, seperti dua anak kecil yang baru pertama kali bermain air.

“Stop! Stop! Nyerah!” Aku mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahku, yang kini basah kuyup. Poniku menjuntai menutupi kening, dan aku yakin maskara hitamku pasti sudah luntur. Tapi aku tak peduli.

Eli terbahak-bahak sambil terus menciprati air. “Besok Coach Andrews pasti mencak-mencak, kolam Olimpiade-nya kayak habis kena angin topan. Aaah, coba aku bisa lihat muka marahnya sekali lagi. Urat-uratnya sampai nongol ke ubun-ubun.”

Seolah ingin membuktikan kerinduannya, Eli bangkit berdiri, berlari kecil ke ruang loker, kemudian kembali dengan mengenakan sepasang celana renang warna biru. Aku melihatnya sebagaimana dirinya sekarang untuk pertama kalinya – kurus, dengan tulang rusuk yang menonjol, lengan dan betis yang tak lagi berotot, wajah tirus yang terlihat lelah. Sekujur lengannya membiru, bekas suntikan obat-obatan yang digunakan untuk melawan tumor di otaknya.

Dia mungkin bukan Eliott Gustira yang dulu, tapi di mataku, dia yang sekarang luar biasa.

**


Senin, 08 September 2014

Mo (bagian 4)

"Aku pengin naik bianglala."

Itulah yang dikatakan Mo pagi ini, ketika kami berjalan menuju halte bus, dia untuk berangkat ke tempat pemotretan untuk iklan perhiasan, aku untuk mengantar portfolio ke kantor seorang calon klien.

"Bianglala?"

"Muter-muter, taman bermain, bulet," jawabnya sekenanya.

"Iya, tahu."

"Pergi, ya?"

Aku menatapnya. Gadis ini punya seribu satu keinginan-keinginan aneh yang tak terduga pada saat-saat ganjil. Baru minggu lalu dia tiba-tiba datang ke tempat kosku untuk makan sepiring martabak Ovomaltine yang harganya delapan puluh ribu sekotak. Sebelumnya dia datang ingin meminjam kaset rock metal yang tak kupunyai, atau tiba-tiba ingin menonton film Titanic untuk kesekian kalinya.

Seperti orang mengidam.

"Kamu lagi hamil, ya?"

Dia melotot. "Hus! Atau mungkin iya, ya. Hamil banyak impian..."

Maka, jadilah kami naik bianglala sore itu.

**

"Naik bianglala sebelum matahari terbenam itu paling bagus," katanya. Hidungnya menempel pada kaca jendela, tak lepas selagi kotak kecil yang mengangkut kami berputar seratus delapan puluh derajat, lambat tetapi mampu membuat hatiku melonjak tak karuan. Aku tak pernah suka ketinggian.

"Bentar lagi kan, taman bermain tutup."

"Justru itu bagusnya. Kita bisa liat keluarga yang berbondong-bondong keluar, setelah puas main seharian. Bikin aku kangen sama masa kecil. Kebahagiaan sederhana itu yang paling indah, ya kan?"

Telapak tangannya menekan kaca, membuatku gugup karena dia terus-menerus bergerak gelisah.

"Kamu nggak menikmati ini semua, ya?" Dia berpaling dan tersenyum lebar kepadaku. "Kurasa kamu bukan orang yang terlalu romantis."

Aku tidak suka berada beberapa kaki di atas tanah, dibawa bergerak naik turun tanpa kepastian kapan semua ini akan berakhir. Tetapi melihat gerak-geriknya yang lucu membuatku sedikit lebih baik.

"Yah, aku orang yang praktis."

"Kalau nggak suka ketinggian, kenapa  kamu setuju?"

Kenapa aku setuju memboncengnya beli martabak malam-malam, kenapa aku setuju mengantri satu jam demi semangkuk soto yang rasanya biasa saja, kenapa aku setuju menggedor kamar tetangga untuk meminjam kaset band metal. Semuanya demi Mo.

"Kurasa, aku rela melakukan banyak hal demi kamu. Kita teman, kan?"

Senyumnya luar biasa cerah waktu itu. Rasanya semua ini sedikit banyak terbayarkan.

**

Ketukan pintu kian keras. Aku membenamkan kepala yang sedari tadi terasa layaknya habis dihantam gada dalam-dalam di bawah bantal.

"Ini aku!" Dia berteriak, membuatku menyingkirkan bantal barang sejenak.

Mo?

"Kamu tahu alamatku dari mana?"

Dia nyengir, melihat kondisiku yang masih berbalutkan kaus tidur dua hari yang lalu, rambut tornado, dan muka merah yang bergantian dengan pucat. Tanpa banyak omong, ditempelkannya punggung lengan pada dahiku, lalu dahinya sendiri, dan kembali ke dahiku.

"Toko buku. Kamu demam."

"Empat puluh derajat Celcius, sudah dua hari."

"Sudah ke dokter?"

Aku menggeleng. Lalu dia menggelengkan kepala juga, saat menemukan strip-strip obat yang setengah termakan di atas meja. Aspirin dan obat flu bercampur menjadi satu.

"Tidur," perintahnya.

Aku tak perlu disuruh dua kali, dan langsung merayap ke balik selimut. "Buku dan komik ada di sebelah sana. Kau bebas mengacak-acak selama mengembalikannya ke tempat semula."

Dia menggumam tak jelas, dan sebelum aku berpikir lebih jauh tentang kehadiran perempuan pertama dalam kamar kosku selama tiga tahun terakhir ini, aku sudah jatuh tertidur.

**

Aroma harum. Bawang, dan sesuatu yang agak pedas.

Aku membuka mata, dan menangkap siluet seseorang dalam rok midi merah tua, sweter cokelat dan bertelanjang kaki.

Dia belum pergi.

"Mo?"

Mo menoleh, tersenyum riang sembari membawakan dua mangkuk berisi sesuatu yang kental dan harum itu.

"Makanlah."

Di luar sudah gelap. "Kamu nggak pulang?"

Dia menggeleng. "Kamu sakit," jawabnya, seolah itu adalah alasan. Padahal bukan.

"Pulanglah. Sudah malam. Aku baik-baik saja."

Lagi, dia menempelkan tangan di keningku. "Panasnya belum turun, obatmu mungkin nggak cocok. Makanlah yang ini setelah perut terisi."

Di atas meja telah tersaji segelas air hangat dan strip baru berisi obat yang tak kukenal namanya, serta sebotol obat cair yang tampak seperti obat batuk. Entah kapan dia keluar untuk membelinya. Kamar kosku pun tampaknya lebih rapi, berbau lemon ketimbang kaus kotor yang belum sempat dicuci dan menumpuk di balik pintu.

"Bubur?" Aku mengendus dari tempat tidurku. Ketika kulihat isinya, potongan wortel dan kentang tenggelam di dalam kuah kecokelatan yang kental. Aroma yang tadi kucium datang dari bawang bombay yang ditumis nyaris gosong, bercampur dengan potongan daging.

"Orang sakit butuh energi dan makanan enak," katanya, "bukan beras cair nggak bertekstur yang nggak menimbulkan nafsu makan. Beef stew buatanku lumayan, lho. Resepnya sudah ada dalam keluargaku turun-temurun."

Aku mencoba sesendok dengan tentatif. Rasa gurih kaldu sapi yang direbus lama bersama sayuran lumer di lidah. Setelah bermangkuk-mangkuk mi instan dan tidur dengan perut kembung, masakan Mo ini membuatku tak ingin berhenti makan.

"Terima kasih."

Dia hanya tersenyum kecil.

Mengantri soto dan martabak malam-malam. Naik bianglala di sore hari. Dan hari ini, dia telah membayarnya dengan kehadirannya, serta semangkuk beef stew yang membuatku hangat luar dalam.

**


Selasa, 12 Agustus 2014

Garage Sale part 2 (Fragrance, Cosmetics, Accessories)

Part 2 khusus untuk barang-barang parfum, kosmetik, sabun, lotion, dan aksesoris, koleksi pribadi dari pemberian maupun hasil blind-buy.


Ada dua bagian, yang pertama baru, yang kedua sudah pernah terbuka dan dicoba, tapi karena kurang cocok dan dibiarkan saja jadi lebih baik dijual kembali :D

Prosedur pembelian:

Email nama, alamat lengkap, nomor telepon dan judul yang diinginkan ke winna.efendi@gmail.com, subjek Garage Sale. Email akan dibalas dalam 1x24 jam dengan jumlah + ongkos kirim JNE reguler yang perlu ditransfer ke BCA, dan pembayaran ditunggu 1x24 jam setelah email konfirmasi dikirimkan, jika tidak pemesanan dianggap batal ya. Setelah pembayaran, mohon konfirmasi dengan jumlah dan nama pentransfer, dan buku akan dikirim via JNE setiap hari Jumat. Nomor resi akan diemail menyusul.

First come first served, mohon maaf semua hanya ada 1 item dengan kondisi ditulis di bawah setiap foto ya. Semua produk asli sesuai merknya, tidak ada yang palsu. Selamat browsing!

Perfume:


Revlon Charlie White eau de toilette 100ml: fresh, wangi white floral/bunga
Baru, cuma di-spray 1x untuk tes baunya.
Lengkap dengan dus.
Untuk cek review wangi dan testimonial pemakai parfumnya bisa ke fragrantica.com
Rp. 135 000


Hermes Un Jardin Suir Le Nil 20ml (wangi citrus, hangat, dengan sentuhan buah tropis) SOLD
Le Toit 20ml (wangi citrus juga tapi lebih fresh). Baru dan asli, baru semprot 1x untuk tes wanginya.
Rp. 210 000 per botol. Lengkap dengan dus ya.. cocok untuk traveling atau dibawa dalam tas.


Parfum mini 5ml baru baru 1x tetes untuk tes wanginya.
Bvlgari Voile de Jasmine: wangi favorit, powdery dengan jasmine yang elegan Rp. 80 000
Kenzo L'eau Par for Femme: citrus segar dengan aroma lotus flowers Rp. 80 000


Vera Wang Princess 100ml dengan dus asli dari counter
Rp. 400 000
Woody fragrance, ada aroma vanilla dan dark chocolate


Aksesoris

Semua produk aksesoris baru ya..



Sponge curler ini 1 set isi 6pcs, Rp. 35 000 per set
Tinggal masukkan helaian rambut basah ke dalamnya dan digulung, biarkan setengah jam untuk hasil ikal alami


Floral hair band bahan katun Rp. 20 000
Gelang NERD origami warna merah Rp. 30 000 SOLD

Make-Up dan Body Care:


Sleek Eye Dust baru belum pernah dipakai
Warna hijau metalik, seperti eye shadow glitter tapi bentuknya powder jadi tinggal dipakai di kelopak mata yang sudah diolesi primer.


Vegetable soap L'occitane baru masih di-pack
Yang besar Rp. 40 000
Yang kecil Rp. 30 000
Baru


L'occitane Verbena series mini size 1 set isi Shower Gel, Lotion 2 jenis: per set Rp. 60 000 SOLD
L'occitane Shampoo dan Conditioner series: per set Rp. 40 000 SOLD
Enak buat traveling dan lembut dipakai :-)
Baru ya..


Mario Badescu Skin Care series ukuran mini: lotion, shampoo, conditioner per set Rp. 60 000
Baru ya..


Foundation Brush lembut dari Masami Shouko, terkenal dipakai make up artist :)
Rp. 40 000
Baru


Vaseline Men Whitening baru Rp. 10 000
Neril Garnier Hair Tonic Anti Dandruff Shield baru Rp. 45 000


Sally Hansen French Manicure Pen Kit warna Barely There (nude)
Dapat 1 kutek nude, 1 kutek bening, 1 pena untuk bikin garis French Manicure
Yang ini sudah pernah dipakai 1x, kemarin isi nude tumpah jadi isi botol tinggal 3/4 :-)
Harga per set Rp. 40 000 saja


Yang ini juga sudah pernah dites/dipakai beberapa kali:
Laqa & Co Mini Lipstick (harusnya ada 2 lipstik tapi yang 1 patah), jadi sisa 1 warna nude pink lembut Rp. 50 000
The Body Shop BB Cream shade nomor 2: Rp. 50 000
ELF Eye Widener - eyeliner warna putih: Rp. 20 000
Maybelline Liquid Eye Liner: dapat kuas aplikator, 1 jar isi eyeliner, sudah terpakai sedikit: Rp. 50 000

Terima kasih :-)










Senin, 11 Agustus 2014

Garage Sale Part 1 (Books!)

Dear teman-teman semua,

Kali ini mau bikin garage sale lagi, siapa tahu buku-buku ini menemukan rumah baru yang lebih hangat :)
Berikut hanya yang ready stock ya, yang terjual sudah dihapus datanya.

