Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Kamis, 29 Mei 2008

Sang lelaki

Lelaki itu selalu mengikutiku dengan ekor matanya, dan ketika ia memicing, aku tahu bahwa dia sedang berusaha menilaiku. Ingin menimbang apakah keputusanku ini benar, dan ketika ia menghela nafas aku tahu dia sedang kecewa. Merelakan, namun kecewa.

Dia menemukanku sedang mengetuk-ngetuk pintu kayu rumahnya di tengah hujan lebat sebelum subuh. Dia tidak mengeluh sama sekali, segera membuka pintu yang berderit karena lapuk, dan menarikku ke dalam walau jejakku mengotori lantainya dengan lumpur dan bercak hujan yang sudah bercampur peluh. Dilihatnya perutku yang sudah membesar, dan walau dia mengesah, lelaki itu menghangatkanku di dekat perapian dan memberikan secangkir teh tawar panas kesukaanku. Aku berbaring di kasur sempitnya malam itu, dan dia sendiri tertidur di pojokan di atas kayu keras. Kuperhatikan semalaman suntuk lelaki itu tidak mendengkur, sebuah tanda tidurnya tidak nyenyak.

Dia menerimaku kembali di rumah ini. Membiarkanku memasak, mencuci dan membersihkan, sesuatu yang tidak pandai dilakukan oleh seorang lelaki renta macam dia. Dia menyerahkan bundelan uang kertas kumal untukku berbelanja, juga receh-receh yang ditabungkannya dalam toples kaca untuk keperluan mendadak. Aku tidak reti mengucapkan terima kasih kepadanya, dan dia pun tidak pernah memintanya dan menunggu untuk mendengarkannya.

Tentu saja, keberadaan kami berdua dalam satu rumah tidak bisa dibilang nyaman. Dulu kami pernah tinggal di sana bersama seseorang yang kini sudah meninggal. Kini kami berdua, bertiga jika menghitung janin yang bersarang dalam perutku. Entah hingga kapan kami bisa bertahan hidup seperti ini. Aku pasrah, kapan saja aku siap hengkang seandainya dia memintaku pergi. Tapi aku tahu, dia tidak akan pernah mengusirku. Selalu aku yang beranjak pergi dari sini dengan sekoper penuh barangku, tanpa perintah darinya, hanya egoku yang berontak semau hati.

Entah siapa yang menghangat lebih dulu, tapi kami punya cara tersendiri untuk berkomunikasi. Dia mengelus perutku dan bersenandung sumbang untuk calon bayi di dalam sana. Tidak pernah lagi dia menghujat sang ayah yang konon dianggapnya tidak lebih dari sampah. Aku pun tidak pernah lagi mengungkitnya, bahkan tidak dalam hati. Aku tidak ingin anakku berbagi pikiran kotor yang sama denganku, tidak ingin dia mengetahui seberapa besar dendam yang lama terpendam.

Ketika anakku akan lahir dia adalah orang pertama yang mendengarku merintih kesakitan di kamar mandi. Digedornya pintu dan diteriakkan namaku berulang-ulang. Seandainya aku tidak membuka pintu itu dengan genggaman tangan yang sudah memutih, aku yakin dia pasti akan mendobraknya sampai pecah. Lelaki itu membopongku dengan langkah tertatih. Walau dia terengah mencoba memanggil taksi di luar sana, aku merasa sangat aman dalam pelukannya, teringat pada belasan tahun lalu ketika ia memelukku dengan polah yang sama. Kini sudut-sudut matanya sudah berkerut, lebih karena lelah daripada karena usia, dan bau tubuhnya pun masih sama, sedikit campuran asap, kayu manis dan tembakau.

“Sabar ya, sebentar lagi.”

Lelaki itu masih sempat mengutarakan beberapa patah untuk menenangkanku, tapi terkejut ketika bagian kemejanya basah. Seorang lelaki biasanya menjadi panik ketika melihat seorang wanita menangis, dan dari dulu dia selalu kikuk jika berurusan dengan air mata.

“Sabar ya, sebentar lagi.”

Lelaki itu mengulang perkataannya sekali lagi, dan aku mengangguk. Kami akan baik-baik saja. Dia ada di sini, dan aku akan baik-baik saja.

“Terima kasih, Ayah,” aku mencengkeram bagian lengan kemejanya, dan bayiku memberikan satu tendangan terakhir untuk menandakan bahwa sudah waktunya ia pun bertemu dengan sang lelaki.

**

Tidak ada komentar: