Welcome!

This is the official blog of Winna Efendi, author of several bestselling Indonesian novels.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Deleted Scenes from Truth or Dare: part 1


Kali ini aku akan share deleted scenes dari novel Truth or Dare sebelum dicetak. Ada beberapa adegan yang akhirnya dibuang karena keterbatasan halaman, atau karena pengulangan dan isinya kurang sesuai untuk keseluruhan novel. Chapter ini kuberi judul Where We Belong, dan dibuang karena awalnya topik SAT (semacam ujian reguler bagi siswa SMA yang ingin mendaftar kuliah) merupakan salah satu bagian integral dari novel Truth or Dare, tapi karena terlalu panjang dan ada perubahan plot, maka dihapus :)

Buat yang belum baca Truth or Dare, mungkin akan ada sedikit spoiler di sini.

Enjoy!

At some point in life the world’s beauty becomes enough.
You don’t need to photograph, paint, or even remember it.
It is enough.
-Toni Morrison-

Aku menggaruk kepala untuk kesekian kalinya, berusaha berkonsentrasi pada selembar kertas penuh kata-kata di hadapanku dan memahami apa artinya. Seperti biasa, kesulitanku membaca membuat segala sesuatunya terasa lebih sulit.

Sejak kecil, aku selalu bermasalah dengan kata-kata; baik yang verbal maupun tertulis. Mom bilang, aku baru mulai berbicara di umur tiga tahun, itu pun terbata-bata dan sering salah ucap. Ketika anak-anak seusiaku mulai belajar membaca dan menulis, aku selalu tertinggal karena tidak mampu mencerna informasi sebaik mereka. Di pertengahan middle school, akhirnya aku didiagnosa dengan disleksia, yaitu semacam penyakit yang berkaitan dengan disfungsi salah satu area dalam otak. Disleksia membuat prosesi otakku lamban; aku sering kesulitan menjawab jika dihadapkan dengan uraian pertanyaan yang rumit, juga membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari bentuk dan lafal kata. Akibatnya, nilai akademisku bisa dibilang jauh dari baik, dan aku sering dicap bodoh atau kurang mampu berkonsentrasi.

Walaupun begitu, aku berusaha sebisaku untuk tidak tertinggal jauh dari teman-teman sekelas. Aku sering tinggal lebih lama di kelas untuk mencatat, atau meminta Cat untuk mengulang bagian-bagian yang belum kumengerti. Tanpanya, mungkin aku akan memegang posisi akhir di kelas, atau lebih parah lagi, kembali tinggal kelas. Ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan dari kembali mengulang pelajaran bersama wajah-wajah baru, sedangkan teman-teman seangkatanku sudah lulus dan hanya akulah yang tertinggal di belakang.

Tahun ini, sebagian besar murid-murid kelas sebelas mengambil SAT, sejenis ujian standar untuk pendaftaran universitas. Ujiannya sendiri terdiri dari tiga bagian – Critical Reading, Mathematics, dan Writing, ketiganya bukan area terbaikku. Aku dan Cat telah mendaftar untuk mengambil ujiannya di bulan Mei, sehingga belakangan ini kami lebih sering menghabiskan waktu luang sepulang sekolah untuk belajar bersama. Kadang-kadang, aku punya perasaan Cat hanya melakukannya demi aku yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, karena aku yakin dia bisa meraih skor tinggi dengan mata tertutup sekali pun. That’s how smart she is. Kalau mau, Cat bisa saja jadi juara pertama di kelas, tapi dia lebih suka mengalihkan tenaganya untuk hal-hal lain yang menurutnya lebih penting.

Sore ini kami kembali berkumpul di rumah Cat, mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan sulit dari buku latihan SAT, ditemani Luna Blu yang menggelung malas di sebelah kakiku.

“Sebuah bank menawarkan 5.3% bunga tabungan per bulan. Seandainya kita menabung lima ratus dolar, berapa jumlah tabungannya setelah empat tahun?”

Tunggu, aku ingat pertanyaan ini, yang membutuhkan pangkat atau semacamnya. Aku mencoret-coret sebuah formula dasar di atas kertas, mencoba menemukan solusinya. Cat menunggu dengan sabar di sebelahku, kertasnya sendiri sudah terisi jawaban yang aku yakin sudah pasti benar. Julian juga dengan tekun ikut menuliskan jawaban yang dipecahkannya tanpa banyak kesulitan. Sebagai murid pertukaran pelajar, sebenarnya dia tidak perlu mengikuti SAT tahun ini. Tapi Julian suka belajar, dan demi cita-citanya masuk Harvard atau kampus-kampus Ivy League sejenis, dia rela menggunakan waktu santainya untuk belajar bersama kami.

500 x 1.053⁴

Aku meneliti jawabanku dengan tak yakin, lalu menatap Cat dan Julian untuk meminta pertolongan. Cat menggeleng, mencoret bagian yang salah dengan pen merahnya sambil menuliskan perhitungan yang benar di sampingnya.

“Sebelumnya, kita harus menyamakan satuan waktu periode menabung dengan periode bunganya,” jelasnya, menunjuk angka-angka di atas kertas. “Jadi formula yang benar adalah, jumlah uang dikali besarnya bunga pangkat empat puluh delapan bulan. Seperti ini.”

500 x 1.053⁴⁸

Huh? Aku berusaha mengerti apa yang dimaksud Cat, tapi otakku sedang tidak bisa diajak bekerjasama. 

Cat sepertinya melihat ekspresi bingungku, karena dia lalu menyingkirkan tumpukan kertas di atas meja seraya bangkit berdiri.

“Sudah, sudah,” katanya. “Kita terlalu lama belajar, otakku sudah hangus terpanggang rasanya. Lebih baik kita break sebentar. Gimana kalau kita makan es krim dulu?”

Aku menghela nafas, lega karena bisa mengambil rehat sejenak sebelum mulai berperang lagi dengan angka dan huruf. “Setuju!”

Great. Sebentar, ya.” Cat menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan aku dan Julian di sana untuk mengambil camilan dari kulkas. Menjelang awal musim panas, Cat biasanya menyetok es krim vanili dan junk food banyak-banyak di kabinet dapurnya. Kadang saking banyaknya, aku sering menemukan sekantung M&M’s yang sudah separuh dimakan di laci meja belajarnya, atau sepotong cokelat yang belum dihabiskan di lemari kamarnya.

Aku suka kamar Cat. Ukurannya tak terlampau luas, hanya sekitar lima belas kaki. Dindingnya dicat putih bersih, dengan satu sisi kosong yang memuat grafiti keren bertuliskan nama Catherine. Grafiti itu dibuatnya saat makeover kamar dua tahun lalu, menggunakan cat biru dan kuning yang kelihatan kontras dan mencolok. Grafiti itu adalah bagian favoritku dari kamar Cat, selain mozaik yang terdiri dari puluhan foto berukuran kecil. Cat selalu menambahkan foto-foto baru ke dalam mozaiknya; yang terbaru adalah fotonya bersama Ethan dan Chase, kedua abang tirinya, fotonya bersama Julian saat spring dance, dan fotoku yang sedang membawa papan bertuliskan charity for community. Di samping kanan didirikan sebuah instalasi berupa rak buku besar, yang memuat novel-novel science fiction favorit Cat dan buku-buku lainnya. Iseng, aku mengulurkan sebelah tangan untuk meraba bagian belakang ensiklopedi milik Cat yang tersusun rapi di sana, dan mendapati sebatang Snickers ukuran mini di baliknya. Aku tersenyum geli – Cat selalu penuh kejutan. Kamarnya penuh ranjau makanan manis; yang perlu kau lakukan hanya lebih jeli mencari.

Samar-samar kudengar Cat sedang berargumen dengan ibunya mengenai pekerjaan rumah, sepertinya belum ada tanda-tanda akan segera kembali. Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatian pada sebongkah kamus raksasa di atas meja, berusaha menghafalkan definisi kata mulai dari kategori huruf A. Menurut Cat, memperluas vocabulary dengan memahami arti kata-kata sulit akan sangat membantu saat mengerjakan bagian Critical Reading nantinya.

Abhor. Membenci.
Adversity. Kesulitan.
Alacrity. Dengan cepat dan antusias.
Arid. Sangat kering.
Assiduous. Tekun dan kerja keras.

Belum sampai lima kata, pandanganku mulai berkunang-kunang dan aku kepayahan mengingat arti dari masing-masing kata. Aku ingat terakhir kali Julian melemparkan pertanyaan-pertanyaan berbau vocabulary, aku kewalahan menjawabnya dan malah membalik-balikkan artinya.

“Hei, Julian. Bantu aku..”

Saat aku menoleh, aku menemukannya sedang terlelap, kedua lengan tertelungkup di atas meja. Beberapa jam berkutat dengan angka sepertinya telah membuatnya kecapekan sampai jatuh tertidur sepulas ini. Topi baseball yang biasa dikenakannya tergeletak di atas lantai, sehingga rambut hitamnya yang cepak mencuat-cuat ke berbagai arah. Kedua matanya terpejam rapat, memperlihatkan kelopak tebal dengan satu tahi lalat di sudut kanan; sebuah detil mengenainya yang tidak aku ketahui sebelumnya. Bibirnya membentuk separuh senyum, menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Entah mengapa, melihatnya seperti ini mengingatkanku akan adik perempuannya Juliet, dan foto mereka berdua yang ditunjukkan Julian waktu itu.

Untuk beberapa saat, aku tak berani bergerak, hanya diam memandangnya seperti ini. Aku takut dengan satu gerakan, satu helaan nafas, dia akan terbangun dan mendapatiku sedang mengamatinya. Aku takut ketika dia bertemu pandang denganku, dia akan dapat membaca emosi yang terpancar bola mataku.
Tapi aku sangat ingin menyentuhnya. Merasakan kehangatan kulitnya, meninggalkan sebuah jejak di sana, walau sangat singkat dan dia tidak akan pernah tahu. Tidak akan ada yang tahu. Aku ingin menyentuhnya dan membiarkan satu momen ini menjadi milikku seorang, tanpa Cat maupun orang lain di dalamnya.

Dengan sangat perlahan, aku memberanikan diri untuk mengulurkan sebelah tanganku, berhenti beberapa inci dari wajahnya. Sedikit lagi, ujung jariku akan menyentuh pipinya. Dengan tangan gemetar, aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanianku untuk membuat kontak fisik.

Dia milik Cat.

Sesuatu melintas dalam pikiran, membuatku mengurungkan niat untuk bertindak lebih jauh. Secepat keinginan itu tiba, secepat itu pula ia padam. Tanganku terkulai, dan aku membiarkannya tetap gemetar di sisi-sisi tubuhku. 

Julian masih tertidur, kini mulai mendengkur halus. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak berhak melakukannya. Ada sebuah lingkaran kasat mata dengan Cat dan Julian di dalamnya, sedangkan aku berdiri di luar. Aku tidak dapat melangkah masuk, karena lingkaran itu tidak diciptakan untukku. Apa pun yang kulakukan, aku akan selalu berada di luar garis – melihat ke dalam.

Melihat dirinya.

**

2 komentar:

tHita mengatakan...

wah,, aku ikutan share ini ya.. ^_^
http://titah8221.blogspot.com/2012/08/book-review-truth-or-dare-by-winna.html

Winna Efendi mengatakan...

thanks for the review!