Prosedur pembelian:

Email nama, alamat lengkap, nomor telepon dan judul yang diinginkan ke winna.efendi@gmail.com, subjek Beli Buku. Email akan dibalas dalam 1x24 jam dengan jumlah + ongkos kirim JNE reguler yang perlu ditransfer ke BCA, dan pembayaran ditunggu 1x24 jam setelah email konfirmasi dikirimkan, jika tidak pemesanan dianggap batal ya. Setelah pembayaran, mohon konfirmasi dengan jumlah dan nama pentransfer, dan buku akan dikirim via JNE setiap hari Jumat. Nomor resi akan diemail menyusul.











Berikut daftar, bahasa yang digunakan dalam buku, kondisi dan harga.
Yang nggak disebut berarti bukunya paperback ya.

- Becoming Jane: a collection of Jane Austen quotes, kondisi biasa ada halaman dan kover tertekuk, bahasa Inggris. Rp. 50 000
- The Painted Veil, kondisi halaman dan buku menguning, bahasa Inggris. Rp. 50 000
- Dark Love (Ken Terate), teenlit, kondisi bagus, bahasa Indonesia, Rp. 25 000
- Memilikimu (Sanie B Kuncoro), kondisi baru, bahasa Indonesia, Rp. 35 000 
- Harlequin: Claiming the Cattleman's Heart, kondisi segel, bahasa Indonesia. Rp. 20 000
- Komik Goong 14 (Park So Hee), segel plastik. Rp. 8000
- Harlequin Stealing Home: Cinta yang Terenggut, segel plastik, bahasa Indonesia. Rp. 20 000
- Harlequin: A Wallflower Christmas, segel plastik, bahasa Indonesia. Rp. 20 000
- Harlequin: To Sir Phillip with Love, segel plastik, bahasa Indonesia. Rp. 20 000
- 7 Laws of Happiness, kondisi baik, paperback, bahasa Indonesia. Rp. 30 000
- Big Stone Gap (Adriana Trigiani), kondisi baik, bahasa Inggris. Rp. 40 000
- A Certain Slant of Light (Laura Whitcomb), kondisi menguning, bahasa Inggris, paperback. Rp. 60 000
- A Very Long Engagement, kondisi menguning, paperback,  bahasa Inggris, Rp. 40 000
- Virgin's Lover (Phillipa Greggory), kondisi oke, sedikit menguning,paperback. bahasa Inggris Rp. 40 000
- How the Garcia Girls Lost their Accents,kondisi oke, sedikit menguning,paperback. bahasa Inggris Rp. 40 000
- Dancing After Hours (Andre Dubus), kondisi oke, sedikit menguning,paperback.  bahasa Inggris Rp. 40 000
- Komik I Give My First Love to You nomor 1 dari 12 volume, kondisi bagus Rp. 7 000
- Komik I Give My First Love to You nomor 2 dari 12 volume, kondisi bagus Rp. 7 000
- Komik cantik satuan Lots of Love kondisi bagus Rp. 7000
- Komik cantik satuan Dearest Love kondisi bagus Rp. 7000
- Komik cantik Marry Me, Mary volume 1 kondisi bagus Rp. 7000
- Komik Ibu kondisi terlipat sedikit Rp. 7000
- Komik seri Next to You (Atsuko Namba) volume 6 dan 10, kondisi bagus, per buku Rp. 7000
- Komik seri Arata (Watase Yuu) volume 3, kondisi bagus, Rp. 7000
- Komik Mysterious You volume 1, baru, Rp. 7000
- Komik Love Search 1-2, baru, per buku Rp. 7000
- Komik Kurogane's Love Lesson volume 1, Rp. 7000, baru
- Komik satuan Unrequited Love in Fukuoka, Rp. 7000
- Kami Berani Melawan Kanker, baru, Rp. 35 000
- Marley and Me: kondisi biasa, bahasa Inggris, paperback. Rp. 40 000
- Marjorie Morningstar (Herman Wouk), novel, kondisi biasa, bahasa Inggris, paperback. Rp. 40 000
- Tithe (Holly Black), novel, kondisi biasa, bahasa Inggris, paperback. Rp. 40 000
- The Stepford Wives novel, kondisi biasa, bahasa Inggris, paperback. Rp. 30 000
- Rahasia Bintang, novel, kondisi biasa, bahasa Indonesia, paperback. Rp. 25 000
- Dream Man (Linda Howard), Harlequin, kondisi biasa, bahasa Indonesia, Rp. 25 000
