Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Minggu, 20 November 2011

Letting Go

Lagu Adele berputar lewat speaker kecil yang terhubung dengan komputer, suaranya teredam oleh bunyi mesin kopi yang bergetar pelan. Kamu meletakkan sebuah cangkir keramik untuk menampung kopi cair yang menetes turun – cangkir biru, dengan gagang putih; cangkir lamamu, yang tak pernah kubuang bahkan setelah tahun-tahun itu datang dan pergi.

“Kamu tak berubah,” itu katamu ketika kamu menyisihkan sepatumu di depan pintu, menginjakkan kaki di atas lantai parket yang dingin dan menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Bingkai-bingkai kayu yang sama, cat dinding krem yang sama, aroma lemongrass seperti pewangi dalam mobil dan lemari pakaianku, semuanya. Tapi kamu salah – aku bukan lagi orang yang sama. Ketika memberitahukannya kepadamu, kamu tersenyum. “Oh ya?” katamu. “Masihkah kamu mendengarkan CD Secret Garden-mu setiap kali kamu sedih? Masih sering lupa mengambil koran pagi di depan pintu?”

Mungkin itulah caramu menentukan seberapa jauh aku telah berubah. Skala antara satu hingga sepuluh. Hal-hal kecil susah untuk diubah, kamu pernah bilang begitu. Hal-hal kecil seperti caramu menggenggam tanganku, dengan ibu jari memutari pangkal tanganku. Caramu meneliti wajahku untuk setiap mikro-ekspresi yang mungkin kau lewati. Caramu memasukkan sedikit lebih banyak merica setiap kali memasak. Itu adalah sebagian dari hal-hal kecil. Urusan lain, seperti cincin yang kini melingkari jari manismu, itu adalah hal-hal yang lebih besar.

Lalu, kamu menuang sisa kopi ke dalam cangkirku, tak lupa menambahkan sesendok gula merah, seperti kebiasaanku. Ketika menyerahkannya kepadaku, ekspresi di wajahmu adalah kesedihan. “Kopimu, just the way you like it.”

Aku mengambil tempat di atas karpet, dan bersyukur karena kamu tak bergerak dari posisimu di meja makan. Jarak di antara kita terlalu lebar, dan kurasa tidak satu pun dari kita yang berhak merapatkannya.

“Apa kabarmu?”

Aku sudah berlatih untuk adegan ini, adegan di mana kita tak sengaja berpapasan di jalan dan pandangan kita bertemu. Akankah aku memalingkan mata duluan, ataukah kamu yang akan terus berjalan seakan-akan kita tak pernah saling mengenal? Aku memainkannya di kepalaku beratus-ratus kali, meyakinkan diri sendiri bahwa aku akan menatapmu tepat di manik mata dan berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Tapi ternyata, kita berdua sama-sama berhenti. Aku tidak tahu siapa yang duluan tersenyum. Aku ingat, kamulah yang pertama kali menyapa.

Aku tak pernah menyangka kamu akan ada di apartemenku sekarang. Ini di luar skenario. Bagian ini tak pernah hadir dalam versiku, kamu yang duduk dengan cangkir biru tuamu, di dapurku, berbicara denganku. Dalam versiku, kamu adalah bayang-bayang yang menghuni masa laluku, dan aku bertekad tetap mempertahankannya sedemikian rupa.

But I miss you, Ben. Aku kangen berpegangan tangan sembari meluncur sepanjang ring lapangan es, dengan butiran salju meleleh di bahu. Aku rindu berbagi secangkir kopi, berargumen mengenai seberapa banyak gula yang akan kita masukkan ke dalamnya. All those little things, and then the bigger stuffs as well.

We don’t have to change, you know.” Kamu menatapku lagi, aku yang sedang bermonolog dan berusaha melawan suara-suara dalam kepalaku. “Kita tak perlu menjadi orang asing bagi satu sama lain. Kamu adalah Julie, dan aku Ben. Kita saling mengenal, kita punya sejarah, kita adalah kita.”

“Yang kamu lupakan adalah fakta bahwa kita bukan lagi kita. Julie kembali menjadi Julie yang berusaha melupakan Ben, dan Ben.. aku tak tahu seperti apa dia sekarang. I’m not sure I care anymore.

Kamu terlihat terluka oleh pernyataan barusan. Bagian awal ucapanku jujur. Bagian akhirnya.. aku tak yakin apakah itu sepenuhnya benar.

“Julie.” Kamu akhirnya bangkit, meletakkan cangkirmu di atas meja di mana bagian bawahnya menyisakan lingkaran cokelat. “Mungkin lebih baik aku pergi.”

Perkataan itulah yang membuatku kehilangan kontrol, saat itu juga. Aku bangkit, berdiri di hadapanmu dan dengan penuh amarah memukulkan kedua tanganku ke dadamu, walau kamu hampir dua kali ukuranku dan dapat menyorokkanku dengan sekali dorong. Kamu diam saja, menerima pukulan demi pukulan, dan itu hanya membuatku semakin marah. Aku mengumpulkan semua air mata, semua sakit hati, dan setiap keberanianku untuk mengungkapkannya padamu, bahwa kamu selalu memilih untuk pergi saat keadaan tidak sesuai untukmu. Being gone is the only thing you’re good at.

Kemudian kedua tanganmu menggenggam milikku, dan kita berdua saling menatap dengan air mata mengaliri sisi-sisi wajah kita.

Kamu dan aku. Kita berdua, mengulangi apa yang terjadi hari itu. Aku hanya tak tahu apa yang akan kau lakukan selanjutnya.

Kamu tahu, yang perlu kita lakukan bukanlah berubah. Melepaskan. Hanya itu. Dan denganmu di sini, I think it is time.

**

my first short story in months. haven't written any in a while. needs some work and could've used some good editing, but it's all I've got at the moment. inspired by one of the last chapters of Adam and Mia's story in Where She Went.

3 komentar:

nissa mengatakan...

This is so touching. I love the way you write :)

Dayu Ledys mengatakan...

like like like >.<

Winna Efendi mengatakan...

Thank you, nissa dan dayu :)