- Living Dead in Dallas (Charlaine Harris), novel, paperback, cracked spine, bahasa Inggris. Rp. 40 000
- Dead Until Dark (Charlaine Harris), novel, paperback, cracked spine, bahasa Inggris. Rp. 40 000
- the Elegance of a Hedgehog (Muriel B), novel, cracked spine, bahasa Inggris.  Rp. 65 000
- Komik Paper Plane (Wataru Yoshizumi), kondisi baru, Rp. 7000
- Komik When the Forgotten Snow Falls, kondisi baru, Rp. 7000
- Reuni Terindah, chicklit, bahasa Indonesia, kondisi baru, Rp. 35 000
- Hanami (Fenny Wong), teenlit, bahasa Indonesia, kondisi baru, Rp. 40 000
- Kala Kali (Windy Ariestanty, Valiant Budi), bahasa Indonesia, kondisi baru, Rp. 40 000
- Ruang Temu, bahasa Indonesia, novel, kondisi baru. Rp. 35 000
- Kitab 13 Jurus Rahasia Vokal, bahasa Indonesia, kondisi baru. Rp. 35 000
- Snow Country (Yasunari Kawabata), paperback, kondisi biasa, bahasa Inggris, novel. Rp. 40 000
- Lex,  paperback, kondisi baru, bahasa Inggris, novel. Rp. 40 000
- Eat Tweet: recipe book,  paperback, kondisi baru, bahasa Inggris, Rp. 50 000
- Why Men Need Sex and Women Need Love, nonfiksi bahasa Indonesia, kondisi terlipat, Rp. 40 000
- Bisnis Pasti Sukses dengan Creative Marketing! nonfiksi bahasa Indonesia, kondisi baru, Rp. 35 000
- Hairless (Ranti Hannah), nonfiksi, baru, bahasa Indonesia. Rp. 30 000
- Buku resep: Iced &Hot Tea, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- 100 Resep Hot Coffee, bahasa Indonesia, Rp. 30 000
- Buku resep: Ice Cream Sundaes, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: 100 Resep Cold Coffee, bahasa Indonesia, Rp. 30 000
- Buku resep: Milkshake, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Minuman Cokelat, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Minuman Jus, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Sajian Mi Populer, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Crepes, Pancake, Waffle, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Steak and Barbeque, bahasa Indonesia. Rp. 15 000
- Buku resep: Japanese Food, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Spaghetti, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Steak, bahasa Indonesia, Rp. 15 000
- Buku resep: Appetizer, bahasa Indonesia. Rp. 15 000
- Buku resep: Pasta, bahasa Indonesia. Rp. 15 000
- Buku resep: Cream Soup, bahasa Indonesia. Rp. 15 000
- Buku resep: Salad, bahasa Indonesia. Rp. 30 000
- Buku resep: Pengusaha Lauk Berbumbu Siap Saji dalam Kemasan. Rp. 15 000

Update buku baru:


Dunia Mara (Sitta Karina) baru paperback bahasa Indonesia Rp. 40 000
What Is Myrrh Anyway, paperback English baru Rp. 85 000
Book Junkies paperback bahasa Indonesia Rp. 20 000
Menanti Cinta paperback bahasa Indonesia Rp. 20 000
The Girl in the Steel Corset paperback English baru Rp. 85 000
The Beekeeper's Apprentice paperback English baru Rp. 85 000
Test Your IQ paperback English baru Rp. 60 000
Story of the Titanic hardcover English baru Rp. 80 000


Insight City Guide VENICE hardcover English Rp. 80 000
Strawberry Calbi (komik baru): Rp. 12 000
Bon Apetit (komik baru): Rp. 12 000
Prince's Game (komik baru): Rp. 12 000
Spring Love Diary (komik baru): Rp. 12 000
Red Haired Snow White (komik baru): Rp. 12 000
Recipes for Sad Women (paperback) baru: Rp. 85 000
Ghost Knight (Cornelia Funke): paperback, English, new: Rp. 60 000 SOLD
Memoirs of a Teenage Amnesiac (Gabrielle Zevin): paperback, English, new: Rp. 85 000



Displaying photo2.jpg
































Thank you :)